Cari data di web ini

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified twitterfacebookgoogle plusrss feedemail

Iklan Hubungi (021)27101381


Informasi berita tentang wisata kuliner di seluruh Indonesia - Kontak Redaksi: (021)271.01.381 - (021)606.36235, Hotline: 08787.882.1248 - 081.385.386.583

Jumat, 30 Mei 2008

Web Liputan Kuliner Rangking Nomor 1 di Google

Apabila anda adalah pengunjung baru, anda mungkin mau mendapatkan GRATIS Report saya 1 Juta Rupiah Pertama Anda Lewat Internet yang telah dibaca oleh lebih dari 67611 orang.
Untuk sukses mendapatkan uang lewat Internet, apapun topik/niche yang anda tekuni, anda HARUS mempunyai pengunjung yang datang ke situs anda.
Tidak ada pengunjung = Tidak ada uang! :cool:
Dalam dunia Internet, pengunjung juga dikenal dengan namanya “traffic”.
Anda boleh mempunyai website yang paling menarik di dunia, dan anda boleh memiliki produk atau jasa yang paling hebat dan canggih di dunia, tapi apabila website anda tidak ada traffic, maka anda tidak akan mendapatkan sepeser uang pun!
Mengapa?
Karena tidak ada yang tahu ttg produk atau jasa yang anda tawarkan. Kalau tidak ada yang tahu, bagaimana orang mau membelinya?
Ada beberapa cara untuk mendapatkan traffic ke website anda, antara lain:
- SEO (search engine optimization)
- PPC (pay per click)
- Article Marketing
- Forum Marketing
- Social Bookmarking
- Social Networking
- Affiliates (apabila anda mempunyai produk sendiri)
- dll
Hari ini kita hanya akan bahas yang pertama, yaitu SEO (Search Engine Optimization).
Apa itu SEO?
SEO adalah sebuah teknik untuk meningkatkan posisi website anda di halaman pencarian search engine seperti Google, Yahoo, dan Live (MSN). Semua pemilik website ingin website mereka tampil di halaman utama search engine ketika ada orang yang mengetik kata kunci yang mereka targetkan.
Karena dengan tampil di halaman utama, kemungkinan website anda diklik orang lebih tinggi dibanding apabila website anda tampil di halaman kedua, ketiga, dst.
Biasanya orang yang mencari informasi di search engine hanya “browsing” paling halaman pertama sampai halaman ke-tiga atau ke-empat, dan jika ia tidak menemukan apa yang sedang ia cari, maka ia akan kembali ke search engine tsb dan mengetik kata kunci (keywords) yang berbeda tapi berhubungan.
Contoh:
Anda mau beli mobil bekas, dan anda pergi ke Google untuk mencari informasi dimana anda bisa membeli mobil bekas.
Anda ketik kata kunci “mobil bekas”. Tapi setelah sampai halaman ke 4, anda masih belum menemukan apa yang anda sedang cari.
Anda kembali ke Google dan kali ini anda menggunakan kata kunci “mobil bekas di jakarta”.
Kata kunci yang anda pilih berbeda tetapi berhubungan.
Jika anda pergi ke Google.com dan mengetik “bisnis di internet”, pada saat ini ditulis, blog ini berada di posisi nomor 1.

Minggu, 03 Februari 2008

Joy Tea Green Berusaha Menyaingi Nu & Frestea

Baru-baru ini Sosro mengeluarkan Joy Tea Green, inovasi terbaru teh hijau dalam kemasan botol. Secara jelas terlihat bahwa Joy Tea Green sengaja dimaksudkan untuk melawan produk-produk dalam kemasan botol. Seperti misalnya Frestea kemasan botol. Memang, selain dalam kemasan botol plastik, Frestea Green telah lama dikemas dalam botol.
Sosro ternyata cukup paham bahwa pasar untuk minuman dalam kemasan botol tidaklah kecil. Pasar ini banyak terbentuk dari pedagang-pedagang eceran pinggir jalan dan konsumen yang bersifat praktis. Artinya, konsumen yang ingin kemudahan dalam mendapatkannya dan mengkonsumsinya saat itu juga.

