Cari data di web ini

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified twitterfacebookgoogle plusrss feedemail

Iklan Hubungi (021)27101381


Informasi berita tentang wisata kuliner di seluruh Indonesia - Kontak Redaksi: (021)271.01.381 - (021)606.36235, Hotline: 08787.882.1248 - 081.385.386.583

Jumat, 30 April 2010

WARUNG KIBI-KIBI: Mie Belitong dari Negeri Laskar Pelangi

Dimana Andrea Hirata Cari Kuliner Khas Belitung bila berkunjung ke Bekasi?

Pondok Timur - kelanakuliner.co.cc
Ketika sebuah legenda baru tercipta maka saat itu pulalah segala indera mencari tahu dan mulai mengenali apa bagaimana sang legenda. Ketika seorang Andrea Hirata mengangkat keindahan budaya dan pesona alam Belitung ke mata bangsa ini bahkan dunia, maka banyak orang ingin merasakan sekaligus menikmati sensasi yang dituturkannya dalam ribuan kata indah pada buku mega best sellernya. Secara visual bangsa kita mulai menikmati indahnya panorama alam pulau Belitong dimana Andrea Hirata dibesarkan. Penuturan kisah dalam buku serta visualisasi film Lasykar Pelangi memang begitu memukau indera kita. Kini kelanakuliner ingin pula melengkapi kekayaan khasanah budaya bangsa ini dengan meliput langsung sebuah makanan asli dari negeri Laskar Pelangi, negerinya sang Pemimpi. Kuliner nikmat kali ini adalah Mie Belitong.

Soto Mie khas Belitung yang mempunyai ciri khas lautnya berupa daging udang yang sangat nikmat dan segar. Hmmmmm masalah rasa?  Kelanakuliner menghabiskan satu porsi Mie Belitong hingga tandas tak bersisa kecuali mangkok kosong dan sendoknya yang keras. Hihihi...! Kebayang kan gimana rasanya?

Walau kisah Laskar Pelangi begitu populer difilmkan dan dituliskan dalam bukunya, namun wisata kulinernya belum begitu banyak yang mengenalnya. Mie Belitong, salah satu makanan khas pulau yang seluruh daerahnya adalah wisata pantai itu, memang mirip dengan Soto Mie Bogor, namun dengan potongan udang sebagai pengganti potongan daging sapi. Di dalam sajian semangkok Mie Belitong ada potongan kentang rebus, mie telor, tahu, taoge, telor rebus dan pastinya ciri khas seafoodnya yakni udang rebus yang menggoda selera. Kuah soto yang berkaldu kecoklatan ini biasanya terbuat dari kaldu ayam. Kombinasi rasanya begitu lezat. Serasa kita sedang makan di Tanjung Klayang atau Tanjung Pendam, daerah dimana Laskar Pelangi berawal. (Swear... ane zuzur kagak belebihan!)

"Kami mencoba menyajikannya sama persis dengan kebiasaan orang Belitung, walau dengan bumbu lokal," papar pak Aik sang pemilik warung makan Kibi-Kibi. Warung Kibi-Kibi memang hanya menyajikan makanan khas Belitung (dalam bahasa melayu sering disebut Belitong) seperti Mie Belitong. Namun untuk para pelanggan yang tidak suka atau alergi dengan udang, ia meminta istrinya, yang asli kelahiran Belitung, untuk membuat menu Soto Mie dengan daging sapi. Sebuah akulturasi budaya, perpaduan sajian mie khas Belitung disesuaikan menjadi soto mie Bekasi dengan potongan daging sapi.

"Ketika saya dan keluarga mendiskusikan mau buka usaha warung apa yang sesuai dengan keahlian masak kami. Bila berdagang bakso sudah banyak yang berjualan di lingkungan kami. Akhirnya pilihan adalah khas jajanan daerah istri saya yang asli kelahiran Belitung," ungkap lelaki beranak 2 ini. Dia mengaku bahwa keinginan keluarganya membuka usaha kuliner Mie Belitong juga karena terinspirasi oleh buku dan film Laskar Pelangi. Kelak semua orang di Indonesia bila ingin mengetahui makanan khas Belitung maka mereka pasti akan mencoba Mie Belitong.

Lalu mengapa nama Warung Sederhana di samping sekolah TK Kencana ini Kibi-Kibi yang unik terdengar? "Kibi-Kibi sebenarnya adalah istilah dalam bahasa Jepang yang berarti 'semangat'. Saya ingin agar istri dan keluarga saya tetap semangat mengelola warung makan ini" ungkap Aik, lelaki kelahiran 12 November ini.  lelaki pensiunan karyawan swasta di Excelcom ini mengakui dirinya menginginkan makanan khas Belitung ini bisa naik pamor. Sama halnya seperti buku Laskar Pelangi nya Andrea Hirata. Tampaknya nama belakang sang penulis terkenal itu, Hirata yang terdengar seperti nama orang Jepang telah menginspirasi pak Aik untuk memilih nama Kibi-Kibi. "Walau saya pernah ke luar negeri seperti Australia, Swiss namun belum pernah ke Jepang," jelasnya pensiunan swasta ini sambil mengenang masa kerjanya dulu saat mengikuti diklat manajemen ala Kaizen Jepang.

Saat Andrea Hirata meluncurkan bukunya Laskar Pelangi, kemudian diikuti buku Sang Pemimpi, Edensor dan Maryama Karpov, maka seni budaya serta keindahan pulau Bengkulu yang merupakan satu bagian dari provinsi Babel (Bangka Belitung) semakin mencuat di mata dunia. Bila pulau Bangka terkenal sebagai salah satu kawasan industri terbesar di Asia, maka pulau Belitung kini terkenal dengan keindahan wisatanya. Maka Warung Makan sederhana Kibi-Kibi milik sang istri, bu Aik yang keturunan asli Kelapa Kampit, bermimpi untuk mempopulerkan makanan khas pulau selaksa pantai, Mie Belitong ke masyarakat nusantara.

Anda tertarik mencicipi kelezatan mie udang khas pulau Belitung? Sila kunjungi komplek Perumahan Pondok Timur Indah 2, Blok C No.1 Bekasi Timur atau untuk reservasi Telp di nomor (021) 825.3529 atau HP di 0818.155.303. Karena waktu bukanya sangat terbatas, mulai dari jam 08.00 s/d jam 14.00 siang saja.

Karena sementara waktu ini target antaran dan pelanggan adalah para ibu yang mengantarkan anak-anaknya sekolah di TK KEncana. Namun begitu baik pak Aik maupun istri menyanggupi pesan antar ke wilayah di sekitar Bekasi Timur atau hanya radius terbatas. Lebih dari wilayah yang disanggupi dikenakan minimal pemesanan. Untuk skala besar seperti acara pesta dan resepsi sedikitnya pemesanan untuk 500 porsi dengan harga per porsinya Rp 10.000,-

Sidik Rizal - dobeldobel.co.cc

Rabu, 28 April 2010

Kantin TENDA THE-5 Dirjen LPE & Kantin BPLHD

eKANTIN KEJUJURAN ala KANTORAN Favorit Expatriat

Cassablanca, Kuningan - kelanakuliner.co.cc
Bagaimana menurut Anda bila belanja di satu tempat dan pembayarannya Anda tidak mendapatkan slip pembayaran atau nota bon? Sepertinya kita teringat kembali dengan masa-masa sekolah dulu, dimana kita makan dengan ambil sana comot sini, pembayaran tinggal nyebut bakwan makan 5, es teh manis 1. Biasanya sang pemilik kantin, umumnya ibu-ibu akan menghitung dengan cepat tanpa curiga dan bilang "Lima ribu...!" Padahal mungkin saja kita makannya bakwan lebih dari lima... Hehehehe, itulah masa di sekolah dulu. Kini hal itu masih ada di beberapa sekolah terutama SD dan SMP dan biasa disebut dengan Kantin Kejujuran, seperti yang sedang marak ada di Kota Bekasi.

Tapi bagaimana kalau kantin kejujuran itu adanya di tengah kota metropolitan seperti Jakarta. Apalagi di sebuah perkantoran yang terletak di lingkungan gedung perkantoran cukup mewah. Sekalipun di sebuah perkantoran pemerintahan, namun biasanya sistem belanja atau makan dengan cara alacarte maupun prasmanan pasti menggunakan sistem pembayaran di kasir yang harus dibayar di muka sebelum menikmati hidangan. Ada satu kantin yang bukan saja menerapkan sistem makan bebas dan bayar dengan jujur berapa semua yang dimakan tanpa nota atau slip pemesanan. Kantin itu adalah Kantin The-5 di gedung Dirjen LPE dan Kantin BPLHD.

Kelanakuliner berhasil menemui sang pemilik, Elly, wanita kelahiran Jakarta, 17 Juli ini menuturkan bahwa semenjak dia membuka usaha kantin di gedung Dirjen LPE (Listrik dan Pemberdayaan Energi) bersama suaminya sesaat setelah dia mencoba membuka warung makan di dekat rumahnya. Setelah seorang koleganya mencicipi menu masakannya, sang teman itu menawarkannya untuk membuka kantin di kantornya. Kebetulan sekali kantin di kantornya sudah aktif lagi.

Siapa sangka bila ternyata yang dimaksud dengan kantin di kantor instansi pemerintah tersebut ternyata adalah gudang sekaligus ruang parkir kendaraan kantor. Elly dan suaminya, Suyanto akhirnya membabat alas bekas gudang dan parkir itu menjadi ruang kantin yang layak pakai. Mulai dengan modal duapuluh lima juta untuk membeli peralatan dapur dan kantin, mereka pun memulai usaha kantin ala kadarnya dengan menu nasi rames dan lain-lain di tahun 2005.

Rupanya untung tak langsung bisa diraih. Selama setahun penuh, Ellya dan suami mengalami kerugian yang tak sedikit, Namun sang suami, yang pensiunan karyawan swasta di perusahaan Amerika pada tahun 2004 ini tetap meminta Elly bertahan dan terus mendorongnya melanjutkan usaha kantin mereka. Dan akhirnya usaha kantin ini pun mulai kelihatan buah hasilnya. Hal ini disebabkan bukan saja kerja keras dan ketekunan namun karena faktor harga yang sangat menentukan. Kini di antara beberapa kantin yang ada di dekat mereka, hanya kantin milik merekalah yang paling murah setiap harga sajiannya. Tapi yang lebih unik dari cara berdagang pasangan suami istri yang telah beranak 4 ini adalah konsep kantin kejujuran. Mulai dari pelanggan yang dibiarkan bebas mengambil makanannya sendiri dan membayar apa yang mereka makan tanpa dicatat hingga sistem pelaporan keuangan para pegawainya yang kini telah berjumlah 8 orang itu. Tidak ada satupun yang menggunakan catatan mesin hitung modern, semuanya hanya berdasarkan saling percaya dan kejujuran. Suatu model berdagang yang luar biasa di tengah budaya modern yang kadang penuh dengan intrik seperti di Jakarta sekarang ini.

