Cari data di web ini

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified twitterfacebookgoogle plusrss feedemail

Iklan Hubungi (021)27101381


Informasi berita tentang wisata kuliner di seluruh Indonesia - Kontak Redaksi: (021)271.01.381 - (021)606.36235, Hotline: 08787.882.1248 - 081.385.386.583

Tampilkan postingan dengan label Ribs. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ribs. Tampilkan semua postingan

Selasa, 04 Agustus 2009

Obonk Steak and Ribs Jatiasih dan Bekasi Timur Pilihan Warga Bekasi

Obonk Steak & Ribs Jatiasih - M. Hasibuan
Rasa Bintang lima Harga Kaki Lima
Lokal (Sirloin Steak, Tenderloin Steak, Chicken, T-Bone), Special Barbeque (Obonk, Ribs, Hot Tuna, Gindara & Cumi), Import (Sirloin, Tenderloin, Ribs Eye), Crispy Steak, Drinks (Fresh Juice, Milk Juice, Float n Punch)

Jatiasih, kelanakuliner.com
Jauh sebelum peristiwa tertangkap dan ditembaknya pentolan yang diduga teroris di wilayah Jatiasih, saya sudah berusaha cari tahu apa seh kelebihan dari tempat yang memang terkenal cukup sepi ini. Wajar lah, kalau Jatiasih mulai dari pertigaan tol (depan Giant) hingga ke arah Komsen hingga tembus ke Bantar Gebang sebagai tempat yang lumayan sepi dan pastinya bisa dijadikan pilihan (alternatif) para teroris atau kamu pejabat menyimpan istri muda mereka...
Hehehehehe, becanda euy!

Untungnya Obonk Jatiasih nggak masuk wilayah abu-abu itu. Justru lokasi Obonk Jatiasih yang tepat di pojokan pertigaan jalan provinsi pintu Tol Jatiasih yang aksesnya dari dan ke Pekayon dan Pondokgede serta Bantar Gebang. Strategis banget... Apalagi ada banyak pabrik manufaktur di lokasi tersebut.

Adalah Obonk Jatiasih dan Obonk M. Hasibuan, dekat Radio M2 Bekasi di bawah pengawasan seorang manajer muda dengan pengalamn lebih dari 8 tahun bekerja di Obonk, bernama Sutrisno. Lelaki yang mempunyai tinggi nyaris 185 cm dan berperawakan atletis ini memang punya pengalaman yang tak kalah dengan para pengelola resto bertarah internasional. Lelaki kelahiran Jogja ini justru berangkat dari bawah sekali saat Obonk masih bernama Casper, Steaks and Ribs.

Adalah pemilik resto makanan ala barat ini, yang bernama Soegondo ingin mengembangkan produk makanan bercitarasa internasional dengan harga yang pas di kantong orang Indonesia. Khususnya berangkat dari kota yang memang akrab dengan wisatawan bule. Dengan konsep makan Eropa atau Amerika bercitarasa khas Jogja, tentunya bukan hal yang mudah, namun dengan belajar dari keinginan pelanggan, sang pemilik, Soegondo merubah-rubah konsep branding sehingga akhirnya terpilihlah merk Obonk. Menurut, Sutrisno, manajer otodidak yang telah lama mengabdi pada perusahan keluarga ini, bahwa nama Obonk sendiri diambil dari istilah bakar (obong dalam bahasa Jawa = bakar) untuk memasak makanan menu utama yang berupa steak, yang kemudian dipatenkan dengan merk Obonk.

Beberapa keluarga Soegondo, seperti anaknya juga membuka usaha seru[a dengan nama merk Warung Steak. Tapi melihat permintaan pasar yang tinggi dari beberpa investor, khususnya di luar pulau Jawa, akhirnya waralba lah yang jadi pilihan. Sedangkan untuk pulau Jawa, keluarga Soegondo lebih menyukai ekspansi dengan modal sendiri, walau ada yang berbagi hasil dengan rekanan, namun hal ini tidak dirinci oleh Sutrisno kepada kelanakuliner.com

Konsep Resto Keluarga yang Sukses Diterima Semua Kalangan

Sukses yang didapat Obonk ternyata bukan hal yang instan dan mudah, jelas Sutrisno. Manajer yang akhirnya mendapatkan jodohnya dari tempat bekerjanya ini, mengakui bahwa bagaimana dia berpindah-pindah dari satu cabang outlet Obonk yang baru saja dibuka. Jadi saya mungkin lebih sering ditugaskan oleh pimpinan sekaligus pemilik untuk membuka cabang baru dan setelah berjalan lancar barulah kemudian diserahkan kepada penerusnya di bawah bimbingannya. Bagi kelanakuliner.com sendiri hal ini adalah wajar, karena dengan penampilannya yang tinggi dan pengalamannya selama beberapa tahun telah membuktikan bahwa sebuah cabang rumah makan Obonk akan berjalan lancar dan baik bila tepat memilih harga pokok bahan pendukung dan menentukan harga jual yang sesuai dengan pasar. Itulah sebabnya setiap lokasi cabang Obonk memiliki kebijakan harga yang sesuai dengan harga dari bahan pendukung.

Yang disebut bahan pendukung, jelas Sutrisno lebih rinci adalah sayur-sayuran dan bumbu, sedangkan bahan utama tetap disuplai dari pusat dan import dari New Zealand serta Australia. Dulunya sempat didatangkan daging import dari Amerika, tapi karena ada masalah kasus penyakit Anthrax, maka dihentikan. Kini hanya diimport dari Australia dan Selandia Baru saja. Dan untuk menu-menu tertentu juga menggunakan dading lokal dengan persyaratan standard kualitas yang ketat dari pusat langsung dari Jogjakarta.