Tentunya, bila strategi penetrasi Sosro cukup ampuh, maka Frestea harus hati-hati. Karena, bukan tidak mungkin market share yang telah dikuasai saat ini akan tergerus oleh Joy Tea Green.

Berdasarkan riset yang dilakukan MARS, teramati market share untuk produk-produk yang sangat familiar di benak konsumen. Hasilnya, sebagian besar (51,9%) pasar dikuasai Nu Green Tea dari ABC President. Kemudian posisi berikutnya diraih Frestea Green (Coca-cola) dengan market share sebesar 22,5%, Sosro Green Tea (16,8%), Zestea dari grup 2 Tang sebesar 8,6%, dan Yeo’s sebesar 0,2%.
Menariknya, Sosro mapun Coca-cola yang sejak lama telah dikenal kemampuannya untuk urusan saluran distribusi minuman di Indonesia ternyata masih kalah oleh Nu Green Tea. Padahal, saat ini Nu Green Tea hanya tersedia dalam kemasan botol plastik. Lalu, apakah Sosro dengan Joy Tea Green dalam kemasan botolnya mampu mengambil pangsa pasar dari Frestea Green maupun Nu Green Tea?
Ternyata, penguasaan market share ini berbanding lurus dengan Top of Mind dari iklan masing-masing produk. Sedangkan, dari sisi kualitas, konsumen menjawab hampir sama kualitasnya. Ini menunjukan bahwa faktor iklan sangat berperan dalam menciptakan awareness dan market share yang besar.
Untuk itu, bila Sosro ingin Joy Tea Green mampu meraih awareness yang besar, maka tidak hanya inovasi kemasan botol yang perlu dilakukan, tetapi juga strategi komunikasi melalui iklan harus benar-benar ampuh. Dengan begitu, maka peningkatan awareness konsumen terhadap Joy Tea Green akan berimbas pada penguasaan market share Joy Tea Green yang semakin besar.***
Tulisan ini dibuat untuk MARS Newsletter edisi 2 tahun ke-1 2008

Sabtu, 24 November 2007

Bebek Van Java Bandung

“Bebek van Java di Jl. Dipatiukur yang dipenuhi pembeli (indrakh)”
Sepintas cara memasak bebek kalasan ini mirip dengan masakan ayam goreng Suharti, yakni dibubuhi kremes yang terbuat dari tepung kanji dan tepung beras di atasnya. Rasanya mantap, bau anyirnya nyaris tidak ada. Dagingnya juga garing dan empuk, tidak alot atau liat seperti masakan daging bebek pada umumnya
Sabtu (24/9) kemarin, Yan mengajak saya untuk berbuka di Bebek van Java Jl Dipatiukur no 5 yang konon merupakan salah satu tempat makan yang memiliki menu masakan bebek terenak di kota Bandung, selain kedai bebek goreng Darmo di Jl Jawa dan kedai bebek di Jl. Hasanudin. Pukul 17.00 WIB kami bertiga (Yan, Udiens, dan saya) meluncur dari salah satu tempat di ketinggian Bandung menuju lokasi. Namun hujan yang turun sangat deras di tengah perjalanan memaksa kami untuk berteduh sesaat di bawah jembatan layang Paspati, di sekitar Jl Cikapayang.

Hujan sebenarnya belum usai, masih rintik-rintik. Namun karena adzan maghrib sebentar lagi tiba. Akhirnya kami pun nekad meneruskan perjalanan. Sampai lokasi ternyata semua tempat sudah penuh. Bulan puasa seperti ini ternyata Bebek van Java banyak sekali peminatnya. Mau tak mau kami harus rela masuk waiting list. “Siap-siap nungguin nih,” ujar saya dalam hati. Beruntung sebelum adzan Maghrib Udiens berinisiatif membeli teh kotak di kios seberang, jadi tidak perlu khawatir mencari makanan/minuman untuk membatalkan shaum.