Ketika ditanya tentang nama kantinnya yang unik The - 5, sang wanita berjilbab yang kini anaknya telah duduk di bangku kuliah ini menyatakan, "Nama The-5 (baca = De-Lima) datangnya dari seorang teman sekolah, Budi Setiawan, di SMA 44 yang pada saat itu sedang berkunjung ke rumah untuk mengadakan acara reunian sekolah. Budi hendak mendirikan sebuah event-organizer yang membutuhkan orang-orang yang dia kenal terutama dari teman-teman sekolahnya dan kebetulan berjumlah 5 orang."

Dari nama event organizer inilah, Elly melihat The-5 cukup bagus untuk nama kantinnya. Satu kebetulan, dirinya dengan suami tinggal di jalan Delima, Perumnas Klender. Maka jadilah The-5 sebagai nama kantinnya.

KANTIN MURAH YANG JUAL SINGKONG FLA FAVORIT PELANGGAN PEREMPUAN

Lalu apa sih sajian unik serta unggulan yang ada di kantin The-5? Kalau bisa direkomendasi sepertinya kelanakuliner memilih Sop Kimlo dan Sop Iga khas ala Kantin The-5 (semula terbaca kantin THE'S saat kelana kuliner pertama melihat tulisan di kaca etalase makanannya). Sedangkan untuk makanan ringannya salah satunya adalah Singkong Fla (ada yang menyebutnya Singkong Thailand). Sepertinya bisa direkomendasi sebagai camilan (apetizer) pilihan kelanakuliner, karena sajian ini termasuk yang paling diminati para pelanggannya terutama para wanita.

"Meskipun begitu, ada juga bapak-bapak yang memesan Singkong Fla ini," papar Elly. Dengan hanya merogoh Rp 5.000,- kita bisa menikmati dua potong singkong rebus yang disiram dengan fla susu. Hmmm masalah rasa, silakan Anda coba sendiri di kedua kantin di atas.

"Untuk Sop Iga Sapi kami, sepertinya masih yang paling murah dibandingkan dengan harga sajian sejenis yang ada di sekitar perkantoran ini," imbuh Elly dan diiyakan oleh suaminya. Hanya dengan Rp 15.000,- kita bisa mendapatkan seporsi Sop Iga dan nasi. Bila ditambah dengan es jeruk, maka paling mahal hanya Rp 20.000,- Kalau sudah begini siapa yang bisa bantah bahwa kantin ini paling murah serta paling laku dibandingkan dengan yang lainnya.

Bagaimana dengan Sop Kimlonya (sebagian orang ada yang menyebutnya Sop Timlo). Sajian khas Jawa Tengah yang terdiri sayur-sayuran, udang dan jamur serta potongan tahu berkuah sop ini, termasuk sajian sedap dan nikmat disantap saat panas bersama nasi putih.

"Biar begitu," jelas Yanto, lelaki kelahiran 10 September ini, "Menu yang kami sajikan selalu diputar agar para pelanggan tidak bosan". Hal iini dimungkinkan karena kebanyakan dari para pelanggannya adalah karyawan di sekitar kantor. Jadi tidaklah aneh bila Anda berkunjung ke kantin ini, sering sekali dikunjungi ekspatriat atau konsultan asing yang bekerja di instansi pemerintah. Rupanya menu yang disajikan kantin ini terutama yang berlokasi di Dirjen LPE pas dengan selera barat mereka. Para ekspatriat yang biasanya datang dari Itali, Australia, Inggris bahkan dari Jepang pun sangat menyukai makan siang di kantin The-5. Beberapa dari mereka sempat kelanakuliner tanyakan tentang makan siang mereka di kantin ini. Namun karena makan siang mereka yang juga sekaligus dijadikan kesempatan sesama ekspatriat dari berbagai negara itu, mereka hanya bisa berkomentar dengan mengacungkan jempol tanda mereka sangat menikmati menu sajian dan tampaknya tak mau diganggu beragam pertanyaan sambil menolak sopan dengan senyum ramah. Sang pemilik kantin, ibu Elly pun menyempatkan diri berfoto bersama para konsultan asing ini. Cepret...! (Lumayan marketing promo dari endorser ekspatriat pencinta kuliner Indonesia) Hmmmm.... Pantas saja mereka suka, menu Sup iga dan Sup Kimlo serta Ayam Gorengnya paling sering jadi pilihan favorit mereka. Hebat juga bukan? Menu Indonesia disukai oleh orang asing dari sebuah kantin sederhana saja.

Dari semua petualangan kelanakulner kali ini, mungkin cuma di Kantin The-5 dan Kantin BPLHD yang tidak perlu melihat daftar menu dari harganya terlebih dahulu. Karena di samping semua pengunjung bebas memilih sendiri dan mengambil makannya, harga mahal tak ada kamusnya bagi kantin yang telah berusia 5 tahun lebih ini. Anda mau coba? Sila hubungi ibu Elly di nomor 08129971333. Ibu Elly juga bisa menerima pesanan resepsi sederhana, arisan, acara pengajian ibu-ibu atau pesta syukuran sederhana. Soal harga, berani diadu!

Sidik Rizal - dobeldobel.co.cc

Selasa, 27 April 2010

Ayam Bakar Indarti (depan) kampus BSI Jatiwaringin

Ayam Kampus BSI yang Paling Murah di Jakarta!!!

TamanKuliner Kalimalang - kelanakuliner.co.cc
Kalau bukan karena nikmat dan lezatnya makanan, tak mungkin pelanggan datang kembali dan terus membeli sajian yang ada di rumah makan sederhana Ayam Bakar Indarti ini. Bayangkan saja semenjak membuka warung ayam bakar setelah kelahiran anak pertama kesayangannya, ibu Suginem bersama suami memfokuskan diri untuk lebih serius mengelola warungnya.
Dan kini anaknya, Indarti sudah duduk di semester empat di Universitas Setia Budi di luar kota. Semua berkat ketekunannya mengelola ayam bakar yang memang terkenal sangat lezat dan murah itu.

Walaupun dirinya mengaku menu nya mirip dengan menu ayam bakar khas Solo, tapi dia belajar langsung dari seorang temannya yang pernah bekerja di warung ayam bakar pak Kumis yang kini membuka usahanya di wilayah Lampung. Kemiripan bentuk dan rasanya tidaklah menyurutkan niatnya untuk tetap melanjutkan usahanya tersebut. Ayam Bakar Indarti yang dikelola bersama suaminya ini telah mengalami beragam peristiwa.

Mulai dari saat menempati lapangan kampus BSI Jatiwaringin yang pada saat itu belum dibeli oleh pihak manajemen BSI. "Saat itu kampus BSI belum didirikan, kami membuka warung Ayam Bakar beberapa saat setelah anak saya yang pertama Indarti dilahirkan," ungkapnya.

Kini dia pindah ke sebuah kontrakan tepat di depan Kampus BSI Jatiwaringin. Rumah Makan Sederhana Ayam Bakar Indarti berdiri bersamaan dengan semakin banyaknya warung makan dan kedai makan serta m ini resto lainnya di kawasan wisata kuliner Jatiwaringin itu.

Ketika ditanya bagaimana ibu Suginem bisa bertahan hingga kini, sang wanita yang selalu tersenyum ramah dan santun ini menyatakan, "Mungkin dari lokasi dan menu yang kami buat rasanya pas buat pelanggan." Sedangkan pengamatan kelanakuliner sendiri adalah karena porsinya. Satu porsi Ayam Bakar Indarti, ukurannya kira-kira sama dengan ayam goreng ala Kentucky yang berukuran jumbo.

Satu porsi ayam bakarnya bisa dimakan atau dinikmati untuk dua orang. Belum lagi rasanya yang sangat mirip dengan ayam kampung. Betul sekali, karena ayam yang dipakai adalah ayam negeri (broiler) maka wajar saja porsi ukuran lebih besar dibandingkan bila menggunakan ayam kampung. Otomatis harganya pun relatif murah. Seporsi kita hanya perlu merogoh kocek Rp 15.000,- komplit dengan nasi putih dan minuman teh manis.

Jangan heran pula bila kini dari sajian ayam bakarnya ibu Suginem telah menyekolahkan anak pertamanya Indarti ke bangku kuliah. Masalah rasa memang bisa dibandingkan, tapi masalah ketekunan dan kerja keras sepertinya hanya dimiliki oleh pengusaha yang sukses saja. Anda tertarik mencoba Ayam Bakar di warung sederhana ini? Silakan kunjungi Ayam Bakar Indarti depan kampus BSI Jatiwaringin. Dijamin Anda tak percaya dengan rasa lezat yang Anda nikmati adalah olahan ayam negeri buatan tangan seorang ibu dari kampung namun penuh dengan cinta. Untuk reservasi hubungi di nomor 081385386583

Sidik Rizal - dobeldobel.co.cc - kotabekasihotnews.blogspot.com

Senin, 26 April 2010

basil & co - the PIZZA and PASTA Corner at Taman Kuliner Kalimalang

CARA ASYIK ASLI NIKMATI PIZZA TRADISIONAL ITALI

Kalimalang Durensawit - kelanakuliner.co.cc
Selama ini yang kita kenal dengan pizza adalah makanan asli dari Itali. Tapi apa pernah kita sadari bahwa restoran pizza yang sering kita jumpai di Indonesia itu bukanlah asli dari Itali, justru dari negeri Paman Sam. Dimana orisinalnya? Sebenarnya yang biasa kita temui di resto cepat saji dan terwaralaba itu adalah resto pizza ala Amerika.

Lalu yang seperti apa sih makanan asli khas Itali? Kalau mau tahu gimana rasanya Italian home made pizza (terjemahan bebasnya kira-kira= pizza rumahan asli kampung Itali), kayaknya kita harus berkunjung ke tempat yang memang benar-benar menyajikan menu asli ala buatan kampungnya negeri pemenang 4 x piala dunia, Itali. Dimana tuh? Terus enak nggak dan pantas gak direkomendasi buat temen-temen lain?

Kelanakuliner mencoba mengunjungi satu kedai pizza yang mengkhususkan sajian asli khas Itali. Nama tempat asyik buat nongkrong itu adalah Basil & Co, sebuah pizza corner di pujasera Taman Kuliner Kalimalang. Kayaknya nggak ada yang seperti ini di sepanjang jalan Kalimalang kecuali sebuah resto pizza lainnya yang khas ala Amerika Serikat. Tapi jelas beda dan bukan bandingan yang tepat. Karena yang satunya masakan Itali ala Amerika, sedangkan Basil & Co adalah kedai pizza orisinal resep Itali.