Obonk Jatiasih mempunyai kapasitas parkir yang lumayan luas dan sama dengan Obonk M. Hasibuan. Bila Obonk Jatiasih yang baru berusia kurang setahun ini tapi telah menunjukkan perkembangan yang sangat luar biasa. Mulai dari pelanggan yang kebanyakan adalah keluarga dan berkelompok atau komunitas tertentu. Seperti halnya Obonk M. Hasibuan yang berdekatan dengan Radio M2 tentunya pengunjung dari komunitas relatif lebih banyak pada hari-hari tertentu.

Terlepas dari itu semua, keberhasilan cabang Obonk baru memang banyak yang datang dari manajemen tangan dingin lelaki beranak dua ini. Sudah sepatutnyalah Sutrisno saya nilai mempunyai faktor tangan dingin dengan sekor di atas rata-rata dari seorang middle management yang telah dipercaya oleh sang owner dan top management untuk membuka usaha baru bagi Obonk. Di Obonk sendiri struktur organisasi manajemennya setiap manajer membawahi KO (Kepala Outlet) dan setiap KO diperbantukan oleh beberapa Penanggungjawab, seperti Penanggungjawab layanan (servis), Penanggungjawab Dapur (Produksi) dan Penanggungjawab Keuangan. Setiap cabang memiliki kebijakan belanja dan penganggaran yang berbeda sesuai dengan kondisi di masing-masing wilayah.

Sekarang bagaimana penilaian kelanakuliner.com terhadap menu utama Obonk. Menu yang disajikan dan jadi pilihan saya adalah Steak Original barbeque. Pilihan lain Brown Sauce sebenarnya hanya dibedakan oleh saus coklat yang berbahan dasar gula nira dan bumbu-bumbu rempah yang dituankan dengan disajikan secara hotplate. Kebetulan sudah terbiasa dengan sajian hotplate, maka saya mau mencoba Steak barbeque. Akhirnya adalah skor nilai 3,5 bintang untuk skala dari 1-5.

Daging import yang bagi saya memang jauh lebih bertekstur dan kenyal serta rasa bakarannya yang meresap ke dalam daging. Agak berbeda dengan daing lokal yang memang lebih juicy, sehingga daging lokal lebih cocok untuk steak crispy.

Untuk minumannya pun saya mencoba Obonk Punch. Padahal ada minuman favorit pilihan pelanggan, yakni chocolate milk shake, avocado milk shake. Saya justru mau mengetahui dan merasakan minuman unik yang tidak sering saya jumpai di lain tempat. Ternyata, Obonk punch, yang dibuat dari soda plus perasan jeruk lime serta sirup import sejenis Marjan yang entah merknya apa, tapi intinya rasanya begitu segar dan melegakan serta hilangkan rasa haus tenggorokan saya seketika. Untuk minuman saya pribadi bisa rekomendasikan buat Anda untuk dicoba, 3 bintang untuk skala 1-5.
Untuk minuman, Obonk tidak jauh berbeda dengan restoran lain yang menyediakan berbagai jenis jus buah dan minuman bersoda. Namun, di dalam daftar minuman terdapat sesuatu yang tidak ada di restoran lainnya, yaitu Obonk Punch dan Obonk Sparkling. Kalau Obonk Punch dibuat dari campuran soda, lemon, dan sirup jeruk, Obonk Sparkling terbuat dari Pepsi Blue yang dicampur dengan lemon, nanas, dan sirup jeruk. Mana yang lebih enak? Jawabannya tergantung selera Anda.

Bila suasana yang nyaman di Obonk M. Hasibuan lebih dominan buat keluarga dan komunitas tertentu sehingga ada ruang ber-AC yang Non-Smoking dan ruang bagi perokok, maka untuk Obonk Jatiasih, ada ruangan yang tatanan mejanya seperti sofa dan masuk menjorok ke dalam dengan sesekali terdengar suara musik yang pelan. Sayang di tempat itu tidak life music, tapi memang para pelanggan yang datang ke Obonk rata-rata adalah orang yang ingin makanan berat, bukan untuk sekadar duduk kongkow dan menikmati minuman kopi semata.

So bila Anda mau makan malam yang mengenyangkan dan tentunya dengan menu bergaya Eropa atau barat bersama keluarga dan kolega atau komunitas khusus Anda, maka pilihan Obonk M. Hasibuan bila Anda ada di sekitar Bekasi Timur, sedangkan bila Anda ada di sekitar Jatiasih, Bekasi Sletan dan sekitarnya, Obonk Jatiasih bisa saya rekomendasikan sebagi tempat dinner yang menyenangkan dengan harga pas di kantong Anda, dijamin!

Untuk reservasi Anda bisa menghubungi no telp berikut: 08151.4653.610
kontak persona Sutrisno.
Sidik Rizal - dobeldobel.com
-------------------------------------------------------------------------------------
Untuk Cabang lain anda bisa dapatkan di kawasan Margonda Raya, Depok, cabangnya memang tersebar di seluruh penjuru kota Jakarta. Sekedar informasi, di Jakarta restoran ini memiliki 20 cabang. Di Jalan Margonda Raya saja, Obonk mempunyai dua cabang.

Buka sejak bulan November 2007, Obonk cabang Margonda ini tidak pernah sepi pengunjung. Selalu saja ada pelanggan yang datang untuk menikmati makanan khas Obonk. Dari nama restorannya saja, kita bisa langsung mengetahui bahwa makanan unggulan di restoran ini adalah steak. Berbagai macam jenis steak disediakan di sini. Namun, pengelola cabang ini mengakui bahwa steak favorit di Obonk ini adalah Ribs Steak. Menu ini menjadi favorit pelanggan Obonk karena rasa dan kelembutan dagingnya. Berbeda dengan menu yang lain, Ribs Steak ini terlebih dahulu direbus sebelum dibakar dengan arang.

