Cari data di web ini

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified twitterfacebookgoogle plusrss feedemail

Iklan Hubungi (021)27101381


Informasi berita tentang wisata kuliner di seluruh Indonesia - Kontak Redaksi: (021)271.01.381 - (021)606.36235, Hotline: 08787.882.1248 - 081.385.386.583

Tampilkan postingan dengan label Khas Jogja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khas Jogja. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 November 2009

RM Khas Jogja nan Kental

Bekasi, kelanakuliner.com
Menemukan makanan ala Jawa Tengah, di Bekasi, rasanya sangat cocok bila menjajal tempat yang satu ini. Letaknya agak masuk sedikit dari Jalan Raya Rawapanjang menuju Bantargebang. Setelah menemukan Kantor Cabang BRI Caringin, maka anda akan menemukan sebuah gang yang cukup lebar berlapis beton. Masuk saja 10 meter, dan anda akan disambut dengan ucapan selamat datang di Rumah Makan ini.


Namanya sih rumah makan Mak Nyuss, cocok dan sangat mewakili sajian yang ada, setelah menjajal rasa masakannya di lidah. Menu yang sempat dijajal penulis adalah pecel. Walaupun sangat biasa, namun menemukan pecel dengan citarasa yang mewakili daerah asal pecel ini, juga cukup sulit di seputaran Bekasi. Apalagi, ini adalah pecel Jogja, yang cenderung sedikit sentuhan rasa manis. Kekentalan sambelnya juga terasa membuat kacang panjang (yang sudah dipotong-potong pendek), dengan kecambah nya terasa menyatu di lidah dalam satu rasa, pecel Jogja! Belum lagi ditambah kenikmatan bacemnya. Nasinya yang pulen, membuat paduan rasa kenikmatan ini semakin lengkap.

Bunga-bunga rasa ini juga masih dikejutkan dengan bandrol yang tidak terlalu mencekik dompet. Singkatnya, coba saja dulu, baru komentar.

Jumat, 03 Juli 2009

Gudeg Kendil Ibu Winarsih di Bintara Bekasi

Satu-satunya Gudeg Kendil Khas Jogja di Bintara Raya


Bekasi, dobeldobel.com
Jika anda melewati jalan raya Bintara dari Pondok Kopi menuju arah Pasar Kranji, maka setelah lewat atas jembatan layang jalan tol Cacing kurang lebih 100 meter anda bisa temui di sisi sebelah kiri anda warung makanan khas Jogjakarta yang sangat terkenal, yakni gudeg. Gudeg Kendil Ibu Winarsih Bintara. Buat anda penggemar gudeg yang mau merasakan makanan khas Jogja ini, sepertinya tak perlu lagi harus pergi ke Jakarta dan mencari di restoran besar makanan khas Jogja, (apalagi harus ke Jogja, jauh tauk!), cukup Anda lewati saja jalan tol Bintara Raya dan temui di seberang jalan layang seperti disebutkan di atas.

Mas Iwan dan istrinya, mbak Anti yang memang baru mengelola rumah makan (dia lebih suka menyebutnya dengan warung) selama 6 bulan di Bintara, namun begitu, pasangan suami istri beranak 1 ini sering sekali membuka warung bergerak (mobile) di Masjid Sunda Kelapa setiap hari Jum,at. Biasanya belum sampai jam 4 sore biasanya dagangan gudeg mereka sudah habis, dan mereka buka semenjak jam 10 pagi dengan mobil keluarga mereka di pelataran masjid itu.

Dan mereka juga biasanya buka di lapangan Pulomas setiap Minggu pagi, saat orang-orang di sekitar dan wilayah Jakarta berolahraga bersama keluarga secara rutin. Melihat makanan yang disajikan oleh Gudek Kendil Ibu Winarsih, maka tak aneh bila kebanyakan para pelanggannya adalah orang dewasa besrta keluarganya, baik yang datang ke warung Gudeg Kendil Bintara maupun saat mereka buka di Masjid Sunda Kelapa dan di Lapangan Olahraga Pulomas.