Kalau mau tahu apa bedanya pizza de originale dengan pizza ala Amerika, ya lihat adonannya saja. Adonan pizza (biasa disebut dough) khas Itali biasanya lebih tipis dan agak crispy, sedangkan pizza ala Amerika lebih mengembang dan lebih tebal. Untuk topping atau isi di atas doughnya relatif sama. Dan untuk pizza yang bisa kita nikmati di Basil & Co justru sangat identik dengan pizza rumahan ala Itali. Tipis dan agak  garing . Well.... pantaslah kalau pizza buatan anak muda Indonesia ini direkomendasi sebagai makanan khas Itali yang harus dinikmati kaum muda kita.

Lebih jauh lagi kelanakuliner menemui sang pemilik warung pizza Basil & Co, yakni Baskoro, mahasiswa jurusan manajemen fakultas ekonomi UI. Dengan dibantu oleh saudar sepupunya, Dimas Pratama Putra, seorang alumni akademi perhotelan NHI Bandung. Dari tangan dinginnya lah lahir menu asli Pizza dan Pasta negeri para mafioso ala kedai Basil & Co. Biarpun begitu, Dimas juga memberikan sentuhan tersendiri untuk beberapa menu original Italinya seperti Pizza Soure Creme yang terbuat dari yoghurt plus mayonaise sebagai saus khusus pizzanya.

Gimana kebayang gak rasa masam dicampur dengan rasa gurih renyah pastry pizza yang lezat. Lebih asyik lagi loe-loe orang bisa milih sendiri topping sesuai selera. So buat para vegetarian maupun penggemar daging bisa nikmatin pizza sesuai lidahnya. Hmmmm, kebayang banget deh nikmatnya. Apalagi pas setelah ngobrol ngalor ngidul sama sang pemilik Basil & Co, akhirnya keluar juga food tester pizza (istilah gue buat makanan gratisan tapi nggak kentara malu-maluinnya... hehehehe!). Pasti lo penasaran kan?

Dari pizza bersaus rasa asam yoghurt dan mayonaise, gue bisa sedikit ngebayangin gimana bedanya pizza ala Itali yang so country banget! Kayaknya Basil & Co tahu banget ngemanjain lidah lokal gue... gue rekomendasi banget pizza ala Basil & Co ini PAS BANGET buat loe pada....

Sekalian juga cobain minuman khas resto mini pizza di tangan orang muda Indonesia ini, yakni Lemon Grass Tea, atau es teh dicampur batang sereh (serai) ini, memang mempunyai taste yang sangat segar dan bener-bener BEDA! Mau dicampur gula biar manis maupun enggak, tetap aja segarnya begitu khas. Gue jamin loe bisa ketagihan sama minuman lokal yang bergaya selera bule ini (Kalo nggak percaya tanya aja sama toko sebelah! Tapi jangan minta minuan ini bisa bikin loe FLY... Nggak banget deh!) Katanya seh banyak juga yang mau niru-niru minuman unik kayak gini.

Ada juga minuman asli dari negeri jiran, Malaysia, yakni Teh Tareek. Tapi sayang kita nggak bisa lihat demonstrasi atraktif proses pembuatan teh tarik ini. Tahu kan gimana caranya? Biasanya pedagang teh di Malaysia, memberikan atraksi berupa mencampur teh dan susu yang dituang dari satu gelas ke gelas lainnya seolah sedang ditarik-tarik. Dan dari situlah istilah Teh Tareek diciptakan. Biar begitu, rasa Teh Tareek yang ada di Basil & Co, lumayan gak jauh beda sama aslinya yang dari Malaysia. Yah sebelas duabelas lah!

Saking asyiknya sama makanan dan minuman yang ada di Basil & Co, gue sampe minta dibungkusin pulang... hehehehe! (Sebenarnya porsinya lumayan gede seh! Diameter pizzanya 27 cm untuk porsi dua orang aja lumayan kenyang tuh). Eh karena terburu-buru, gue kelupaan bawa tuh bungkusan pizza asem...!

Waktu gue balik lagi, pizza jatah gue udah tinggal satu slice (satu potong terakhir), yah lumayan.. Tanpa malu-malu gue sikat habis tuh potongan pizza yang rupanya udah diangetin lagi sama sang koki, Dimas. Abis enak banget seh! (Suwer! Masa bodo gue dibilang rakus atau laper atau APALAH... itu pizza emang enak sampe potongan terakhirnya... Just lickin' off my finger! Yummy...!) Terus gue cabut dari Taman Kuliner! Hmmm, pengalaman kuliner yang lucu dan nggak bisa gue lupain!

Mau coba reservasi? Buat bikin acara ulang tahun, mumpung Basil &Co lagi masa promosi hingga akhir bulan April (yang ini beneran) dan seminggu awal Mei 2010 (yang ini mudah-mudahan bohong) ada paket promosi, seperti BELI DUA GRATIS SATU. Diskon khusus buat pembelian di atas Rp 60.000,- dan diskon khusus buat PELAJAR dengan menunjukkan Kartu Pelajar (Wah pas banget, gue masih nyimpen kartu pelajar SMP dan SMA gue tahun 80-an. Masih laku kale yah?) Tapi yang paling penting adalah... Kalo loe nggak nyobain yang asli menu buatan ala Itali DI SINI.... berarti loe belom nyobain pizza Itali SAMA SEKALI!

Reservasi hubungi saja Baskoro di nomor (021) 9346.1965 atau 081385.386.583 or ....

Sidik Rizal - dobeldobel.co.cc

Sabtu, 24 April 2010

Resto ABI - AYAM BEBEK IDAMAN Margajaya Bekasi Selatan

Gurih Empuk dengan Sambal yang Menggoda



SELAMA MASA PROMOSI HINGGA AKHIR Mei 2010, Resto ABI Margajaya Bekasi memberikan diskon 25% mulai dari jam 17.00 s/d pukul 21.00 wib. Untuk setiap pemesanan hingga mencapai Rp 500.000,- dapatkan diskon pembayaran di kasir hingga 50%, Cukup Anda bayar setengahnya, maka Anda bisa menikmati semua menu. (Jangan lupa membawa print-out blogs ini saat berkunjung. Fotokopian tidak berlaku, hanya printout berwarna.)

Bekasi - kelanakuliner.co.cc
Di dekat Radio Elgangga sepanjang jalan Kemakmuran banyak sekali berderet resto dan rumah makan besar. Salah satu warung sederhana yang menawarkan menu khusus masakan olahan dari ayam dan bebek adalah resto ABI. Semula saat melihat tulisan ABI, terbersit kepanjangannya Ayam Bebek dan Ikan. Namun setelah melihat lebih jelas, ABI berarti Ayam Bebek Idaman.

Lalu menu apa saja yang ada di resto yang buka dari jam 10.00 pagi s/d jam 10.00 malam tepat di samping Warung BM 28 dan Radio Elgangga ini? Mulai dari menu unggulan masakan ayam goreng dan bakar bumbu sambal terasi serta sambal korek. Hmmmm... melihat sambalnya saja sudah bisa dibayangkan bagaimana rasanya walau belum sempat mencoba sama sekali. Ada tiga jenis sambel unggulan di resto yang mempunyai kapasitas daya tampung 24 orang pengunjung ini, yakni Sambel Terasi, Sambel Korek dan Sambel Cabe Ijo.

Untuk menu ayam kampung yang ada adalah ayam bakar dan ayam goreng. Sedangkan menu bebek yang disajikan di resto ABI adalah bebek goreng dengan sambel terasi dan sambal cabe ijo. Range harga dari yang termurah adalah Bebek Bakar Kompo (mungkin maksudnya "Combo" atau "Kombo" kale yah?) senilai Rp 9.000,- hingga yang termahal seharga Rp 37.500,- untuk menu Ikan Gurame Asam Manis. (Mungkin ABI memang lebih pantas singkatan dari Ayam, Bebek dan Ikan).

Selain menerima pelanggan untuk dine in (makan di tempat), sang Manajer Operasional, Pitrah Yana mengatakan bahwa Resto ABI juga menerima pesanan untuk acara pesta, resepsi kantor atau paket ulang tahun dan pernikahan. Lelaki kelahiran Jakarta tanggal 10 Juli 1982 ini menjelaskan, "Memang untuk paket acara pesta apapun minimal pemesanan adalah 100 box dengan paket Ayam Kompo seporsinya Rp 14.000,- dan Ayam Kampung Rp 20.000,- per porsinya." Yang dimaksud dengan ayam kompo di sini adalah ayam negeri dengan menu digoreng ataupun dibakar, papar Pitra lebih rinci. Untuk catering, setidaknya paling lambat pemesanan 2 atau 3 hari sebelum pengiriman paket ke lokasi acara, imbuh lelaki yang kini sedang bersama calon istrinya itu.

Paket deliveri (antar pesan), Resto ABI siap kirim minimal 3 box, sayang nya untuk area terbatas di kawasan Bekasi Selatan saja, pungkas Pitra kepada kelanakuliner. Untuk pemesanan hubungi (021) 9346.1965 atau (021) 9760.3287 atau kunjungi resto ABI di Jl. Kemakmuran No. 99 Margajaya Bekasi Selatan.

Sidik Rizal - dobeldobel.co.cc

Jumat, 23 April 2010

RM Ayam Bakar Kalasan Dedi GS, Jl. Bambu Kuning Bekasi

Empuk dan Gurihnya Berbalut Manisnya Sambal Mantap

Bekasi - kelanakuliner.co.cc
Semenjak kepindahannya dari jalur protokol Jl. Kartini tepat di pinggirannya, lebih masuk ke dalam jalun di daerah Kampung Bambu ternyata tidak mengurangi pelanggannya. Bahkan beberapa pelanggannya yang merasa kehilangan, mencoba mencarinya dan saat berhasil, mereka tetap menjadi pelanggan setia RM yang baru berdiri beberapa bulan ini.

Saat berkunjung ke rumah makan yang masih buka hingga jam 12.00 malam ini, sang pemilik kebetulan masih sibuk sehabis melayani pelanggannya yang mengadakan acara resepsi ulang tahun. Sekalipun sibuk Dedi GS, masih menyempatkan diri untuk menerima dan melayani kelanakuliner. Sebelum wawancara, justru dia menawarkan menu unggulannya untuk dicicipi terlebih dahulu. Hmmm pengalaman wawancara yang berbeda dengan pemilik resto lainnya. Memang beda! (Nggak seperti rumah makan ayam bebek yang pernah saya kunjungi, jangankan mencoba menunya, mengerti tentang wawancara saja tidak... hehehehe tapi rahasia siapa dan apa nama restonya).

Ayam Bakar Kalasan Dedi GS tak berbeda jauh dengan ayam bakar kalasan yang pernah kelanakuliner coba. Mungkin beda dan uniknya adalah minuman teh hangatnya yang memiliki rasa unik, yakni pahit (getirnya) teh beraroma bijih jeruk dengan sedikit asam kulit jeruk. Mungkin ini adalah satu-satunya menu teh hangat (untungnya tidak manis) yang mempunyai rasa getir teh atau biji jeruk serta sedikit rasa asam yang mampu menghilangkan rasa gurih manis sisa ayam bakarnya. Jadi sesaat kita telah menikmati makanan ayam bakar yang kulit lemak ayamnya lumayan renyah serta agak gosong, maka rasa berminyak dan berlemak yang tersisa di lidah bisa langsung kita hilangkan dengan meminum teh hangat. Sebaiknya memesan teh tawar bukan teh manisnya. Dijamin rasa sisa makan ayam bakarnya akan dihapus lembut dengan getir sepat dari teh hangat beraroma kulit jeruk khas Kalasan ini.