Kalau Anda penasaran dengan rasa makanan dan minuman khas Obonk, silahkan datang dan rasakan sendiri. Restoran ini buka dari pukul sebelas siang sampai sebelas malam. Soal harga, Anda tidak perlu khawatir. Salah satu yang membuat Obonk terkenal adalah harganya yang terjangkau. Jadi, kalau Anda masih bingung mau makan di mana hari ini, kenapa tidak segera bergegas ke cabang restoran ini? (cdr)
----------------------------------------------------------------
Tulisan lain tentang Obonk
deckie @ www.benih.net.id


Sekali-sekali kita jalan dan pengen banget untuk memburu makanan dan atau minuman yang agak kebarat-baratan pun tidak menjadi suatu masalah kan. Yang menjadi masalah, soalnya banyak dari makanan (asli) barat mencapai harga yang cukup mahal dan cukup menguras isi dompet tentunya. Nah, kali ini kita bakalan mengulas habis salah satu depot atau warung atau rumah makan dan kalau tidak boleh kita sebut sebagai restoran, Obonk Steak & Ribs, tentu sudah tidak asing di telinga kita, bukan ?
Kebetulan yang kali ini menjadi korban pencicipan lidah dan citarasa saya adalah Obonk Steak & Ribs yang ada di jalan Salemba Tengah, tepat berada di depan RS. Thamrin Jakarta. Masuk ke lahan Obonk, kesan pertamanya, sumpek, ribet dan ga lega. Parkirannya membuat pening kepala para pengunjung yang kebetulan naik mobil. Mungkin hanya cukup untuk memarkir dua mobil saja, siasatnya, mari kita parkir di halaman parkir Rumah Sakit saja. Jalan sebentar bisa lebih aman dan ga pusing melihat sempitnya lahan parkiran. Tapi bagi para pengendara motor, ga perlu kuatir karena tersedia lahan parkir yang cukup.
Turun dari kendaraan, kita bisa melihat 3 set table di luar atau area outdoor yang memanfaatkan lahan teras rumah tersebut sebagai tempat bersantap. Sekali lagi, saya memutuskan untuk melangkah ke dalam warung itu saja, kenapa, karena kalau memilih makan diluar dipastikan bakal menjadi tontonan para mahasiswa BSI yang kebetulan juga berada di depan warung itu. Di dalam, kalau tidak salah hitung ada sekitar 10 atau lebih set table untuk empat orang di masing-masing table. Sederhana dan berusaha memanfaatkan space yang ada. AC ?? Ada, jangan kuatir kita tidak akan merasa kegerahan kok kalau makan di dalam. Smoking area ? All spots are available for smokers. Comment about this thing, No comment ah.
Sekarang mari kita memburu makanan dan minumannya. Sangat beragam, mulai dari appetizer sampai dengan hidangan penutupnya ada komplit. Nah kalau namanya saja ada embel-embel Steak & Ribsnya, tentu pikiran pertama kita akan berasumsi bahwa makanan paling lezat untuk disantap disitu adalah steak dan ribsnya dunk tentu saja. Tapi dugaan saya ternyata salah. Menu paling enak buat saya di situ ternyata hanya Chicken Wings nya saja. Yang lainnya, standard banget. Steak disajikan dalam kategori 3 olahan kalau tidak salah, steak BBQ, Hot Plate dan Steak Import. Yang paling enak, tentunya yang import. Jadi sensasi pengen mencicipi steak generik ala kocek yang masuk akal dan dengan cita rasa yang memuaskan, tidak berhasil dicapai oleh obonk. Sebut saja Beef atau Chicken atau tenderloin, sirloin, t-bone atau oxtongue sekalipun, semuanya terasa terlalu dipaksakan. Penyajian komposisi di atas piring atau plate yang akan kita santap, bisa menurunkan selera makan kita. Tidak rapi dan tercecer disana sini, seolah-olah sang penyaji sedang diburu hantu saat menatanya sehingga terkesan berantakan dan payah.
Cream soupnya boleh dicoba, tapi jangan lupa bilang jangan terlalu asin yah. Mungkin chef disitu masih lajang dan kebelet kawin kali. Atau tambahi merica aja kalau pengen menghantam asinnya dengan sensasi pedas menggigit. Chicken wings nya yummy dan empuk, makan aja chicken wings ini sama nasi, pasti kenyang kok. Jangan kuatir ada nasi putih dijual disini. Steak impor dibanderol sekitar 40ribuan lebih. Cukup murah untuk ukuran steak saji import, ga terlalu mengecewakan lah. Enak bisa bikin kenyang juga.
Minuman dan ice cream. Semuanya standard, dari yang ala sparkling, splash, juice atau es biasa, semuanya bisa diminum tapi kualitasnya masih biasa-biasa saja. Kurang mak nyuss. Ice creamnya, sama saja. Membuat gigi dan lidah dingin kelu bukanlah tujuan kita memakan es krim tentunya. Mungkin karena disesuaikan dengan harganya yah.
Pelayannya, cukup kooperatif kok, helpful juga, tapi sayangnya kenapa kebanyakan cowo nya yah, apa jangan-jangan apa memang hanya cowo yang diterima jadi pelayan di situ ? Entahlah. Elemen aksesories seperti poster atau handicraft untuk mempermanis tata interior sepertinya juga tidak diperhatikan. Terakhir kesana banyak poster atau gambar yang (entah sengaja atau tidak) dipasang miring ga karuan.
Bawa 50 ribu bisa makan kenyang berdua atau bertiga malahan. Berarti ga jauh beda sama pizza hut donk kalau gitu pricingnya ? Hahahaha
Terlepas dari review saya ini, cobalah mampir kesana, makan secicip dua cicip lalu bandingkan dengan penyedia steak lainnya yang menyasar segmen yang sama. Pilihlah, lidah ga akan bisa menipu selera kita kan ?