Sekitar pukul 18.15 WIB akhirnya kami berempat dapat tempat di Lantai 1. Lho kok jadi berempat? Pasalnya ada teman Yan yang datang (yang mana lagi nih, hehe). Setelah memesan menu, kami bergiliran untuk shalat di mushala kecil yang berada di lokasi. Menu yang kami pesan adalah: bebek kalasan, cah kangkung, teh manis hangat, dan jeruk manis hangat. Oh, iya di bulan puasa seperti saat ini Bebek van Java buka mulai pukul 16.00 hingga pukul 23.00 WIB.

“Bebek kalasan, lalab, dan nasi bungkus dari Bebek van Java (indrakh)”
Seusai shalat, menu yang kami telah tunggu pun tiba. Bebek kalasan, lalab (ketimun,selada), tahu goreng dan nasi bungkus dikemas dalam keranjang anyaman bambu. Sambal dan kecap disajikan terpisah. Begitu pun dengan minuman. Sepintas cara memasak bebek kalasan ini mirip dengan masakan ayam goreng Suharti, yakni dibubuhi kremes yang terbuat dari tepung kanji dan tepung beras di atasnya. 

Rasanya mantap, bau anyirnya nyaris tidak ada. Dagingnya juga garing dan empuk, tidak alot atau liat seperti masakan daging bebek pada umumnya. Hanya saja ukuran daging bebek yang disajikan menurut saya terlalu kecil. Yang dahsyat adalah rasa sambalnya. “Wuiih benar-benar pedas.”Masakan cah kangkungnya juga sip, tidak asin, meskipun akan lebih oke bila dikasih recahan udang rebon atau suiran ayam. Sayang cah kangkung datangnya belakangan, sehingga terpaksa makannya kami gado, tanpa ditemani nasi dan daging bebek.
Selain bebek kalasan, menu unggulan lain yang ada di tempat ini adalah bebek bakar dan bebek goreng. Rumah makan ini pun menyediakan berbagai menu masakan ayam seperti ayam bakar dan ayam goreng. Dari sisi harga, makanan di sini pun relatif murah. Dengan budget Rp 20.000/ orang, Anda sudah bisa makan di Bebek van Java.

Makan malam kami saat itu pun kian meriah saat dua orang pengamen jalanan menampilkan aksi musikalisasi puisi (cerita ini tampaknya akan saya sajikan pada tulisan lain). Sebelumnya salah seorang pengamen yang nampaknya merupakan anggota KPJ (Kelompok Pengamen Jalanan) juga sempat menyanyikan beberapa buah lagu secara baik.

Untung menjangkau Bebek van Java Anda dapat melalui Jl. Dipatiukur dari arah perempatan Jl. Jl Ir.H.Djuanda (Dago) – Pasar Simpang. Setelah sampai di Jl Dipatiukur Anda terus saja (tanpa belok) hingga ujung jalan. Sekitar 50 M sebelum persimpangan Jl Ir.H.Djuanda (BCA)-Cikapayang-Surapati, Anda akan menjumpai lokasi tersebut di sebelah kanan (samping Lab Medicore). Untuk mencapai Bebek van Java bisa juga langsung dari arah selatan Jl Ir.H.Djuanda. Setelah sampai di bawah jalan layang paspati, tepatnya di persimpangan Jl Ir.H.Djuanda (BCA)-Cikapayang-Surapati-Dipatiukur selanjutnya Anda harus belok ke kiri ke arah Jl Dipatiukur. Lokasi tersebut akan Anda jumpai di sebelah kiri, seberang warung tenda Madtari.
Penasaran dengan tempat makan ini? Silahkan mencobanya. Siapa tahu bisa jadi salah satu alternatif tempat untuk berbuka puasa.

Sumber: Indra KH