Anda mau mencoba menu ayam bakar Kalasan ala mas Dedi GS? Silakan hubungi rumah makan yang buka dari jam 10.00 hingga jam 12.00 malam ini. Rumah makan ini mempunyai kapasitas kursi pengunjung untuk 20 orang, dengan lahan sedikitnya mampu menerima 3 mobil dan puluhan motor yang bisa diparkir di sini.

Sidik Rizal - dobeldobel.co.cc

Kamis, 22 April 2010

LESTARI JAYA AYAM DAN BEBEK GORENG SENTRA BISNIS HARAPAN INDAH

AYAM dan BEBEK Goreng TERLARIS DI Sentra Bisnis HI

Sentra Bisnis Harapan Indah - kelanakuliner.co.cc
Bila Anda berkunjung ke Sentra Bisnis Kota Harapan Indah dan saat melewati pelatarannya yang luas dan di dalamnya bertebaran puluhan warung kaki lima, jangan lupa untuk berkunjung ke Warung Pecel Lele, Ayam dan Bebek Goreng Lestari Jaya.

Warung Pecel Lele, Pecel Ayam dan Bebek Goreng Lestari Jaya yang dimiliki oleh Bang Jali Suwandi ini, berciri khas masakan Betawi atau Bekasi. Biar begitu, Bang Jali yang asli kelahiran Surabaya tanggal 5 Maret 1953 ini mengatakan semua menunya disesuaikan dengan menu masakan populer tradisional yang berhasil dia dapatkan. Misalnya untuk Ayam Gorengnya dia beri bumbu sambal khas Bekasi. Pecel Lelenya disajikan dengan menu khas Lamongan. Sedangkan menu bebek gorengnya dan termasuk ayam gorengnya biasanya ditemani dengan nasi uduk khas asli Kemayoran. Hmmm, ini baru nuansa Betawinya nampak. Itulah sebabnya nasi uduknya yang selalu hangat tersimpan dalam 2 buah termos besar selalu habis diserbu pengunjung. Belum lagi porsinya yang lebih banyak dibandingkan dengan Nasi Uduk dan Pecel Lele di warung lainnya.

Sebagai gambaran betapa laku (itu kalau nggak mau dibilang yang paling laku di kawasan sentra bisnis Harapan Indah), dalam waktu sehari sedikitnya dia menyediakan beras hingga 20 liter yang bisa menghasilkan 150 porsi Nasi Uduk dengan harga @Rp 3.000,-
Pecel Lelenya saja sehari bisa laku terjual sedikitnya 40 porsi dengan harga @Rp 6.000,- dan Bebek Gorengnya laku terjual sedikitnya 20 porsi dengan harga @Rp 12.000,- sedangkan Ayam Gorengnya bisa laku hingga 100 porsi dengan harga @Rp 7.000,- Sekarang Anda hitung sendiri omzet totalnya per hari.

Dengan dibantu 3 orang karyawan, Warung Nasi Uduk Pecel Lele, Ayam dan Bebek Goreng Lestari Jaya ini pernah mencapai 1000 bungkus pesanan Nasi Uduk dengan beragam lauk pilihan dalam sehari pada saat mendapatkan order pesanan melalui pelanggan setianya. Yang patut untuk Anda ketahui tentang ramainya Nasi Uduk malam hari Lestari Jaya ini adalah di sambalnya yang luar biasa mantap dan lezat. Dan bila Anda ingin mencoba betapa hebat dan mantap sambalnya silakan saja menghubungi Bang Jali di nomor telepon 081380.844.806 dijamin dia akan memberikan pesanan yang anda minta.

Sidik Rizal - dobeldobel.co.cc

Selasa, 20 April 2010

AHA STEAK CEMPAKA PUTIH - KEMAYORAN

Bukan Murah Namanya, Kalau Tak Selezat di AHA Steak
Gak Lezat Rasanya, Kalau Tak Semurah di AHA Steak

Cempaka Putih - kelanakuliner.co.cc
Kebanyakan orang kita masih beranggapan bahwa makanan import pasti mahal. Sekarang yang kayak gitu sudah nggak berlaku lagi, demikian pendapat seorang rekan. Kata mahal memang identik dengan makanan-makanan ala barat atau Eropa. Contohnya, saat orang mendengar yang namanya steak pasti akan terbayang harganya yang tidak murah.

Biar lebih jelas, bagaimana seh sebenarnya pasar makanan ala eropa dan amrik ini di tengah masyarakat kelas menengah kota Jakarta, maka kelanakuliner mencoba menemui warung steak yang lumayan ngetop yakni AHA Steak di kawasan Cempaka Putih. Sebenarnya warung ini adalah cabang kedua, setelah warung pertamanya, AHA Steak Kemayoran. Namun karena janji ketemu dengan sang pemilik sudah dibuat di sini, wawancarapun diatur di tempat yang lumayan ramai dan cozy ini.

"Saat pertama kali kami buka di kawasan Kemayoran tahun 2004, di bekas bandara Kemayoran respon warga sekitar serta calon pelanggan agak berat," papar Freddy sang pemilik yang memulai usahanya setelah tahunan bekerja di beberapa foodcourt dan mall sebagai staf akunting. "Bahkan ada yang tanya, 'Steak itu apaan sih?' dan saya pun terkadang menahan tawa. Apalagi saat ada yang bertanya 'Kalau chicken itu apaan?'," ujar lelaki 36 tahun ini tentang usaha warung steaknya di lokasi pasar middle low ini.

Otomatis, Freddy pun bermain di segment pasar yang bukan saja terbatas kemampuan daya belinya tapi juga terbatas pengetahuannya tentang produk yang dia luncurkan. Terjadilah proses edukasi dan promosi yang lumayan panjang dan berat untuk memasuki pasar wilayah kemayoran. Ternyata Freddy dan rekannya berhasil. Terutama setelah melewati masa krisis tahun 2008.

"Sebenarnya krisis tahun 2008, adalah krisis tersendiri bagi Amerika Serikat, dan di negara Indonesia terutama banyak masyarakat kita tak merasakan dampaknya. Namun begitu peningkatan animo masyarakat terhadap produk yang kami pasarkan kian meningkat." ungkap Freddy lebih jauh, "Yah gak banyak lah pengaruhnya buat penjualan kami walau ada sedikit."

Keberhasilan Freddy dan rekannya membuka usaha warung makanan barat berupa steak dan burger serta menu makanan lainnya berkonsep kaki lima semakin terlihat apalagi setelah buka cabang di Cempaka Putih.

Senin, 19 April 2010

SEJARAH PERJALANAN KULINER KHAS BETAWI

PRAKATA

Orang Betawi mempunyai beragam aneka masakan lezat. Sayangnya, beberapa di antaranya kini mulai punah. Siapa yang tak suka dengan Soto betawi yang gurih dan manis lezat itu? Siapa pula yang tidak tergoda dengan jajanan khas Betawi tahunan di daerah-daerah cagar budaya Betawi bernama Kerak Telor? Selain dua sajian populer ini, Betawi masih memiliki banyak makanan lezat lainnya. Hanya saja, saat ini semua hidangan khas Betawi bisa kita dapatkan dengan mudah. Beberapa di antaranya bahkan telah punah. Kita perlu prihatin akan begitu banyaknya unsur-unsur kuliner Indonesia yang telah sirna. Kalau bukan kita yang memang suka dan doyan makan serta peduli pada warisan budaya kuliner, lalu siapa lagi yang mau dan mampu melestarikannya?

Menetap di Jakarta, bekerja di Jakarta, ataupun sekadar mampir ke Jakarta, akan terasa keterlaluan bila tak mencicipi menu khas Betawi. Ada Nasi Uduk, Lontong Sayur,  ataupun Ketoprak bertebaran di Ibu Kota ini. Jakarta, sejak jaman dulu, memang telah menjadi melting pot, tempat bercampuraduknya berbagai anasir budaya, bahkan bisa di bilang salad bowl aneka budaya dari Belanda, Portugis, Tionghoa, Arab, India, Jawa, Melayu, Betawi Asli -- yang semuanya dicampur menjadi satu adonan dan tampilnya unik khas Betawi, sama persis dengan tampilan beragam makanannya.

Semakin berkembangnya kota Jakarta dari tahun ke tahun membuat masyarakat Betawi asli yang dulunya memiliki tanah-tanah yang luas di tengah-tengah kota makin tersisih. Tanah-tanah yang dahulunya merupakan lahan-lahan perkebunan buah-buahan dan pertanian kini berubah menjadi komplek gedung-gedung pencakar langit, ditambah lajunya urbanisasi memaksa mereka pindah ke daerah tepian kota Jakarta. Meskipun terdesak, hasrat melestarikan budaya nenek moyangnya tidaklah luntur. Daerah-daerah ayng masih banyak bermukimnya warga Betawi asli yaitu, Tangerang, Bekasi, Kelompok Kecil di tengah kota seperti di Kebon Jeruk, Kebon Kacang, Ciputat, Tenabang, Kebayoran Lama dan Kampung Melayu. Sisanya tersebar di lima wilayah Jakarta.

BETAWI SELAYANG PANDANG
Betawi adalah cikal bakal munculnya kota metropolitan Jakarta. Betawi juga menjadi sebutan bagi penduduk asli Kota Jakarta dengan budaya dan sejarahnya yang dinamis. Sejarah Betawi tak lepas dari pengaruh budaya China dan Belanda yang pernah mendominasi kota Batavia beberapa abad lalu.

Di tahun 1740 orang-orang China merantau di kota Batavia memberontak kepada pemerintahan Belanda. Namun para pemberontak ditumpas oleh Kompeni dan tidak lagi diperbolehkan tinggal di dalam tembok kota. Percampuran dan pembauran etnis serta budaya asli Betawi dengan kaum pendatang pun berlanjut. Pusat pemerintahan Belanda dipindahkan dari wilayah utara Batavia ke wilayah baru di sebelah selatan tepatnya di kawasan Medan Merdeka. Perumahan-perumahan mewah pun dibangun di antaranya rumah Gubernur Jenderal Belanda yang sekarang menjadi Istana Negara. Pelabuhan baru pun didirikan di Tanjung Priok, karena Sunda Kelapa sudah tidak sanggup lagi menampung banyaknya kapal-kapal yang datang berlabuh.