Jumat, 17 Juli 2009

RM mAmink Daeng Tata: Iga Bakar, Sop Konro dan Es Pisang Ijo + Pallu Butung

Penderita Sakit Sekalipun Bisa Menikmati
TATA RiBs Daging Iga Bakar Empuk dan Lezat

Jakarta, dobeldobel.com - kelanakuliner.com
Seharian dari pagi di bilangan Mega Kuningan meliput peristiwa ledakan kedua di hotel yang sama JW Marriot dan Ritz Carlton memang membuat saya lelah serta sedikit lapar. Seperti biasa mas Dian rekan saya mengingatkan bahwa saya ada janji dengan klien-klien untuk diliput dan ditemui tentunya untuk sebuah penulisan. Namun karena saya menganggap berita peristiwa ledakan bom di Mega Kuningan jauh lebih penting untuk dilaporkan, saya menundanya dan akan menindaklanjuti setelah sholat Jum'at.

Kemudian saya pun sholat Jum'at di kawasan Mega Kuningan, kawasan yang mendadak jadi ramai oleh orang serta para pedagang jajanan kaki lima, tentunya membuat suasana tersendiri semenjak pihak aparat keamanan membuka blokade sejak siang setelah pukul 10.30 wib. Dan saya pun setelah mendapatkan beberapa gambar, kemudian langsung meluncur ke bilangan Tebet, untuk menemui Daeng Tata, sang pemilik rumah makan Sop Konro dan Iga bakar yang terkenal mAmink Daeng Tata®.

Sesuai dengan janjinya, saya bisa menemuinya di pintu masuk tanpa kesulitan, karena kebetulan ia sedang bertemu dengan salah satu kenalannya di meja makan dekat pintu masuk. Wah, tak seperti biasanya, Warung masakan Makassar ini sepi, hanya 5 meja saja yang saya perhatikan terisi oleh pengunjung. "Yah mungkin karena peristiwa ledakan bom di Mega Kuningan berimbas ke para pengunjung kami yang memang umumnya adalah orang kantoran," jelas Daeng sambil tersenyum kepada kelanakuliner.com

Siang itu, saya melihat anak dan istrinya duduk di meja pemesanan. Sang anak tampak dengan busana muslim karena habis sholat Jum'at, dan istrinya yang mengenakan jilbab terlihat masih cantik duduk di dekat sang anak. Daeng Tata sendiri mengenakan baju koko dan menyambut saya dengan ramah sambil menwarakan saya untuk menikmati Sop Konro sekaligus Iga Bakarnya yang dipatenkan. Wah pucuk dicinta ulampun tiba. (Sebenarnya saya enggan menerima tawarannya untuk makan daging, berhubung sakit gigi saya sedang kumat, maklum sebagai penikmat makanan dan jajanan saya memang tak pandai merawat kesehatan gigi saya. Anda bisa banyangkan sendiri, bila sedang berkelana kuliner, sehari saya bisa makan sedikitnya 3 tempat dan jarang bersikat gigi. Bisa Anda bayangkan repotnya kan?). Namun karena keramahan dan biar ada waktu saya mempersiapkan peralatan wawancara, saya biarkan dia dan mengangguk saja.

Menurut beberapa teman saya di jaringan FB, Sop Konro buatan Daeng Tata bukan saja terkenal lezat, namun juga sangat membantu para penderita kolesterol. Lho kok bisa? Karena racikan rempath-rempah dan sopnya yang dibuat mampu menetralisir bukan saja kolesterol yang ada di dalam daging iga yang disajikan, tapi juga secara tak langsung bisa mengurangi kolesterol jahat di dalam tubuh orang yang menikmatinya. "Seperti air tajin beras yang dijadikan kuah sop konronya, diyakini banyak orang bisa menurunkan kolesterol," jelas sang penggemar motor unik Skuter ini.

Saya pun awalnya tak begitu percaya, maklum sebagai penikmat kuliner saya selalu mengetahui bahwa penyumbang terbesar dari penyakit degeneratif adalah dari makanan. Terutama makanan yang masuk kategori junk food. Perlu Anda ingat, makanan sampah yang maksudkan bukan saja makanan import dari luar negeri, tapi di Indonesia juga ada. Cirinya adalah, penggunaan bahan pengawet, vitsin (atau micin dan bahasa ilmiahnya MSG), kemudian penggunaan bahan berkolesterol tinggi seperti santan kelapa yang jenuh seperti masakan daerah-daerah tertentu dan makanan atau minuman yang menggunakan zat pewarna.

Begitu datang di meja saya nasi bertabur bawang goreng dan sambal yang akhirnya saya tahu itu adalah saos bumbu tauco serta kecap, baru kemudian sop konro yang legendaris dari tanah Makassar itu hanya dalam waktu kurang dari 3 menit (cepet juga neh time service-nya). Tak lupa saya memesan es jeruk, kerana saya lupa memesan minuman istimewa sajian Daeng Tata. Ah masa bodo... Melihat sop konronya saja saya sudah terbit selera menggila dan sesaat lupa pula sakit gigi yang mendera semenjak pagi. Saya tahu saya bakalan menghadapi suwiran daging penyelip gigi nan menyiksa dari tulang iga sapi yang akan saya nikmati ini. Tapi gak peduli, karena bau harum Sop Konro mengalihkan dunia saya (iklan banget gak sih?)

Mulanya saya menikmati daging dengan garpu dan sendok dan setelah datang Iga Bakar (TATA RiBs™), sayapun menggunakan pisau untuk mengiris daging yang menempel di tulang iga sapi malang itu (maaf yah om sapi... tulang igamu tampaknya terlalu nikmat untuk disia-siakan).

Selagi saya menikmati daging iga yang empuk dan lunak ini, sesekali Daeng Tata, yang bernama asli Muhammad Amin ini, mengingatkan saya agar menikmati sop konronya dengan memegang tulang iganya, karena memang begitulah khas cara memakannya. Hehehe... gak perlu ja'im kalau makan di tempatnya Daeng Tata, karena sudah berapa pejabat presiden yang makan di tempat ini, kecuali bung Karno saja, karena memang bukan masanya beliau. (Saya percaya, semisalnya Daeng buka saat bung Karno berkuasa, pasti dia juga akan menikmati masakan khas Sulawesi Selatan ini, kan bung Karno terkenal sebagai pengelana kuliner sejati juga).