Selain identik sebagai Kota Pelajar dan Kota Seni, Jogja juga dikenal dengan sebutan Kota Gudeg. Ya, makanan yang terbuat dari bahan dasar buah nangka muda tersebut memang banyak dijumpai di kota yang juga penghasil batik ini. Di setiap sudut kota, entah itu pagi, malam, atau dini hari, selalu dapat kita jumpai para penjual gudeg yang ramai dikerumuni orang. Untuk menghasilkan makanan yang berwujud coklat kehitaman dengan rasa manis ini tidak mudah. Nangka muda yang dipilih harus dimasak selama satu hari satu malam diatas api tungku. Setelah itu pun, gudeg tidak serta merta disajikan. Supaya lebih nikmat, gudeg biasanya dihidangkan dengan telur atau ayam serta krecek yang akan memberi rasa pedas dan gurih.
Karena waktu memasaknya cukup lama, maka makanan pendamping nasi ini juga memiliki ketahanan yang lebih lama dibanding masakan yang lain. Jadi, bagi Anda para wisatawan atau pendatang yang ingin menyajikan makanan khas Jogja ini kepada kenalan atau kerabat jangan khawatir. Gudeg kering yang memang dipersiapkan untuk oleh-oleh dapat bertahan selama dua hari dalam perjalanan.
Namun bila sepanjang jalan Bintara Anda ingin mencari makanan yang terkenal dominan manis dan dibuat dari Nangka muda dengan lauk umumnya adalah Bacem Tempe, Pindang Telur serta Ayam Opor (biasanya dibuat dari ayam kampung), maka tak ada tempat lain selain Gudeg Kendil Ibu Winarsih. Nama Ibu Winarsih diambil dari nama ibunda Iwan, karena di samping sang ibu yang juga ahli masak gudeg, Iwan juga sangat mengidolakan orangtuanya itu.

Bila masalah rasa, saya sangat sarankan untuk mencobanya langsung di tempat warung Gudeg Kendil, karena Anda akan bisa menikmatinya hangat-hangat. Menurut Anti, Gudeg sengaja dihangatkan dengan anglo kayu bakar, jadi akan selalu terasa hangat. Karena keistimewaan rasa gudeg yang sangat terkenal bukan saja di seluruh Indonesia itu, tapi juga hingga manca negara seperti Malaysia, maka minuman yang disajikan pun tak aneh-aneh. Anda bisa memesan teh hangat atau pun es teh manis biasa, dan itu tidak akan mengurangi nikmatnya Gudeg Kendil.

Lalu mengapa harus diberi nama Gudeg Kendil, konon karena gudeg yang dimasak menggunakan kendil (wadah keramik terbuat dari tanah) dan biasanya dimasak menggunakan kayu bakar. Namun menurut Iwan, di rumahnya dimasak secara modern menggunakan gas. Biarpun begitu, masalah rasa tak jauh berbeda. Malah lebih bersih dapur rumah kami, imbuhnya sambil tertawa.

Lalu bagaimana bila Anda ingin memesan Gudeg Kendil Ibu Winarsih dari Anti dan Iwan? Cukup anda hubungi telp berikut ini, 021.9574.1925 atau 021.9291.7329. Bila untuk pemesanan minimal Rp. 25.000,- maka akan diantar gratis sepanjang radius wilayahnya kurang dari 5 km, namun bila lebih dari itu akan dikenakan biaya tambahan. Istimewanya lagi, menurut Iwan dan istrinya, Anti, mereka siap menerima panggilan untuk acara pesta dengan pemesanan berdasarkan jumlah porsi sedikitnya untuk 100 orang.

Sidik Rizal (kelanakuliner.com)

Senin, 11 Mei 2009

Tela-Tela - Singkong Gaul Menembus Batas


FRIED CASSAVA
Snack LOKAL
Pasar GLOBAL


Bekasi, dobeldobel.com - kelanakuliner.com
Perahkah anda sadar bahwa ternyata ada cikal makanan ringan bangsa kita yang bisa dipastikan nantinya menjadi makanan global. Kalau rendang padang saja oleh pemprov Sumatera Barat mau didaftarkan hak ciptanya sebagai makanan khas Indonesia, karena kuatir nanti akan diklaim sebagai makanan khas orang Melayu oleh negara Malaysia, maka buru-buru oleh sekelompok orang Minang yang peduli dengan makanan nasional di-hak-paten-kan.