Pada awal abad ke 20 Batavia berkembang menjadi sebuah kota besar dengan penduduk lebih kurang 116.000 jiwa. Mei 1942 pada awal perang dunia ke-2, pasukan Jepang mendarat di Pulau Jawa dan menduduki Batavia, dan nama Batavia diganti menjadi Jakarta. Nama yang terus dipakai hingga sekarang ini.

Perkembangan kota Jakarta sebagai kota metropolitan dan ibukota negara ini semakin pesat di masa pemerintahan Orde Baru. Mayoritas penduduk asli Betawi yang menetap di tengah kota mulai menjual tanahnya dab pindah ke pinggiran Jakarta seperti Kebayoran, Condet dan Jagakarsa. Untuk melestarikan budaya Betawi dari kepunahan, di tahun 1970-an pemerintah menetapkan Condet sebagai kawasan cagar budaya Betawi.

Kuliner Betawi yang Nyaris Punah
Perjalanan sejarah Betawi tentu saja mempengaruhi budaya dan pola kehidupan masyarakat Betawi. Salah satunya terlihat dari keragaman kulinernya. Pengaruh tradisi China misalnya tampak dari beberapa jenis makanan Betawi. Contohnya penggunaan bahan dasar tahu dan masakan berbahan ikan seperti ikan Cing Cuan. Yang terakhir ini adalah sajian dari ikan ekor kuning atau ikan pisang-pisang yang diberi bumbu tauco.

Selain China, masakan Betawi juga dipengaruhi oleh budaya Arab dan Eropa. Jika Anda menyantap Nasi Kebuli atau Gule itu adalah sajian khas Betawi yang kuat dipengaruhi budaya Arab. Sementara sentuhan budaya Eropa, terasa pada sajian khas Betawi seperti Semur Jengkol atau Lapis Legit. Semur (bisa juga Gabus Pucung) dan Lapis Legit sangat dipengaruhi oleh Steak dan Cake dari Eropa.

Masyarakat Betawi memiliki banyak makanan lezat. Sayang beberapa di antaranya kian punah. Siapa tak suka dengan Soto Betawi yang gurih dan manis itu. Atau kudapan bercita rasa khas seperti Kerak Telor. Selain dua sajian ini, Betawi masih punya banyak makanan lezat lainnya. Hanya saja sekarang ini tak semua hidangan khas Betawi dapat dijumpai dengan mudah di jakarta. beberapa di antaranya sudah bisa dikatakan telah punah.

Ciri khas hidangan betawi adalah citarasa gurih dan sedap. Masakan Betawi yang masih bertahan dan bisa dinikmati masyarakat bisa dihitung dengan jari. Beberapa di antaranya cukup populer yaitu Soto Betawi, Kerak Telor, Nasi Uduk dan Nasi Ulam. Bahkan tak sedikit orang yang bukan asli Betawi menjual sajian asli khas Betawi ini.

Contoh masakan langka namun paling khas dan unik yang dimiliki masyarakat Betawi adalah Ketupat Babanci. Sesuai dengan namanya, Ketupat Babanci adalah masakan dengan unsur utama ketupat yang disantap dengan kuah santan berisi daging sapi dan diberi aneka bumbu seperti kemiri, bawang merah, bawang putih, cabai dan rempah-rempah. Salah satu rempah-rempah yang sudah tak dapat lagi dijumpai di daerah Jakarta adalah buah Jali-jali. Kini tumbuhan buah Jali-jali hanya bisa dijumpai budidaya tumbuhannya di negeri Belanda. Dulu ketika Jakarta masih memiliki banyak semak belukar, tumbuhan Jali-jali tumbuh bebas di rerumputan tanah lapang. Seiring dengan hilangnya lahan luas dan rerumputan liar, maka hilang pula lah tumbuhan buah Jali-jali yang menjadi bahan dasar rempah bumbu Ketupat Babanci.

Sajian khas Betawi di hari-hari istimewa seperti Lebaran dan syukuran kini menjadi menu tradisional yang dinanti. Sajian yang paling umum hadir di meja makan masyarakat Betawi saat Lebaran adalah Ketupat Sayur, Sambal Godok dan Semur. Orang Betawi zaman dahulu bila mengadakan syukuran, tahlilan, maulid dan sejenisnya, selalu menyajikan Nasi Berkat. Dibungkus daun jati atau teratai, Nasi Berkat dilengkapi dengan Semur, Pesmol Bandeng,  Gulai Buncis, Serundeng dan Perkedel. Tapi kini Nasi Berkat telah mulai dilupakan dan hilang dari tradisi Betawi.

Orang Betawi punya menu spesial untuk sarapan yakni Pindang Bandeng. Karena disantap waktu sarapan, orang Betawi sengaja memasak bandeng saat sore hari. Begitu pagi hari, Pindang Bandeng langsung dihangatkan dan dinikmati dengan sisa nasi semalam. Menu sarapan lain adalah Nasi Ulam. Namun yang banyak dijajakan sekarang ini dengan Semur Tahu dan Telur, bukanlah Nasi Ulam asli Betawi. Karena, Nasi Ulam asli Betawi disajikan dengan bumbu sambal terasi dan bumbu urap.

Selain Pindang Bandeng, orang Betawi memiliki sajian berbahan ikan lainnya. Sebut saja misalnya Pecak Lele, Gurame dan Ikan Emas. Ada pula sayur Gabus Pucung (kluwek, kluak) dengan ikan gabus yang diolah dengan bumbu kluwak (black nut = kacang hitam). Sayangnya jarang Betawi yang mengolah masakan ini, disamping sulitnya ternak ikan gabus kanibal bila diternak (ikan gabus cenderung memangsa anak-anaknya sendiri), namun begitu masih ada beberapa warung makanan khas masakan Betawi yang menyajikan masakan ikan liar gabus ini. Sajian paling unik dari ikan adalah Pepes Ikan Belanak. Dan seperti halnya Gabus Pucung, Pepes Ikan Belanak juga sudah langka.

Bagi Anda yang ingin merasakan wisata kuliner asli khas Betawi, cobalah mencarinya dengan berkeliling Jakarta, Depok, Tangerang dan Bekasi. Dan ternyata tidaklah perlu jauh-jauh mencari masakan unik khas Betawi di wilayah sekitar Jakarta.

KAMUS KULINER BETAWI

Nasi Uduk
Masakan Betawi yang paling populer ini masih mudah ditemui di hampir semua pelosok di lima wilayah Jakarta. terbuat dari beras putih yang dimasak dengan santan kelapa, serta dibumbui garam, daun serai, daun salam dan daun jeruk. Rasanya sangat gurih dan nikmat, terutama bila disantap saat masih hangat mengepul. Biasanya nasi uduk ditemani lauk pauk seperti ayam goreng, tahu goreng, telur dadar yang diiris-iris, abon dan tempe kering yang dipotong-potong tipis dimasak manis. Nasi Uduk juga disajikan dengan bawang goreng, emping goreng (beberapa tempat diganti dengan kerupuk kecil warna-warni), timun dan tentunya sambel kacang.

Nasi Ulam
Bedanya dengan Nasi Uduk, Nasi Ulam dibuat dari nasi biasa, tidak dimasak dengan santan. Ciri khasnya adanya taburan serundeng kelapa di atas nasi putih. Kemudian juga tambahannya seperti tempe goreng, tempe goreng tepung, dadar telur, sedikit taoge, ketimun iris dan daun semanggi. Tidak lupa juga kerupuk, emping serta bawang goreng. Nasi Ulam adalah bukti hadirnya pengaruh dari berbagai budaya kuliner yang pernah singgah ke Jakarta.

Dendeng dan Bihun Goreng merupakan pengaruh budaya Tionghoa. Perkedel merupakan "sumbangan" Belanda. Semur mempunyai kemiripan dengan Calderada dari Portugis, atau juga mirip dengan kebanyakan hidangan Belanda yang dimasak secara braising (merebus). Tempe goreng dan rempeyek kacang adalah budaya Jawa. Nasi Ulam selalu disajikan dalam acara hajatan di daaerah Kampung Melayu, Bali Mester (sekarang Jatinegara) dan sekitarnya.

Pindang Bandeng
Biasanya disantap dengan menu sarapan orang Betawi, seperti halnya Nasi Uduk. Kuah pada Pindang Bandeng hapir enyerupai Semur, tapi bedanya ada tambahan belimbing wuluh di dalamnya. Rasanya sangat lezat dan segar apalagi bila dimakan dengan nasi putih.

Gurame Pecak dan Gabus Pucung
Gurame Pecak adalah sajian ikan berkuah. Kuah pecak tampilannya mirip kuah bumbu rujak, berwarna kekuning-kuningan dengan santan pekat. Kuah santan itu dimasak dengan bumbu kuning, kemiri, kacang tanah, bawang merah dan bawang putih, kencur serta garam. Sedangkan Gabus Pucung yang juga hidangan ikan berkuah, memiliki kuah berwarna kehitaman karena bahan utamanya adalah pucung atau orang Jawa mengenalnya sebagai kluwak. Tampilan kuah pucung mirip dengan rawon dari Jawa Timur. Sedangkan bumbu-bumbunya adalah cabai, bawang merah, bawang putih, kencur, jahe dan kunyit.

Ketupat Babanci dan Ketupat Sayur
Masakan khas Betawi ini sudah sangat langka dan sudah tidak ada lagi yang menjual. Seperti namanya maka unsur utama sajiannya adalah ketupat. Ketupat ini disantap dengan kuah santan berisi daging sapi dan diberi aneka bumbu rempah seperti kemiri, bawang merah, bawang putih, cabai, dan buah jali-jali (tumbuhan ini sudah punah dari tanah Jakarta). Selain Ketupat Babanci, sajian ketupat lainnya yang dikenal oleh orang Betawi adalah Ketupat Sayur.

Ketupat sayur adalah ketupat yang disajikan dengan sayur labuh (atau pepaya muda yang diris halus) dengan santan yang dimasak dengan bumbu kemiri, kunyit, bawang merah, bawang putih serta potongan ebi (udang kering) dan biasanya dihiasi dengan sambel goreng. Biasanya juga dinikmati dengan potongan ayam sayur dan juga ditambahi dengan kerupuk kecil warna-warni atau emping.

Soto Tangkar, Sop Buntut dan Sop Kaki Sapi
Soto Tangkar adalah soto berkuah santan yang berisi tangkar (potongan daging tulang iga), sedangkan Sop Buntut adalah masakan sop dari tulang buntut sapi dan Sop Kaki Sapi juga masakan sop dari tulang kaki sapi. Sejarah lahirnya soto dan sop ini berawal pada saat penjajahan Belanda. Pada masa itu, masyarakat Betawi hanya mampu membeli tangkar, buntut dan kaki sapi yang hanya berdaging sedikit untuk kemudian diolah menjadi sajian yang enak. Tapi sekarang Soto Tangkar dapat ditambahkan dengan daging dan beragam jeroan sapi sesuai selera. Walaupun kuahnya menggunakan santan, Soto Tangkar tidaklah termasuk kategori "berat". Lain halnya Sop Buntut dan Sop Kaki Sapi yang dimasak tanpa santan sehingga lebih bening namun lebih berkaldu sapi. Ketiga sajian ini sangat dipengaruhi dengan budaya Belanda.