Kunyahan awal saya hanya berani manyuap nasi dan kuah sop konro yang gurih dan aroma bakaran daging yang khas, ditambah rasa bumbu tauco yang gurih dan manisnya kecap serta asamnya perasan jeruk nipis membuat saya mulai beranikan diri untuk mengunyah irisan daging iga. Empuk diirisnya dan hap!!! Sukses potongan daging iga berhasil melewati gigi-gigi lemah saya. Saat dikunyah saya mencoba cari-cari bagian terempuk dan tidak alot. Hmmmmm, juicy dan bau gosong daging yang khas menaikkan air liur saya ke permukaan lidah.

Dan masya Allah....! Ternyata gigi saya nggak ngalamin kesulitan yang berarti mengunyah sang daging.... (rahasia empuknya daging ternyata adalah proses presto yang sedikitnya 4 jam dan daging iga dipindah-pindah dari satu panci besar ke panci besar lainnya hingga beberapa kali... Baru saat hendak di sajikan dipanaskan atau dibakar sesuai pesanan, uangkap Daeng Tata tanpa kuatir).

Selesai mengunyah, saya pun mencoba periksa geligi saya dengan lidah apa ada sisa terselip suwiran daging di gigi. Bebas... dan itu saya lakukan hingga sop konro dan iga bakar yang tak kalah lezatnya itu tuntas habis tak bersisa, kecuali nasi. bahkan nasinya yang pulen itupun saya rasa tidak lebih empuk dari dagingnya... Luar biasa, dan pantas saja para pelanggannya mau kembali lagi menikmati masakan sang putra pengusaha minyak terkenal dari Sulawesi ini.

Tak habis sampai di situ, Daeng menganjurkan saya untuk mencuci mulut dengan Es Daeng Tata™ (sebenarnya ini adalah kombinasi es pisang hijau, es pallu butung, bubur sumsum, dan sepotong besar daging durian yang gurih dan lezat... (hmmmm jangan ngiri yah... hehehehe, emang begitulah enaknya kalau jadi pengelana kuliner... makan terus, walau sakit gigi!)

Dan kekuatiran saya sirna begitu menyeruput Es Daeng Tata™ yang tidak membuat ngilu gigi saya, karena di samping saya tidak terlalu terburu-buru menikmatinya, rasa durian (yang oleh ahli gizi dan kesehatan memang diketahui mempunyai antibiotik buat mikroba berbahaya tertentu... nggak percaya? Coba aja kamu minum tablet ampicillin dan makan duren pasti sekejap di lidah terasa sama).

Maka lengkap sudah, petualangan kuliner saya hari Jum'at ini. Gurih dan lezatnya daging iga bakar empuk serta sopnya yang membakar jiwa (huawalah berlebihan banget seh... paling menghangatkan tubuh aja kale!!!?). Memang rasanya lumayan pedas, karena beberapa kali Daeng menuangkan lada bubuk ke daging iga bakar di meja saya, sepertinya dia tahu selera saya yang suka dengan pedas-pedas. Cuma kali ini bukan pedasnya cabai, tapi saya suka itu... berbeda!

Mendengar betapa banyak sudah sapi-sapi yang dijadikan korban santapan lezat Daeng Tata Ribs, anda jangan terkejut kalau dari 5 cabang warung, demikian Daeng menyebut rumah makannya, sedikitnya 500kg iga sapi sehari. memang bukan sapi utuh, hanya iganya saja. Kalau dulu Dorce pernah bilang kepada Daeng Tata, bahwa Sop Konro khas Makassar itu terkadang menggunakan tulang punggung sapi, maka semenjak itu, Daeng hanya menggunakan Iga Sapi, dan 1 iga sapi utuh itu bisa menghasilkan sedikitnya 6 porsi. Jadi kalau 500 iga sapi, artinya ada 3000 porsi dalam sehari habis laku terjual. Harganya pun relatif terjangkau per porsinya, mulai dari harga termurah Rp. 10.000,-. Hitung sendiri berapa omzet yang dihasilkan rumah makan berlabel mAmink Daeng Tata yang mempunyai 300 karyawan ini.

Untuk rekomendasi buat para penikmat makanan daerah, maka saya sangat menyarankan makanan sehat dan bisa membantu Anda untuk menurunkan kolesterol serta beberapa penyakit degeneratif, karena kandungan rempah-rempahnya seperti bawang putih, sereh, lada hitam dan bumbu-bumbu lainnya tak ada yang dirahasiakan. Apalagi proses pembakaran yang menghilangkan lemak-lemaknya membuat masakan ini mejadi lebih nikmat untuk disantap bersama kolega atau keluarga Anda. Dan terakhir tentunya yang tak kalah penting adalah, sekalipun banyak kalangan artis dan pejabat negara serta beberapa kali Bondan Winarno maupun krew televisi wisata kuliner dan jajanan mendatangi serta memberitakan kelezatan makanan milik Daeng Tata ini, harganya tidak pernah melambung tinggi alias terlalu mahal untuk dinikmati semua kalangan. Justru Sop Konro dan Iga bakar (atau Daeng Tata Ribs) jadi terlalu nikmat untuk dilewati.

Sidik Rizal
--------------------------------------------------------------------

Riwayat Usaha Kuliner
DARI KAKI LIMA HINGGA LIMA CABANG RUMAH MAKAN
DAENG TATA GO FRANCHISE 2010

Berdiri semenjak tahun 1993, Daeng Tata memulai karirnya dengan berdagang kaki lima yang dinamainya Tenda Biru. Nama ini dibuat jauh sebelum Dessy Ratnasari ngetop menyanyikan lagu hitnya yang terkenal "Tenda Biru" (dan ternyata akhirnya Dessy Ratnasari menjadi pelanggan tetap). Daeng Tata yang sebenarnya mempunyai orang tua pengusaha perminyakan tersohor di Sulawesi Selatan dan kini pun masih memiliki Pompa Bensin di daerah Mampang dekat Kantor Republika, benar-benar tak ada keinginan untuk melanjutkan usaha ayahnya. Bahkan sang penggemar masak ini nekad berdagang kaki lima masakan khas daerahnya, kala itu Coto Makassar.