Tidak halnya dengan makanan ringan lokal dari Jogja ini. Berangkat dari keinginan kuat pendiri makanan ringan khas Jogja, yakni empat sekawan sarjana lulusan yang nggak mau ngikutin mainstream kebiasaan lulusan sarjana untuk jadi karyawan. Mereka berempat, Eko Yulianto, Fath Aulia Muhammad, Asyari Tamimi dan Febri Triyanto memilih wiraswasta berjualan stick singkong goreng. Hanya berawal dengan modal sebuah gerobak berwarna merah kuning dan mereka ciptakan merk Tela-Tela, mereka berempat berhasil menarik konsumen penyuka cemilan gorengan, bukan saja di Jogjakarta, tapi juga seluruh Indonesia setelah beberapa tahun kemudian. Maka tagline Tela-Tela yang terkenal "Singkong Gaul dengan Segudang Rasa" kini semakin sering nongol di berbagai media massa termasuk TV, seperti Kick Andi. Terbukti dengan setelah tayangan di Kick Andi, beberapa calon prospek pewaralaba (franchisor) menelpon dan berdatangan ke kantor pusatnya yang ada di Jogjakarta itu.

Keinginan kuat para pengusaha muda ini untuk mengangkat derajat singkong agar "selevel" dengan cemilan impor, juga didorong alasan untuk memberdayakan para petani singkong. Pengalaman berlari-lari mendorong gerobak sambil menenteng wajan berisi minyak goreng karena dikejar-kejar Satpol PP saat pertama kali berjualan, tak mematahkan semangat mereka. Hanya dalam waktu 2 tahun, sekitar 1200 outlet Tela-tela di seluruh Indonesia, telah memberikan omzet bagi 4 sekawan ini 2-3 Miliar per bulan. Dan kisah sukses ini pulalah yang membuat pasangan suami istri Hendro dan Esti membuka frenchise (waralaba) di Kota Bekasi.

Berangkat dengan modal 10 juta rupiah, yang itu berarti bisa mendapatkan 2 gerobak Tela-Tela dengan sistem waralaba di tahun 2007, kemudian akhirnya menjadi agen produk Tela-Tela untuk wilayah Bekasi 2, yang kini semua telah berjumlah 20 outlet. Dua outlet milik mereka dan delapanbelas outlet milik pewaralaba lainnya, kini sudah menyebar dengan radius terdekat 1km dari titik-titik lokasi outlet.

Jadi menurut Hendro, agen Tela-Tela wilayah Bekasi 2, mereka berdua memang sekarang lebih memfokuskan pada pengembangan jaringan waralaba, dimana sebagai agen Tela-Tela dia kini mampu mendistribusikan 200 s/d 300 bungkus tela beku yang siap dipasarkan dalam waktu 2 - 3 hari habis. Melihat itu kelanakuliner.com (dobeldobel.com) menghitung setidaknya, jika setiap bungkus tela beku bisa menghasilkan 6 pak Tela-Tela, maka ada 1200 - 1800 pak beredar di wilayah Bekasi. Sungguh suatu jumlah yang lumayan besar untuk pengusaha pemula.

Menurut Hendro, suami Esti, guru sebuah SMA negeri di Bekasi ini, dulunya ia berhenti dari perusahaan distributor consumer product setelah 15 tahun kerja, dan ia lebih senang fokus untuk berwiraswasta berdagang Tela-Tela serta memperluas jaringan waralaba Tela-Tela.

Kelebihan utama Tela-Tela untuk makanan yang nyaris serasa dengan frenchfries ini adalah keanekaragaman rasa yang sangat Indonesia. Apalagi harganya yang sangat terjangkau di kantong (Rp. 3.500,-/pak untuk Tela-Tela dan Rp.6.000,-/pak Frenchfries) bagi kebanyakan orang Indonesia.