Soto Betawi
Soto Betawi juga diisi dengan jeroan, bahkan organ-organ lain seperti mata sapi, torpedo termasuk hati. Seperti halnya Soto Tangkar kuahnya adalah santan, namun banyak juga penjual Soto Betawi yang menggunakan susu sebagai kuah kentalnya.

Bubur Ase
Seperti halnya Ketupat Babanci, Bubur Ase sebagai makanan khas Betawi sudah sangat jarang dijumpai penjualnya. Istilah "Ase" sendiri artinya adalah kuah semur yang encer. Bubur Ase adalah bubur nasi yang disantap dengan kuah semur, tetelan, potongan tahu dan kentang. Kemudian ada tambahan potongan ketimun, lobak, lokio, sawi asin, taoge dan sedikit cuka. Sebagai pelengkap ditaburi kacang tanah goreng, emping dan kerupuk, serta sambal cabai rawit merah diulek.

Gado-Gado dan Ketoprak
Apa bedanya Gado-gado dengan Ketoprak? Bedanya di dalam Ketoprak tidak ada sayur-sayuran seperti dalam Gado-gado. Ketoprak hanya terdiri dari lontong atau ketupat, taoge, bihun basah, ketupat potongan tahu goreng, yang disiram dengan bumbu kacang. Bumbu kacang pada Ketoprak lebih banyak menggunakan bawang putih sehingga wanginya lebih menyengat. Selain itu Ketoprak ditambahi kecap manis dan tentunya kerupuk. Ketoprak juga biasanya dijajakan berkeliling dengan gerobak dorong. Dengan harga murah makanan berisi lontong atau ketupat, tahu, taoge, bihun, kerupuk dan bumbu kacang ini menjadi santapan andalan masyarakat Jakarta seperti halnya Bakso.

(tulisan bersambung....)
Sidik Rizal

Jumat, 16 April 2010

RM Urang Lembur : Ayam Congcot yang Nyangsang di Subang

Murah Harganya Kalahkan Rasa Mahal Ayam Congcotnya

Subang - kelanakuliner.co.cc
Bila Anda sedang berkunjung ke wilayah Subang dan menyusuri jalan dari Subang Kota menuju Sadang yang naik turun sangat curam, pasti akan melewati sebuah tikungan tajam dan sebuah resto masakan khas Sunda yang bernama RM Urang Lembur. RM Urang Lembur yang sering disebut banyak orang sebagai rumah makan Lembur Kuring ini memang berkesan sangat ekslusif bagi kalangan bermobil saja. Tapi siapa nyana, ternyata ada menu unggulan yang begitu digemari kaum muda dan anak sekolahan serta para mahasiswa di kawasan Subang Kota sebagai menu favorit mereka buat menghabiskan waktu bersama teman.

Bertemu dengan sang manajer operasional, M. Ruffy sudah merupakan kehormatan langsung dari sang wakil pemilik rumah makan yang bernuansa etnis tradisional ini. RM Urang Lembur yang luasnya tidak kurang dari 4.900 meter persegi dengan lahan berundak-undak dan masih ada sebagian lahannya yang berupa pesawahan, membuat nuansa saung dan pedesaan semakin kental. Semakin kita ke dalam dan menuruni rumah makan ini maka semakin kuat keteduhan dan kenyamanan gaya kampung yang bisa bikin rindu siapa saja yang pernah berkunjung.

Bila dulu sudah ada perwakilan dari wisata kulinernya pak Bondan Winarno yang telah mencicipi menu unggulan mereka berupa ikan gurame, maka kini menu baru berupa Ayam Nyongcot dan Ayam Botram belum sama sekali terekspos. Kelanakuliner beruntung merupakan media pertama yang bisa mencicipi Ayam Congcot (sebagian orang menyebutnya Ayam Nyongcot) serta Ayam Botram untuk publikasi dalam tulisan ini. (Hmmmm... Mr BW, I think I am the first who taste this one).

Ayam Nyongcot sejatinya adalah sebuah olahan masakan ayam negeri yang disajikan sedemikian rupa dengan nasi berbentuk kerucut dibungkus daun pisang yang dalam bahasa Sunda disebut nyongcot. Hanya dengan merogoh kocek Rp 9.000,- setiap orang baik itu mahasiswa maupun pelajar yang berkunjung bisa menikmatinya. Terbukti dalam waktu promosi kurang dari 2 bulan, permintaan terhadap Ayam Nyongcot meningkat pesat. Dalam dua bulan terakhir sedikitnya sudah lebih 200 ekor ayam negeri yang telah dijadikan menu Ayam Nyongcot. Perlu diingat bahwa satu ekor ayam negeri bisa menghasilkan 6 potong porsi. Jadi setidaknya ada 1200 porsi telah laku. Loh, kok bisa? Ternyata menu Ayam Nyongcot yang disajikan dalam bentuk ayam bakar ini begitu mengena di lidah kaum muda. dan itu satu kiat strategi yang berhasil dilakukan oleh RM Urang Lembur.

Urang Lembur sendiri artinya adalah Orang Kampung. Jelas beda dengan Lembur Kuring yang dalam bahasa Sunda artinya adalah Kampung Saya (Sendiri). Tapi entah mengapa rumah makan yang tepat di tikungan tajam jalan keluar dari Subang menuju Sadang ini masih saja salah sebut. Itulah enaknya menjadi terkenal, orang sering salah ucap dan salah sebut. RM Urang Lembur yang mempunyai pintu gerbang berdesain arsitektur tradisional Bali ini menawarkan bukan saja menu ekonomis seperti Ayam Congcot tapi juga Ayam Botram. Botram yang dalam bahasa Sunda berarti Buat Rame-Rame ini memang menu yang berukuran jumbo. Satu ekor ayam goreng dengan menu lalapan dan nasi komplit beserta lauk pauk lainnya dan tentunya sambal terasi yang sangat menggoda.

"Ceritanya, dulu sering sekali sekumpulan ibu-ibu kampung yang ngariung bersama para tetanggal lainnya sambil mencoba membuat menu masakan. Ada yang patungan ngasih sambal, yang lainnya ayam goreng, lalu nasi timbel dan semuanya dijadikan satu yang dikenal mereka dengan sebutan botram. Buat rame-rame. Dari sinilah istilah menu masakan kami diambil namanya." papar Ruffi kepada kelanakuliner.

Sang manajer kelahiran Bandung, 14 Juni 1966 dan tampak lebih muda dari usianya ini menargetkan pasar menu unggulan Ayam Congcotnya adalah kaum muda yang biasanya dari para mahasiswa, pelajar dan komunitas tertentu. "Sedangkan untuk Ayam Botram, kami lebih spesifikasikan buat kalangan menengah atas. Itulah sebabnya menu masakannya menggunakan ayam kampung yang jauh lebih mahal dan porsinya juga lebih besar," imbuh Ruffi.

Karena semakin banyak dan membludaknya pengunjung dari kalangan muda, kemudian menghindari kejadian serta kesan RM Urang Lembur menjadi tempatnya kaum muda berpacaran, maka jam buka tutupnya kami sesuaikan dengan keadaan lingkungan. "Kini kami hanya buka mulai dari jam 09.00 pagi hingga jam 20.00" katanya beralasan demi pencitraan positif RM Urang Lembur yang memang bernuansa sangat romantik dan klasik ini.

RM Urang Lembur Subang yang merupakan cabang kedua dari pusatnya di Bandung adalah milik seorang pengusaha Ir. Hutomo BP. Sang pemilik mempercayakan penuh pengelolaan R Urang Lembur kepada Ruffi karena banyak alasan, tapi salah satunya adalah pertemanan mereka yang sudah lama, dan Ruffi sangat mengerti konsep produk serta aspek lingkungan dimana dulu ia pernah tinggal lama.

Tapi yang paling penting dari liputan kali ini adalah bagaimana nikmatnya ayam broiler (ayam negeri) menjadi sebuah sajian ayam bakar dengan nasi kerucut (congcot) ditambah rebusan sayuran segar (sebenarnya lebih tepat sayuran yang dicelupkan ke dalam air panas dalam beberapa detik) dan sambal terasi yang top markotop. Sambil bisa juga kita menikmati Ayam Botram dengan sambel ijo yang Yes Markoyes, menu masakan ayam kampung yang luar biasa lezat dengan menu sayur asam dan lalapan seta nasi timbel yang begitu menggugah nostalgia kampung di tanah pasundan. Pasti sebuah pengalaman dan sensasi lidh yang tak terlupakan. Mau mencoba?

Sidik Rizal - dobeldobel.co.cc

Kamis, 15 April 2010

SOTO BETAWI KECAMATAN JALAN CAGAK SUBANG

SOTO BETAWI DENGAN RASA NASI GORENG RANJAU

Subang, kelanakuliner.co.cc
Keberhasilan komunikasi adalah satu hal penting dalam pemasaran satu produk, dan kualitas produk adalah hal penting lainnya. Bisa jadi keduanya saling mengikat dan mempengaruhi, bahkan terkadang tidak bisa jalan satu hal tanpa hal lainnya. Teori dan kenyataan ini yang saya dapatkan ketika berkelanakuliner di kawasan Jawa Barat, tepatnya jalur Subang Selatan.

Setelah berhasil mewawancara pemilik usaha jajanan populer asli khas Subang, yakni ibu Cucu Irianto si pengusaha Dodol Nanas Mekar Sari, kelanakuliner melanjutkan pencarian kuliner yang justru bukan makanan asli Subang namun tak kalah populer. Ya saat pertama mau mencari makanan dan tempat jajanan khas Subang, maka perlu juga mencari apa yang bukan khas Subang tapi tetap sangat laku diserbu pelanggan di kabupaten penghasil Nanas Nasional itu.

Mengingat tempat-tempat menarik sewaktu awal perjalanan keberangkatan, kelanakuliner sempat melihat plang nama unik yang membuat penasaran karena namanya saja sudah aneh terbaca. Soto Betawi (dengan banner besar) di Jalan Cagak. Lho kok bisa? Emang ada orang Subang yang asli Betawi? Atau adakah orang Betawi yang tinggal di Subang?

Demi menghilangkan rasa penasaran, kelanakuliner kembali mengambil jalan ke pusat kota Subang dari arah Purwakarta. Dan dari perjalanan inilah kelanakuliner mampir ke Soto Betawi yang ternyata pemiliknya adalah kolega lama rekan kerja di satu kantor periklanan di Jakarta. Ahhh... ternyata dunia ini memang sempit ya!?