Muhammad Amin, yang sering diberi julukan Maming ini (atau mAmink, yang berarti singkatan namanya M. Amin) sudah sejak kecil suka memasak semenjak ikut kepanduan (pramuka, ia masih sebagai Penggalang) dan kakak kelasnya yang sudah jadi Pendega, Bondan Winarno sering membimbingnya. Wajar saja bila kini ia memanggil Kak Bondan, dan mereka jadi sering bertemu di televisi maupun acara jajanan kulinernya Bondan Winarno.

Perjuangannya membuat usaha warung makan kecil-kecilan semula tidak direstui oleh orang tuanya, apalagi sang ayah, H. Abdurrahim merasa bahwa usaha bidang perminyakan jauh lebih memberikan keuntungan yang menjamin daripada usaha rumah makan. Tapi Daeng Tata bersikeras hendak mandiri dan lepas dari adat dan kebiasaan keluarga. Anak ke 7 dari 11 bersaudara ini percaya bahwa ia harus memilik usahanya sendiri yang sesuai dengan minat dan keahliannya.

Karena semangatnya yang tinggi itulah, beberapa temannya terinspirasi untuk membuka usaha yang serupa. Tak kurang seperti Wahyu Saidi, sang Doktor Bakmi, mantan pegawai kontraktor konstruksi perusahaan besar beralih usaha menjadi pemilik rumah makan bakmi terkenal. Dan Daeng Tata tak merasa besar kepala justru dia merasa telah memberikan manfaat terhadap sesama saudara dan teman.

Lelaki kelahiran Makassar, 6 Juni 1956 ini memang berniat akan membuka waralaba rumah makannya. Persiapan teknis dan standardisasi telah ia persiapkan selama beberapa tahun terakhir untuk memenuhi persyaratan teknis waralaba. Daeng Tata yang selalu berpenampilan necis dan bersih ini mentargetkan paling lambat 2010 dia akan membuka waralaba dengan proyek percontohan 5 cabang usaha warungnya yang kini menyebar beberapa tempat. Dua di bilangan Tebet, Jl. Abdullah Syafi'i dan Cassablanca, satu di Kebayoran Lama, Simprug, Permata Hijau, satu di Pasar Minggu, Ruko Pejaten Raya, dan terakhir di Bandung.

Perjuangannya dari usaha kaki lima hingga kini mempunyai rumah makan besar dan ramai pengunjung dari semua kalangan ini memang mempunyai kiat yang perlu untuk dijadikan pelajaran. Strategi harga yang segmentasinya dalam piramida tingkatan strata sosial konsumennya adalah bagai piramida dimana segmen menengah ke bawah pasarnya jauh lebih besar. Dengan cara sederhana ia mencontohkan, bahwa dulu ketika ia meulai usahanya ia mempromosikan Coto Makassar melalui supir taksi yang biasa mangkal di depan warungnya di bilangan pancoran Jakarta Selatan. Sering dia mempromosikan kepada para supir taksi itu untuk mengajak penumpangnya untuk menjadi tamu di warungnya.

Walau terkadang dia diakali oleh para supirnya, yang applause (aplusan) dengan mengajak rekannya sesama supir untuk makan di tempatnya, sehingga mereka bisa makan 2 porsi dengan harga 1 porsi. Tapi justru di lain waktu para sopir itu dari mulut ke mulut mempromosikan Coto Makassarnya dan kemudian dari mereka membawa para penumpangnya untuk makan di warungnya. Proses promosi dari mulut ke mulut dan strategi harganya ini berlangsung sekian tahun, kini mAmink Daeng Tata menikmati hasil usahanya. Seperti tak kurang hampir semua presiden RI pernah mencoba masakannya Tata Ribs dan Sop Konronya, kecuali bung Karno. Dan banyak artis seperti Dorce, Dessy Ratnasari, Indro Warkop, Leroy Usmani dan artis ngetop lainnya yang menjadi pelanggan tetap mingguan atau bulanan.

Dan sudah sewajarnya Daeng akan go franchise (mewaralabakan) merk dagang Tata Ribs dan Sop Konronya yang mulai populer dan akrab di lidah orang Indonesia ini. Berkat perjuangan kerasnyalah makanan khas Sulawesi Selatan ini menjadi makanan yang dikenal nusantara. Sehingga makin menjamur saja rumah makan Sop Konro atau minuman yang khas Makassar ini di seluruh wilayah Indonesia. Dan menyikapi hal itu, Daeng pun akan mewaralabakan usahanya di tahun 2010, sebagai bukti ingin memenuhi permintaan pasar dan pelanggan.

Perjuangannya ternyata belum berakhir, dia masih punya keinginan untuk mewaralabakan usahanya setelah mempatenkan merk Tata Ribs-nya. Semua itu tidak pernah sedikitpun mengurangi keramahan pelayanannya, dengan selalu menyebutkan "Terima Kasih, tak ada yang ketinggalan?" Ciri khas pelayanan sang daeng dan ini sebuah pelajaran yang patut ditiru.

