Cari data di web ini

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified twitterfacebookgoogle plusrss feedemail

Iklan Hubungi (021)27101381


Informasi berita tentang wisata kuliner di seluruh Indonesia - Kontak Redaksi: (021)271.01.381 - (021)606.36235, Hotline: 08787.882.1248 - 081.385.386.583

Tampilkan postingan dengan label Tongseng. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tongseng. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 Januari 2011

RM Solo Sari: Pelopor Tengkleng Solo Asli Bekasi

Kuliner Khas Keraton Solo Hadir di Bekasi
YANG PAS DI KANTONG RAKYAT


Bekasi, kulinerkuliner.com
Pernah nggak terbayang dalam benak anda bahwa bangsa Indonesia dulu pernah dijajah oleh bangsa asing karena hal sepele, yakni bumbu dapur? Istilah kampungnya The Spices atau bahasa Inggrisnya "Rempah-rempah".


Kalau sekarang bangsa kita sedang dalam proses penjajahan karena alasan harta kekayaan minyak dan tambangnya, dulu (sesuai kemampuan teknologi dan kebutuhan dasar zaman) maka rempah-rempah lah yang jadi alasan bangsa-bangsa Eropa mau menguasai nusantara. Halah... lupakan saja masalah penjajahan, kini kita ingat saja kekayaan budaya dan sumber alam negeri kita dan bagaimana kita bisa menerima berkah dan karunia itu dan menjaganya buat anak cucu kita (buset... ternyata dalem juga yah?)

Sisa-sisa kebesaran nenek moyang kita, yakni berupa kekayaan rempah-rempah adalah satu kebanggaan yang bisa jadi akan hilang ditelan masa. Contoh kekayaan yang akan dan bisa ditelan zaman adalah kuliner nusantara kita dan keanekaragaman rempah-rempah yang sangat terkenal di dunia semenjak masa nenek moyang kita. Sebagai contoh, adalah kelana kuliner di daerah Solo, yang memang sangat terkenal sebagai gudangnya makanan khas Indonesia.

Anda tentu sudah tahu betapa Solo dikenal nusantara sebagai tempatnya makanan-makanan nikmat pembangkit selera, mulai dari Tongseng Solo, Rawon Iga Solo, Bakso Solo, Sop Buntut Solo, Sate Kambing Solo sampai yang paling mutakhir, Nasi Kucing Solo. Tapi mungkin saya termasuk yang baru pertama kali mendengar makanan khas Solo lainnya, yakni Tengkleng.

Apa seh Tengkleng itu? Adalah pengusaha RM Solo Balapan, Tatagna Budi, menjelaskan kepada dobeldobel.com tentang makanan khas dan unik dari Solo ini. "Tengkleng sesuai dengan pakemnya biasanya terbuat dari tulang-tulang kambing, mulai dari kepala, iga, buntut, punggung, sampai dengan tulang kaki. Dan dimasak seperti layaknya sop, namun dengan bumbu-bumbu rempah yang jumlahnya nyaris 28 jenis."

Mendengar penjelasan itu saja bikin saya geleng-geleng kepala. "Wah bener juga bangsa kita ini kaya akan bumbu rempah dan jago makan.... hehehehe!" Lalu saya pun menanyakan apa keunikan bumbu-bumbu masakan khas Solo, Tengkleng ini dibandingkan dengan soto buntut, soto kaki kambing atau sop kambing daerah lainnya. Suami dari Kristiari ini mengungkapkan, "Ada rempah-rempah yang tak bisa diperoleh di daerah lainnya seperti Jakarta atau Bekasi. Salah satunya misalnya kayu Temoyi!"

Dan karena sang pemilik restoran yang sangat doyan makan ini tidak tahu apa bumbu rahasia dan nama rempahnya ia memanggil istrinya, yang juga bertugas sebagai koki utama restoran Solo Balapan ini, Kistiari yang diklaim suaminya sebagai istri yang jago masak menjelaskan, "Kayu temoyi adalah sejenis rempah berbentuk kayu yang oleh orang awam dianggap seperti kayu biasa. Tapi ia mempunyai aroma khas dan mampu menghilangkan bau amisnya daging dan tulang kambing. Tentunya juga harus ada bumbu-bumbu yang lain sehingga menghasilkan aroma dan rasa yang khas Tengkleng."

Tatagna juga menambahkan, bahwa banyak orang yang membuat Tengkleng serupa tapi rasanya jauh berbeda dengan Tengkleng buatannya, bahkan dengan bercanda ia bilang, "Mungkin yang mereka buat itu ya menu Tengkleng-tengklengan... Dan itu bukan kata saya saja tapi juga beberapa pelanggan yang mencobanya di luar kemudian menceritakannya kepada saya setelah mereka bandingkan dengan Tengkleng di RM Solo Balapan ini."