Mas Bambang (kalau di Betawi pasti dipanggilnya Bang Bam.... hehehe), sang pemilik dan pengelola lahan yang dipanggil Uwak ini malah berniat memberi nama buat rumah makannya dengan nama Warung si Uwak. Walau sajian utamanya adalah Soto Betawi yang paling laku justru adalah Nasi Goreng Ranjau dan ramainya pada jam-jam sore di hari Sabtu Minggu. Karena itu pulalah pada pengembangan selanjutnya, lelaki yang asli kelahiran Subang 5 Juli 1958 dan tinggal di Betawi sejak tahun 1969 ini berusaha bagaimana menu unggulan Nasi Goreng Ranjaunya jadi merk dagang dan ciri khas Warung si Uwak. Satu saat nanti, katanya,  saya akan menyediakan segala jenis nasi goreng, mulai dari nasi goreng biasa, nasi goreng seafood, nasi goreng spesial, nasi goreng kambing ataupun nasi goreng ayam.

"Pokoknya impian saya Warung si Uwak, Biangnya Nasi Goreng," papar pencinta tabula-pot alias tanaman buah dalam pot ini lebih optimis.

Kelanakuliner mencoba menu andalan mas Bambang, yakni Nasi Goreng Ranjau, yang proses pembuatannya hanya beberapa menit secara terbuka dibeberkan tanpa kuatir ditiru. Mulai dari memecah telur dan menggorengnya dengan minyak serta diorak-arik dengan beberapa tetes saus Inggris. Selanjutnya proses urutan memasukkan potongan bakso (bisa juga ditambahkan yang lainnya seperti potongan daging kambing matang, potongan sosis atau daging ayam). Bumbu serta rempah yang harus dicampurkan sesuai aturan agar diperoleh rasa khas dan sesuai standar masakan ala Chef resto bertaraf internasional. Kelanakuliner perhatikan, potongan rempah hijau seperti daun sereh, cabe rawit dan rajangan bawang putih dimasukkan berikutnya. Barulah dimasukkan dua sendok besar nasi pera dan kemudian diakhiri sentuhan manis Kecap Bango, serta bumbu Royco serta garam secukupnya.

Ketika ditanya apa alasannya menggunakan Kecap Bango secara khusus, lelaki beranak dua ini menegaskan, "Sekalipun banyak orang bertanya pada saya kenapa menggunakan merk mahal untuk bumbu utamanya. Saya jawab, ya lebih baik menggunakan sedikit saja kecap mahal daripada merk murah tapi banyak dan berlebihan. Toh rasanya jauh lebih enak dan tak perlu boros, kan? ungkapnya menimpali banyaknya nasi goreng yang disajikan dengan warna gelap dan berminyak karena terlalu banyaknya bumbu serta pengolahan yang tidak memperhatian segi sehatnya. "Sayang saja saya belum berani menyebut masakan kami nasi goreng sehat," ujarnya bercanda.

Hal yang menarik perhatian kelanakuliner dari Nasi Goreng Ranjau yang memiliki potongan cabe rawit hijau ini adalah rasanya yang benar-benar tak terduga saat apa yang kita suap ke mulut. Ada pedasnya atau tidak yang tak terduga itu bagai mendapatkan ranjau (hahahahaha!). Namun yang paling aneh dari sekian kuliner yang pernah dialami adalah harganya yang bisa memuat mulut kita menganga lebih lama. Kita cuma perlu merogoh kocek Rp 5.000,- saja untuk menikmati Nasi Goreng dengan rasa basko daging sapi ini. Hmmm bukan saja maknyossss rasanya.... tapi maknyosss juga harga murahnya.

Walaupun karena harganya, Nasi Goreng Ranjau jadi pilihan favorit komunitas tertentu seperti komunitas motor yang populer di sekitar Subang dan kebanyakan dari kalangan anak muda ini, tapi banyak pelanggannya yang juga dari kalangan bermobil dan warga sekitar. Demi pelayanan buat pelanggan tertentu yang datang dari luar kota, terkadang si Uwak menerima pesanan baik melalui sms maupun telepon langsung di telepon. Biasanya dia harus tutup hingga jam 3.00 pagi agar pelanggannya bisa menikmati nasi goreng ranjaunya yang benar-benar memakan korban cintanya. Hmmm ternyata ada juga ranjau yang menyenangkan yah?

Untuk pemesanan bisa via sms atau direct call di nomor telepon di nomor telepon 085294238069. Pemesanan semetara waktu ini baru hanya Take Away dan Dine In. Buruan datang ke Warung si Uwak dan serbu ranjaunya yang sensasional itu.

Sidik Rizal - dobeldobel.com

Selasa, 13 April 2010

DODOL NANAS SUBANG MEKARSARI ERVIANI

Nanas Subang Menembus Pasar Internasional

Subang, kelanakuliner.co.cc
Bila Anda sedang berada di jalur jalan kecamatan Jalan Cagak, maka Anda akan bisa menemui sebuah dapur dodol yang sangat terkenal di Subang. Namanya Dapur Dodol Nenas Mekarsari Erviani. Oleh-oleh khas Subang ini rupanya telah beberapa kali ditayangkan di televisi seperti TransTV dan RCTI.

Kelanakuliner berusaha menemui sang pemilik yang tinggal tak jauh dari toko oleh-oleh Dodol Khas Subang Mekarsari. Ibu Cucu adalah salah satu perajin dodol nanas yang berhasil dan kini membuat koperasi perajin dodol nanas Subang. Kebanyakan anggotanya adalah para istri petani Nanas di daerah Subang tepatnya desa Tambak Mekar, Kecamatan Subang. 

Ternyata berbagai penelitian ilmiah dari perguruan tinggi seperti ITB dan UGM menyatakan bahwa Nanas Subang diketahui mempunyai ciri khas unggul mulai dari serat buah nanasnya yang tinggi dan rasa manisnya terkombinasi pas dengan rasa asamnya. Belum lagi serat daunnya yang ternyata berdasarkan penelitian beberapa laboratorium internasional, kandungan Nanas Subang lebih banyak dan lebih kuat dibandingkan dengan serat daun buah nanas dari daerah lainnya di Indonesia bahkan seluruh Asia Tenggara. "Karena itulah beberapa negara produsen kelengkapan kendaraan motor seperti dashboard mobil atau spakbor motor untuk industri mobil Toyota, memesan secara khusus dashboard berbahan dasar serat daun Nanas Subang ini," ungkap Irianto, Ketua Kelompok Tani Dewi Pohaci Desa Tambak Mekar, Kecamatan Jalan Cagak Kabupaten Subang.

Tak heran bila pak W. Irianto, suami ibu Cucu ini, juga telah berhasil mengekspor buah nanasnya ke beberapa negara Asia. Sayangnya proses ekspor nanas buah yang dilakukan oleh W. Irianto ini sama sekali tidak ada proses campur tangan pemerintah setempat. Padahal pemerintah pusat sudah beberapa kali menghubungi pemerintah daerah karena urusan yang berhubungan dengan perizinan ekspor dari Dinas Bea Cukai. Satu hal yang patut disayangkan bagi pemerintah Kabupaten Subang, sebuah peluang peningkatan penghasil asli daerah yang bisa bermain di tingkat dunia namun tidak ditindaklanjuti secara serius.

Perlu diketahui bahwa data ekspor nanas Subang dari Kelompok Tani Dewi Pohaci Subang. Mulai dari Januari 2008 sampai pertengahan Desember 2008 saja sedikitnya 20 ton per bulannya ia ekspor ke Korea, Iran, Arab Saudi dan Mesir.

Bila sang suami yang bukan saja petani nanas biasa dan pengekspor nanas ke manca negara, maka ibu Cucu membantu suaminya mengolah sisa ekspor dengan sedikit teknik sehingga memiliki nilai tambah. Ide membuat Dodol Nanas dari sisa ekspor, karena keinginan memanfaatkan nanas yang begitu banyak dan bisa dimanfaatkan untuk bisa bermanfaat dan tetap bernilai ekonomis. Bermodalkan pelatihan budidaya serta peningkatan manfaat usaha pertanian dan perkebunan dari pemerintah daerah setempat, Ibu Cucu mencoba membuat nanas BS (sebutan untuk sisa ekspor) menjadi olahan baru berupa Dodol Nanas. Disamping lebih bernilai ekonomis untuk dijual, Dodol Nanas ternyata jauh lebih awet disimpan hingga berbulan-bulan.

"Setidaknya Dodol Nanas kami ini awet hingga 4 bulan sebelum dibuka kemasan plastiknya dan siap serta aman untuk dikonsumsi oleh siapapun," papar ibu Cucu. "Di samping menyehatkan dan rasanya yang manis asam dan lezat, kami tidak mencampur bahan pengawet atau zat kimiawi tambahan lainnya." ujar wanita beranak 5 ini.

Melalui kelompok perajin makanan dodol nanas dan petani nanas, APENAS (Asosiasi Petani Nanas dan Buah) Kabupaten Subang, dirinya mengaku perlu membentuk kelompok perajin tersendiri khusus untuk desanya. Maka terbentuklah Kelompok Perajin Dodol Nanas Mekar Sari. Di kelompok inilah dia mengakomodir setiap anggotanya agar bisa dan mengetahui pengetahuan bagaimana menanam, membudidayakan dan menambah nilai dari tumbuhan buah nanas. Untuk menjual produk bernilai tambah seperti Dodol Nanas, ibu Cucu dibantu suaminya hingga mencapai negara Malaysia. Karena keterbatasan produksi, sajalah dodol nanasnya belum serius dijual secara ekspor ke mancanegara. "Sekarang ini saja untuk memenuhi permintaan pasar dari daerah sekitar Subang, kami agak kewalahan. Apalagi semenjak beberapa stasiun televisi menyiarkan produk oleh-oleh dodol nanas ini di acara kuliner mereka," pungkas Irianto.

Sepertinya kelompok perajin dodol nanas Mekarsari dan kelompok tani Dewi Pohaci memang sangat membutuhkan bantuan investor khusus di bidang agrobisnis yang mau mengangkat mereka. Padahal dodol nanas buatan mereka terkenal serta terbukti lezat nikmat dan mampu menembus pasar nasional, tinggal bagaimana kita sebagai bangsa yang peduli pada pereknomian rakyat mau membantu.