So, bagi Anda tinggal di luar Jakarta ingin menjadi pewaralaba merk dagang Sop Konro, Coto Makassar dan Iga Bakarnya Daeng Tata, segera saja hubungi nomoro telepon langsung ke mAming Daeng Tata di (021) 689.00.637 atau (021) 998.1111 atau rumahnya (021) 830.4455 "And please be franchisee, you will get much more benefit besides you promote Indonesia cuisine! Are you interested?"
(Sidik Rizal)

Meski bukan seorang pelaut, H Mamink Daeng Tata mewarisi tekad yang sama. Sekali mengin-jakkan kakinya di Jakarta, ia pantang pulang sebelum sukses sebagai seorang pengusaha.
Tahun 1993, Mamink membuka warung kaki lima di Jl Prof Supomo, Jakarta Selatan. Di situ ia menjajakan makanan khas Makassar, sop konro. Menurut pengakuannya, ide membuka warung ini karena tergelitik oleh maraknya restoran asing cepat saji di Jakarta. "Dengan resep dari luar, mereka bisa sukses di sini. Padahal, kita banyak mempunyai resep makanan dari berbagai daerah yang kaya rasa. Karena itulah saya mencoba menjajakan sop konro untuk lidah orang Jakarta," kata Mamink kepada Majalah Gontor.
Untuk itu Mamink meninggalkan usaha lamanya sebagai agen penjualan rumah di Jakarta yang ia rintis sejak tahun 1989. Bermodal Rp 5 juta, ia membuka warung kaki lima di areal seluas 5x8 meter persegi. Mamink, yang lulusan Akademi Pimpinan Perusahaan (APP) Makassar, itu memang bertekad sukses di Jakarta dan tak berniat kembali ke Makassar. Bersama sang istri, Hj Hermina, dan tiga anaknya --Molice G Amin, Kristin Putri Amin, dan Haris Amin-- ia bertekad menaklukkan Jakarta dengan sop konro.
Tekadnya bukan omong kosong. Ia gigih bertahan dengan bisnis sop konro di pinggir jalan, meski ayahnya tak setuju --sang ayah ingin Mamink meneruskan bisnis bahan bakar minyak (BBM) milik keluarga. Sebagai seorang anak, dia tidak pernah memiliki keinginan melawan keinginan orangtua yang tidak setuju dengan pilihan bisnisnya itu. Mamink berprinsip, apapun usaha akan ia jalankan asalkan halal. "Ketika itu ayah mengancam akan membakar warung yang saya bangun. Namun, saya bertekad untuk bertahan di Jakarta. Bisnis SPBU itu saya minta untuk dikelola adik-adik saja," ujarnya.
Dalam diri Mamink memang mengalir darah pebisnis. Karena itu insting bisnis Mamink cukup tajam. Warung kaki limanya banyak disapa pembeli. Bahkan, kini warung Mamink sangat favorit di kalangan eksekutif dan selebritis. Meski para penikmat warungnya itu tak semuanya orang Makassar. "Orang Makassar yang makan di sini 15 sampai 20 persen saja. Sisanya ya orang Jakarta yang beragam ini," kata pria kelahiran Makassar, 6 Juni 1956.
Jumlah pelanggan warung Mamink kian bertambah sehingga pada tahun 1996, ia mengubah warung kaki limanya menjadi rumah makan di Jl KH Abdullah Syafiie. Bahkan untuk mewujudkan impiannya itu, Mamink merelakan mobilnya dijual sebagai modal membangun warung. Keputusan yang diambilnya tak salah, restorannya terus berkembang sehingga mendorong lelaki ini untuk melakukan ekspansi lebih luas lagi. Pada tahun 1998 dibukalah cabang kedua di Jl Tebet Utara I, dan tahun 2001 dibuka cabang ketiga di Casablanca. Dan yang paling baru adalah cabang keempat di Jl Panjang.
Menurutnya, selain mempertahankan rasa yang khas rempah-rempah, kunci sukses Mamink dalam bisnis adalah silaturahmi. Karena itulah Mamink selalu menjalin silaturahmi dengan para pelanggannya. "Silaturahmi harus terjaga dengan baik," paparnya.
Rasulullah sendiri, kata Mamink, telah mengajarkan kepada umatnya untuk memperbanyak hubungan silaturahmi. Karena bisnis ini pada dasarnya menjalin komunikasi antara penjual dengan pembeli, "Hubungan silaturahmi ini harus tetap dipertahankan guna melanggengkan usaha ini," lanjutnya.
Mamink biasanya menjalin silaturahmi dengan para pelanggannya melalui pesan layanan singkat (SMS). Ia biasa mengirim SMS kepada para pelanggan yang lama tak berkunjung ke rumah makannya. Isi SMS sekadar menanyakan kabar sang pelanggan serta doa semoga sehat dan sukses dalam bekerja.
Kesederhanaan, begitulah ciri dan gaya pelayanan di warung Mamink. Keramahan gaya Makassar terus mengalir ketika ia menyambut para pelanggannya. Mamink tak segan-segan mengantar para pelanggannya hingga ke pintu mobil.
Keramahan Mamink bukan hanya kepada pelanggan, tetapi juga kepada pegawai yang berjumlah 185 orang. Bentuknya adalah insentif yang relatif besar bagi pegawai, terutama jika warung yang dibukanya sukses mendatangkan pelanggan. "Untuk kesejahteraan pegawai, saya mencontoh warung Padang. Keuntungan warung juga milik pegawai yang harus dibagi secara adil," ujarnya.
Selain itu, Mamink mencoba menerapkan dalam dirinya sendiri untuk berbisnis dengan dasar ketulusan, keikhlasan dan khalas. "Khalas artinya selesai atau yang sudah ya sudah, sebab rezeki itu yang mengatur Allah SWT," paparnya.
"Apa yang telah diajarkan oleh Islam, saya coba lakukan. Misalnya mengeluarkan zakat minimal 2.5 persen dari penghasilan," sambungnya. Zakat, kata Mamink, jika tidak dikeluarkan, sama saja dengan merampas hak mereka yang membutuhkan.
500 kilogram iga sapi
Latar belakang Mamink menciptakan resep "Tata Ribs" adalah kekhawatirannya atas bahan baku sop konro yang semakin sulit didapat. Seekor sapi hanya cukup untuk 16 porsi. Karena itu, untuk memenuhi bahan baku rusuk atau iga sapi untuk sop konro di empat warungnya, ia membutuhkan 500 kilogram iga sapi setiap hari. Menurutnya, setiap rusuk sebenarnya bisa dipotong menjadi dua bagian. Namun, tindakan itu menuai protes para pelanggan. Pasalnya, konro yang asli harus memiliki pangkal rusuk atau tulang punggung. Akhirnya, dia meramu bumbu untuk memanggang ujung rusuk yang ditolak oleh para penikmat sop konro dan mendaftarkan hak paten resepnya dengan nama "Tata Ribs". "Mungkin orang mengibaratkan 'Tata Ribs' seperti makan steak di restoran Amerika atau Eropa. Bedanya adalah rasa "Tata Ribs" ini lebih cocok dengan lidah kita dan terasa lebih sehat dengan bumbu tradisional yang segar," ujarnya.
Ancaman Sang Ayah
Awal berbisnis, Mamink ditentang sang ayah, H Abdul Rahim. Pasalnya, ia membuka warung tenda sop konro di pinggiran jalan. Sang ayah yang memiliki empat stasiun pengisian bahan bakar untuk umum (SPBU) di Makassar, tak rela jika anaknya berjualan di warung tenda di pinggir jalan.
Saking jengkelnya, sang ayah pernah mengancam akan membakar tenda tempat Mamink berjualan sop konro. Tapi, ancaman ini tak menyurutkan langkah Mamink untuk tetap menjajakan sop konro, makanan khas Makassar. Berkat kesabaran dan keuletannya, Mamink meraih sukses. "Tantangan terberat datang dari ayah yang awalnya tidak setuju dengan bisnis yang saya rintis," ujarnya. [] roji