Jangan heran kalau pengunjung RM Solo Balapan ini adalah memang orang-orang yang sudah tahu apa itu Tengkleng, dan Tatagna, yang kerap dipanggil mas Tatag ini, mengungkapkan bahwa kebanyakan para pengunjungnya adalah orang-orang jauh yang datangnya bukan dari Bekasi saja, bahkan sampai orang Tangerang di ujung Jawa Barat pernah datang dan begitu lewat rumah makan Solo Balapan miliknya mengkhususkan diri untuk mencicipi Tengkleng.

Ada kisah menarik tentang Tengkleng yang kini jadi makanan rakyat ini. Dulunya memang Tengkleng adalah makanan sop khas para bangsawan Keraton Solo, hingga pernah satu ketika, di tahun 1980-an saat itu Mas Tatag masih SMA. Di masa itu Presiden Soeharto masih berkuasa, pernah menjamu tamu-tamu penting dan pejabat negara untuk menikmati Tengkleng di Anyer. Dan secara khusus, Tengkleng dimasak di Solo kemudian diterbangkan dengan pesawat khusus untuk bisa disajikan panas-panas buat para tamu-tamunya pak Harto. Huaduh dari sini saja saya sudah bisa ambil kesimpulan.

Ya, bahwa Tengkleng memang ternyata adalah makanan para bangsawan dan pejabat tinggi yang hanya bisa dibuat dengan bumbu rempah-rempah yang adanya di Solo saja. Jadi jelas berbeda dan tak akan sama masalah rasanya dibandingkan dengan sop kambing, soto kaki ataupun masakan sop tulang dari daerah lain. Campuran rasanya yang khas antara, gurih, asam, sedikit manis, bau amis yang hilang dan tenggelam dalam wanginya rempah serta butiran-butiran cabe rawit pastinya akan membuat anda berkeringat dan berdecak nikmat karena begitu lezat dan empuknya daging kambing yang berasal dari tulang-tulang itu.

Ada istilah makan yang aneh dari menu Tengkleng ini adalah "menggeragoti" daging-daging yang ada di tulang-tulang kambing ini. Di Solo sendiri dobeldobel.com mendapati bahwa makanan khas Solo ini bisa jadi rebutan di dagangan kaki lima daerah wisata Solo. Tulang-tulangnya pun mulai dari tulang tengkorak kambing, iga, tulang punggung, tulang buntut, tulang kaki. Huffff, pastinya anda akan ketagihan. Karena begitu saya menikmati bersama anak saya, Lulu Ammantsura, kami sampai berkeringat dan mengeluarkan nafas berat karena saking pedas dan lezatnya masakan ini. Jangan kuatir kalo daging-daging di sela-sela tulang ini keras atau alot, karena sebelum disajikan, mas Tatag ceritakan bahwa potongan-potongan tulang daging ini dipresto dulu, sehingga sudah bisa diketahui betapa empuknya saat dikunyahnya.

Walaupun Tengkleng dikenal sebagai makanan untuk kalangan atas, tapi masalah harga per porsinya yang bisa dinikmati untuk dua orang ini bisa didapat dengan harga relatif tidak mahal, hanya Rp. 18.000,- Dan anda tidak saja bisa menikmati Tengkleng Solo ini, ada makanan khas lainnya seperti, Tongseng, Rawon Iga, Sate Kambing dan Sup Buntut. Dan luarbiasanya di depan restoran ini ada penganan ringan Nasi Kucing Solo, walaupun bukan miliknya, namun menambah khazanah keanekaragaman makanan khas dari Solo. Satu strategi marketing yang cukup efektif.

Bila anda mau dan timbul selera untuk menikmati makanan khas Solo, Tengkleng yang tak akan anda jumpai di Jabodetabek, kecuali di Bekasi ini, anda bisa:

reservasi di no. 021.9664.3471 atau 0811136395

Atau datang langsung ke alamat ini, RM Solo Sari Jl. Bintara Raya No. 1 K, Bekasi Barat.