Namun begitu menurut pengakuan Esti, kadang tiap daerah mempunyai omzet produk yang sesuai dengan demografi konsumennya. Misalnya untuk wilayah komplek perumahan di Taman Galaxi, omzet Kentang Goreng jauh lebih banyak dibandingkan dengan Tela Stick. Taman Galaxi bisa diklasifikasi sebagai konsumen kelas menengah atas. Sedangkan untuk daerah perumahan seperti di wilayah kediamannya Tytyan Kencana, Tela stick omzetnya jauh lebih besar.

Melihat perkembangan omzet dan minat pasar konsumennya, Hendro dan Esti juga akan memasarkan produk nugget (dengan bahan dasar singkong juga) Tela-Tela. Melihat bentuk, dobeldobel.com memperkirakan rasanya mungkin seperti combro, namun dalam ukuran yang lebih mini. Tapi jangan anda salah, ini bukan combro pada umumnya. Karena bila combro adalah parutan singkong yang kemudian diisi dengan misro berbumbu pedas dan gurih, sementara Nugget Tela-Tela adalah adonan singkong yang teksturnya seperti nugget daging ayam biasa, namun rasanya singkong khas dengan beragam rasa. dobeldobel.com sendiri hanya sempat mencicipi Tela Stick bumbu balado dan Frenchfries rasa keju. (dan sempat dibungkus dibawa pulang untuk oleh-oleh keponakan di rumah, hehehehe... lumayan kan). Masalah rasa, penulis berani bilang seperti halnya Bondan Winarno bilang, "Top Markotop, pokoke!"

Bila Anda ingin buka usaha Tela-Tela terwaralaba hanya dengan modal 5 juta rupiah saja, maka Anda bisa menghubungi Hendro & Esti di telp: 021-88979015 atau 021-6890.8002 - (021)9346.1965. Atau bisa langsung datang ke kediaman suami istri berputri 3 orang ini, di TyTyan Kencana Blok J3 No.4 Marga Mulya, Bekasi Utara. e-mail= ewiek@yahoo.com

---------------------------------------------------------------------------------

Tentang Tela Tela

Tela Tela berawal dari sebuah gerobak kecil, di Tambakbayan, sebuah desa kecil dipinggiran kota Yogyakarta, beroperasi pertama kali pada tanggal 24 September 2005 dengan menjual jajanan dengan berbahan dasar singkong mirip dengan frenchfries, yang sering juga disebut jogjafries, respon yang sangat baik akan hadirnya produk unik, enak dan terjangkau menjadikan Tela Tela menjadi makanan favourit di Yogyakarta pada tahun 2006. Setelah mencermati prospek bisnis sederhana namun sangat profitable ini maka para pendiri mencoba membuka dua outlet lagi di Jalan Wonocatur No 31, dan di RukoBabarsariPlaza. Pertengahan tahun 2006 banyak sekali para peminat usaha ini untuk bergabung, karena Yogyakarta adalah kota yang sangat plural, maka perkembangan Tela Telapun merambah seluruh nusantara..dan terus berkembang hingga sekarang..hingga menjadi sebuah waralaba yang sangat prospek untuk dikembangkan.

Visi Tela Tela

Menciptakan keuntungan jangka panjang untuk semua stakeholder

Misi Tela Tela

Menghadirkan produk makanan ketela yang enak dan inovatif kepada masyarakat dan Membantu pemerintah dalam menciptakan lapangan pekerjaan serta lapangan usaha yang terjangkau.
Kantor Agen Bekasi 2:
Tytyan Kencana Blok J3,
No.4 Marga Mulya
Bekasi Utara
Phone: 021-7137.4254, 021-6890.9102
021-88979126
C/P.: Hendro & Esti

Kantor Pusat
:
Jl. Tambakbayan TB III No. 12
Yogyakarta 55281
Phone: 62- 0274 - 485356
C.P: Eko Yulianto, SE
Mobile: 0815 5850 7000