mAmink
Daeng Tata®
Taste Innovator

Tata Rib's - coTo - konRo - SaTEsapi - mie mAmink - Nasi Mix/box
Tebet 1:
- Cassablanca 33, Jl. KH. Moh Abd. Syafi'i - Telp. (021) 831.7777
Tebet 2:
- Jl. KH. Moh. Abd. Syafi'i 33 - Telp. (021) 8379.3333
Simprug, Kebayoran Lama:
- Soepono, Permata Hijau 25 - Telp. (021) 70 170 000
Pasar Minggu:
- Ruko Pejaten Raya, Pasar Minggu - Telp. (021) 799.11.33
Bandung:
- Dr. Setia Budhi 153, Bandung - Telp. (022) 916.11.111

Rabu, 17 Juni 2009

Sop Konro Plus Pisang Ijo... Hmm Sedap!


Jakarta - Jika ditanya soal makanan Makassar yang terlintas dalam benak pastilah coto Makassar yang kesohor itu. Namun jangan salah, makanan Makassar ternyata tak sekedar coto. Ada pula sop konro, mie titi, nasi goreng merah, sop saudara sampai es pisang ijo yang cocok dijadikan menu makan siang kali ini. Mau?

Makassar yang terkenal dengan julukan sebagai kota Angin Mamiri ini ternyata menyimpan segudang kuliner yang enak-enak. Bahkan saking tersohornya kini tak sulit menemukan resto Makassar di Jakarta. Mulai dari resto yang khusus menawarkan coto Makassar, sop konro dan konro bakar, sampai es pisang ijo saja.

Coto Makassar sebenarnya adalah sebutan untuk soto bagi orang Makassar. Coto ini berbeda dengan soto lainnya yang biasa ditemui, karena isinya berupa irisan daging sapi atau coto campur yang terdiri dari daging sapi, iso, babat, limpa, hati, dll. Kuahnya kecokelatan karena diracik dengan aneka campuran rempah, kacang, dan sedikit genangan minyak plus taburan bawang merah goreng. Untuk menyantapnya tak lengkap jika tanpa buras yang selain itu juga bisa dicocol dengan bumbu kacang.

Sop konro adalah menu lain yang tak kalah menjadi favorit. Sop ini terdiri dari iga sapi dan kuah yang diracik dari rempah-rempah yang hmm... rasanya sedap. Tak heran jika tak sedikit yang ketagihan makanan Makassar ini. Di Jakarta ada pula yang menyajikan konro yang dibakar. Untuk menyantapnya iga sapi ini diberi guyuran sambal kacang diatasnya.

Tak lengkap menikmati hidangan tersebut tanpa yang seger-seger. Es palu butung dan es pisang ijo khas Makassar ini bisa menjadi penutup makan siang Anda. Buat yang sudah tak sabar ingin mencicipi aneka hidangan Makassar silahkan mampir di salah satu resto Makassar berikut ini:

Kedai Pelangi
Jl. Wahid Hasyim No.108, Menteng
Jakarta Pusat
Telp: 021-3190 8839 / 3314 9200

Rumah Makan Marannu
"Coto Makassar & Sop Konro"
Jl. Boulevard Raya Blok TA2 No.27
Kelapa Gading, Jakarta Utara
Telp: 021-4520155/4503574
Jam Buka: 10.00 - 22.00

Baji Ampe
Jl. Pramuka Raya Kav. C No.2
Matraman - Jakarta Timur
Telp: 021-70357610

Resto Mamink Daeng Tata
Jl. Abdulah Syafei Casablanca No.33
Tebet - Jakarta
Telp: 021-8315555/70150000
Jam buka: 9.00 - 23.00

Tata Daeng Lewa
Konro Abadi Khas Makasar
Jl. Raya Serpong BSD Tangerang
HP: 081511166682
Jl. Ciputat Raya No.12, Pondok Pindang
Telp: 021-75908720

RM Karebosi
Jl. Casablanca No.20
Telp: 021-8296915
Jl. Boulevard Raya TA.2/38
Kelapa Gading - Jakarta Utara
Jam buka : 10.00 – 23.00
Telp: 021-4520990

Sop Konro Daeng Baso
ITC Cempaka Mas Lt. 5
Jakarta Pusat
Telp: 021-93811632
( dev / Odi )

Devita Sari - detikFood