Sidik Kelana Rizal

Rabu, 19 Mei 2010

SATE BATIBUL BANG FIRMAN - PONDOK KELAPA

SATE KAMBING MUDA-NYA DI MADU dengan TEH POCI
Nggak Empuk Jangan Bayar, Nggak Enak Boleh Tambah Lagi

SATE BATIBUL BANG FIRMAN - PONDOK KELAPA
Jl. Pondok Kelapa Kav. DKI Blok F1/2A Jakarta Timur
(depan Apotik Pondok Kelapa)
Telp (021) 8690.4711 - 0813.9194.0047

Pondok Kelapa - www.kelanakuliner.co.cc
Memburu makanan yang dibuat dari daging hewan memang banyak seninya. Biasanya masyarakat kita sangat menyukai daging sapi, daging ayam atau daging kambing di samping ikan-ikanan.
Daging kambing sangat terkenal baik untuk panggang, bakaran, sop maupun sate dan tongseng. Bicara masalah sate kambing maka yang terbayang adalah Sate Blora, Sate Solo atau Sate Madura juga Sate Tegal. Namun yang paling membedakan dengan sate kambing dari Tegal bila dibandingkan sate kambing daerah lainnya adalah karena umumnya usia kambing yang dipakainya. Sate Kambing khas Tegal kerap menggunakan kambing muda yang berusia bulanan.

Sate Kambing Muda Batibul Bang Firman adalah sate kambing muda asli khas Tegal. Sang pemilik, bang Firman mengungkapkan bahwa di Tegal sendiri nama sate kambing muda sudah demikian populer. Makanan sate kambing muda ini sudah begitu merakyat dan tak mengenal kelas. Mulai dari tukang becak, pegawai pemda, kantoran hingga pejabat terbiasa menikmati sate kambing sebagai makanan dan jajanan favorit mereka sehari-hari.

"Bahkan ada satu rumah makan sate kambing muda milik uwak (paman) saya di Tegal yang selalu ramai pada hari-hari libur dan juga hari raya," papar lelaki yang akan beranak 2 ini. "Jangan heran bila di tempatnya itu juga penuh dengan mobil-mobil dengan plat nomor luar kota, termasuk Jakarta. Dan biasanya mobil-mobil kelas menengah atas" imbuh lelaki bernama lengkap Firman Hakim tentang usaha Uwaknya yang telah berdiri sejak tahun 1994 saat dimana ia masih duduk di bangku SMA.

Karena usaha berdagang sate sudah menjadi usaha keluarga yang turun temurun, akhirnya Firman mulai bekerja ikut Uwak semenjak tahun 2003. Setelah bekerja beberapa tahun dengan pamannya di Tegal, dia mulai beranikan diri untuk membuka usaha sendiri dengan menyewa sebuah ruko tak jauh dari tempat pamannya itu. Sementara pamannya jatuh bangun membangun usaha resto sate kambing mudanya di beberapa kota seperti Semarang, Cilacap. Tapi kesuksesan baru di dapat saat buka ruko di Jakarta, tepatnya Kelapa Gading. Semenjak 2007, Sate Batibul Bang Awi berdiri hingga kini. Semenjak itu pulalah beberapa stasiun televisi swasta meliput usaha rumah makannya.

Kesuksesan pamannya memberi inspirasi Firman untuk membuka sendiri RM Sate Kambing Muda Batibul. Pilihan lokasi jatuh ke Pondok Kelapa (Gak tahu satu kebetulan sama-sama tempatnya menggunakan nama kelapa, hokinya kali yah?). Di samping ada beberapa resto sate kambing lainnya yang sudah ada, tapi sate Tegal khusus menyajikan kambing muda, Firman melihat belum ada yang buka. Maka pada awal Januari 2010 dia mulai meluncurkan RM Sate Kambing Muda Batibul Bang Firman Pondok Kelapa.

Lalu darimana nama Sate Batibul sendiri berasal? Lelaki kelahiran Tegal, 30 Mei 1975 ini menceritakan bila sebelumnya, sang paman memiliki nama yang mirip dengan nama restoran sate Balibul yang telah buka lebih dahulu di Tegal. Maka setelah mengalami klaim dari sang pemilik merk Balibul, bergantilah namanya menjadi RM Sate Kambing Batibul. Bila Sate Kambing Balibul berarti kambingnya berusia di bawah lima bulan (Red: bukan balita! emangnya sapi?), maka nama Sate Kambing Batibul jadi pilihan yang artinya sate kambing umur BAwah TIga BULan.

Karena kambing yang masih berusia bawah tiga bulan ini, maka satenya sangat empuk. Wajar saja bila Bang Firman berani memasang klaim, "Kalau gak empuk, jangan bayar!" Dan yang lebih unik lagi adalah rasa sate kambingnya yang sangat gurih serta masih terasa susunya. "Maklum saja, karena kambingnya masih berusia di bawah tiga bulan, Mas!" jelas lelaki berjenggot ini.  "Jadi umumnya kambing muda ini masih menyusu pada induknya," imbuhnya lagi. Tampaknya bukan saja daging empuk, tapi rasanya begitu lembut sekaligus sangat "juicy" bersensasi susu.