Kelana Rizal - dobeldobel.co.cc

Senin, 12 April 2010

Shahrazad Resto and Cafe: Melayang ke Negeri 1001 Malam

Nikmati Nasi Briyani, Kopi Arab sambil Hisap Shisha Ternikmat di Seantero Jakarta

SELAMA MASA PROMOSI HINGGA AKHIR Mei 2010, Shahrazad Resto Cafe memberikan diskon 25% mulai dari jam 17.00 s/d pukul 21.00 wib. Untuk setiap pemesanan hingga mencapai Rp 1.000 ribu, dapatkan diskon pembayaran di kasir hingga 50%, Cukup Anda bayar setengahnya, maka Anda bisa menikmati semua menu di Shahrazad bersama teman. (Jangan lupa membawa print-out blogs ini saat berkunjung. Fotokopian tidak berlaku, hanya printout berwarna.)
Cassablanca, kelanakuliner.com
Setelah lelah menyisiri jalan Cassablanca, tepatnya jl. KH. Abdullah Syafe'i, kelanakuliner menyempatkan diri mampir ke sebuah rumah makan khas Timur Tengah yang sangat mudah dicari, tepat di belakang RM Daeng Tata Ribs dan sebelum Raja Konro Daeng Naba. Lokasi aneh yang berkah, begitu pendapat kami tentang resto yang sangat middle-eastern ini yang bernama Shahrazad Resto

Begitu masuk, satu kebetulan bila saya berkumpa dengan sang pemilik, ibu Intan. Wanita kelahiran Tegal berdarah Arab Yaman yang ramah dan murah senyum ini membiarkan saya untuk bisa menikmati temaramnya ruang lobby rumah makan bergaya tenda padang pasir ini. Sementara bagian dalam, ruangnya lebih terang dan ada beberapa meja set dengan empat kursi besar, dan ada juga beberapa meja untuk lesehan di sebalah kanan kirinya. Hmmmm, sebuah suasana yang menawarkan kesan petualangan di semenanjung Arabia.... terasa kayak di dunia 1001 malam.

Setelah berbincang beberapa puluh menit, sang pemilik yang kini masih sendiri ini, menawarkan sajian istimewa seperti Nasi Beriyani, (Pen: Briani, Briyani atau Beriani) Kopi Arab dan Roti Cane. Wah saking bingungnya kami, sampai salah minum kopi Arab (Qohwah) yang pahitnya naudzubillah.... Malu karena takut nggak bisa menikmati sajian yang harganya lumayan mahal itu, saya pun bilang kepada ibu Intan, "Maaf kopi Arab memang pahit banget ya rasanya, kok semanis pare ya?"

"Oh Anda salah cara minumnya. Seharusnya ambil dulu buah kurma yang ada di samping cangkir kopi ini... kunyah hingga lembut baru kemudian minum kopinya. Yah seperti kumur-kumur...!" jelasnya membuat saya tersipu, dan saya pun melakukan cara minum orang Arab asli itu, benar.... ternyata nikmatnya dan manisnya kurma begitru pas saat digelontor dengan pahitnya kopi... hmmm ini baru mantap. Nggak perlu lagi minuman hram seperti alkohol untuk menghangatkan badan. Dan betul tak kurang dari 5 menit, badan saya terasa hangat mulai dari tenggorokan dan lambung... sensasi yang menyenangkan.

Melihat Nasi Beriyani yang dibuat hanya dengan beras import dari India ini plus potongan ayam goreng khas timur tengah ini, membuat air liur saya tak tertahan untuk segera menikmatinya. Belum lagi roti cane yang bisa jadi appetizer.... tapi harganya benar-benar khusus untuk orang Arab... (harus bawa kocek tebal supaya bisa menikmati makanan dan minuman Arab ini....)

Intinya bila Anda ingin pula menikmati Shisha asli dari semenanjung Arabia dan tak mau ketinggalan dengan menu sajian Arab lainnya. Silakan berkunjung ke Shahrazad.... hmmmm dijamin lidah dan indera Anda lainnya akan dimanjakan bak di negeri 1001 malam. Tapi jangan berharap Anda bisa menemui tari perut di tempat ini, karena kebetulan sang pemilik masih menekankan suasana Islami yang sunnah dalam menjalankan usahanya. So selamat menikmati makanan dan minuman serta rokok asap sari buah khas Timur Tengah alias Shisha.

Untuk Reservasi silakan hubungi  (021)8379.2166 
 (021) 68359359  atau  081510.111.893  dengan pak Iskandar
sidikrizal - dobeldobel.com

Minggu, 11 April 2010

AYAM BAKAR MADU Ibu ROSSA - WISATA KULINER BEKASI no.8

JAJANAN SIANG YANG LARIS DI MALAM HARI

Wisata Kuliner Bekasi, kelanakuliner.com
Begitu banyak menu masakan ayam, tapi cuma ada satu sajian Ayam Bakar di Wisata Kuliner Bekasi depan Asrama Haji Bekasi. Apalagi kalau bukan Ayam Bakar Madu Ibu Rossa.

Setelah berhasil membuka gerai di Sun City Square gerai Ayam Bakar Madu, Ibu Rossa pindah ke Wisata Kulner Bekasi tepatnya tanggal 27 Juni 2009. Wanita kelahiran Jakarta 10 Februari ini memang telah lama berdagang Ayam Bakar. Semenjak 2007 dirinya bukan saja membuka gerai di Sun City, tapi juga di kantor Dinkes Kota Bekasi. Terakhir ini lah dirinya mulai usaha Ayam Bakar Madunya yang kian hari kian ramai.

Mengenai sajian lezatnya yang bukan saja empuk dan gurih renyah khususnya bagian bakarannya yang lumayan crispy dan hangus itu, kelanakuliner mencoba seporsi lengkap Ayam Bakar Madu. Merasakan empuknya daging ayam hingga ke dalam daging dan rasa masnis madunya yang menyehatkan, membuat air liur saya mengalir deras. Hmmm, pasti jauh lebih nikmat bila dinikmati dengan Nasi Timbel Komplit seperti sayur asam, krupuk, tempe dan tahu goreng. Untuk seporsi Ayam Bakar Madu Spesial Komplit Anda hanya perlu merogoh kocek Rp17.500,- saja. Pas harga dan seleranya.

Menu unik lainnya, Ibu Rossa memiliki menu unggulan Ayam Goreng Sarang Tawon. Ayam Goreng yang disajikan dengan kremesean tepung yang dimasak langsung bersama gorengan aya dengan menuangkan adonan tepung kremesan ke atasnya. Hmmm, untuk yang satu ini dijamin pasti Anda akan ketagihan dan bisa mencoba beberpa porsi tanpa bosan.

Ketika ditanya tentang rahasia pembuatannya, ibu Rossa mengungkapkan, "Saat pembuatannya saya tak lupa menambahkan dengan dzikir, baik tiu saat merebus ayanya, mengulek bumbunya hingga menyajikannya," Menurutnya bumbu yang paling nikmat adalah penyajian dan pengolahannya disertai cinta. Sehingga ayam bakar madu maupun olahan lainnya disertai dengan rasa kasih yang pastinya membuat sajian semakin lezat. Filosofi yang cantih dan indah untuk sebuah olahan makanan sederhana namun disajikan secara istimewa.

Karena menunya adalah menu makanan siang hari, wajar saja bila ibu Rossa mulai membuka gerainya di Wisata Kuliner Bekasi semenjak jam 12.00 siang hingga jam 12.00 malam. Dan para pencinta ayam bakar maupun ayam goreng sarang tawon tak perlu kuatir kehabisan sajian. Untuk pemesanan bisa langsung memesan di nomor (021) 8895.2616 atau di nomor Flexi 0888.1660.442 langsung dengan Ibu Rossa.

Sidik Rizal - dobeldobel.com

Sabtu, 10 April 2010

WARUNG BERKAH FAJAR Wisata Kuliner Bekasi No.7

Somay + Es Dawet Ayunya Rasa Melekat Manis Dijilat

Wisata Kuliner Bekasi, kelanakuliner.com
Area Wisata Kuliner Bekasi yang biasanya beroperasi mulai dari jam 5 sore hingga jam 12 malam ini ternyata menyajikan menu terlengkap dari tempat manapun di Bekasi. Bila di lain tempat hanya menu umum jajanan khas malam hari, maka Wisata Kuliner Bekasi menyajikan menu apasaja, termasuk makanan pagi maupun siang hari. Salah satu contoh adalah Warung Berkah Fajar yang bukan saja menyajikan beragam rokok dan obat-obatan ringan tanpa resep serta segala jenis soft drink dan suplemen ada tersedia di sini. Terutama sajian unggulannya berupa Somay dan Es Dawet Ayu.

Warung Berkah Fajar yang dimiliki oleh H. Hasanudin Tanjung ini adalah kios atau gerai nomor ke 7 dari 40 gerobak dorong Wisata Kuliner  Bekasi yang merupakan bantuan langsung dari Pemerintahan Pusat melalui Kementrian Perdagangan RI. Warung Berkah Fajar yang menjual Somay dan Es Dawet Ayu ternyata tidak hanya menyajikan menu khusus itu saja, ada Nasi Goreng khas Padang, Sate Padang, Lontong Sayur Padang, Ketupat Padang dan beragam menu lainnya dari Sumatera Barat.

H. Tanjung demikian dia akrab disapa, mengungkapkan bahwa usahanya sebenarnya sudah lebih dari 5 tahun. Lelaki kelahiran Sumatera Barat tanggal 27 Juli 1958 ini memilik 2 warung Berkah Fajar yang juga menjual Somay dan Dawet Ayu, satu lagi ada di Bekasi Square. Sedangkan untuk proses pembuatannya, dirinya dibantu istrinya, Ibu Hj. Tanjung. Setiap pemesanan untuk pesta dan resepsi, bisa langsung ke rumahnya di Jl. Dewi Sartika RT 04/07 gang H. Jamil Bekasi Selatan atau via telepon di nomor 0812.810.4286

Masalah rasa Somay dan Es Dawet Ayunya, kelanakuliner mencoba seporsi somay spesial komplit yang dibandrol dengan harga Rp 7.000,- Rasa dan tekstur somay yang terbuat dari ikan tenggiri asli dan sagu ini ternyata luar biasa gurih dan lezat. Somay yang awet (tidak jadi masam rasanya) hingga empat jam ini memang pas buat antaran pesan atau acara resepsi pesta pernikahan semua kelas. Gurih dan kenyalnya bisa membuat setiap penikmatnya ketagihan.
Sayangnya nikmat dan lezatnya somay Warung Berkah Fajar ini tidak diimbangi dengan fasilitas kelengkapan layaknya foodcourt di Wisata Kuliner Bekasi. Dengan tenda berukuran tak lebih dari 4x5 meter persegi sepertinya kurang begitu menarik banyak pelanggan untuk bisa singgah dan menikmati sajian unggulan Warung Berkah Fajar. Walaupun begitu, saat kelanakuliner berbincang-bincang dengan H. Tanjung ada sepasang pengunjung yang memesan Nasi Goreng dan Somay di Warung Berkah Fajar sesaat ketika selesai wawancara.

Anda ingin memesan somay dan es dawet ayu untuk acara resepsi pesta Anda? Sebelumnya sebaiknya kunjungi Wisata Kuliner depan Asrama Haji Kota Bekasi, kemudian kunjungi Gerobak Nomor 7 milik H. Tanjung. Dijamin setelah Anda mencobanya, pasti Anda setuju untuk memesannya baut acara resepsi pesta apapun itu. Dan khusus untuk pesan antar per porsinya Rp 10.000,- seperti halnya pesanan untuk acara pesta. Harga yang pantas untuk sebuah kenikmatan rasa yang mamanjakan.

Sidik Rizal - dobeldobel.com