Yang lebih istimewa lagi dibandingkan dengan RM Sate Batibul Bang Awi Kelapa Gading adalah, Sate Kambing Muda Batibul Bang Firman ini menggunakan madu hutan Kalimantan. Jadilah Sate Kambing Muda Madu (Jangan salah baca jadi Kambing Mudanya Dimadu ya!) Semakin mantap dan nendang rasa daging kambing mudanya. Untuk kecapnya khusus pula didatangkan dari Tegal, yakni Kecap Cap Tomat Lombok. "Kecap ini yang pas buat sate Tegal, sedang kecap merk lain rasanya nggak pas di lidah kebanyakan penggemar sate Tegal," jelas Firman berpromosi.

Melihat campuran madu dan kecap di bakaran sate-satenya, terbayang bagaimana sensasi rasanya. Jadi setiap bakaran tusuk sate kambing muda, diolesi dengan madu hutan Kalimantan. Rasa gurih, empuk dan manisnya madu bercampur dengan pedasnya saus kecap, cabe rawit dan potongan bawang merah plus tomat. Tak perlu kuatir dengan kolesterol jahatnya, karena sate kambing muda khas Tegal terkenal tidak membuat tensi bertambah. Apalagi dengan tambahan madu. Anda juga bisa meminta agar sate kambing muda bercampur lemak, karena rasa susunya jauh semakin lezat.

Untuk menjaga kualitas daging kambing mudanya, Firman mengaku terpaksa sementara waktu ini mensuplai dari Tegal langsung. "Saya belum berani mengambil daging kambing dari peternak di Jakarta," ungkapnya tentang bagaimana usahanya menjaga kualitas dan ketersediaan stok daging kambing muda. Itulah sebabnya ia bisa pulang ke Tegal sebulan dua kali untuk mengambil dan mencoba sendiri daging kambing mudanya. "Bila saya coba sayat daging kambing yang telah dipotong kemudian saya bakar sebentar dan saya coba makan. Bila empuk, maka langsung saya bawa ke Jakarta dalam kondisi beku," rincinya kepada kelanakuliner.

Petualangan kelana kuliner kali ini juga bukan tanpa masalah. Karena selama menikmati sate kambing muda yang berusia di bawah tiga bulan ini, jadi timbul pertanyaan di hati. Bagaimana sih hukumnya dalam ajaran agama Islam bila kita mengkonsumsi sate kambing yang berusia kurang dari tiga bulan? Apakah boleh menyembelih kambing yang masih masuk kategori bayi kambing ini? Sepanjang yang diketahui, sate kambing adalah halal. "Wah, kalau untuk hal itu saya tidak tahu Mas?" jelas Bang Firman.

Lepas dari pertanyaan di atas, Sate Kambing Muda Batibul bang Firman memang lumayan terkenal dan lezatnya bisa diadu. Bisa dibilang, kalau nggak enak silakan tambah! Hahaha...! Sebaiknya Anda segera saja berkunjung ke rumah makan sederhana sate kambing muda pake madu ini di daerah Lampu Merah Pertigaan Caman Kalimalang, masuk sedikit ke arah Pondok Kelapa. Kira-kira 100 meter sebelah kanan seberang Apotik Pondok Kelapa, Anda bisa melihat merk plang Sate Kambing Muda Batibul Bang Firman. Jangan kuatir masalah harganya, satu porsi sate kambing muda (10 tusuk) cuma dibandrol Rp 23.000,- dan bila ingin tambahan nasi Anda hanya membayar Rp 3.000,-/piring. Untuk Gule Kambing seporsi hanya Rp 10.000,- demikian pula Sop Kambing hanya dipatok Rp 10.000,- Dan sebagai ciri khas asli dari Sate Kambing Muda Batibul Bang Firman adalah Krupuk Mie seharga Rp 2.500,- atau Kerupuk Kulit seharga Rp 2.000,-

Untuk minuman unggulan di RM Sate Batibul Bang Firman di samping minuman ringan yang biasa disajikan di rumah makan manapun, Anda bisa mencoba Teh Poci khas Tegal. Lidah dan tenggorokan Anda akan dimanja dengan keset dan segarnya kehangatan Teh Poci asli dari Tegal ini. Sangat pas bila dinikmati dengan kelezatan khas sate kambing muda.

Buat anak-anak Anda bila mengajak keluarga berkunjung ke RM Sate Kambing Muda Batibul Bang Firman, Anda bisa memesan Paket Hemat 1, yakni Sate + Nasi hanya Rp 16.000,- atau Paket Hemat 2, yakni Sate + Nasi + Sop seharga Rp 23.000,-

Jadi kini bagi para penggemar sate Tegal tak perlu lagi harus jauh-jauh mencari apalagi sampai pergi ke Tegal. Sate khas Tegal dengan kambing muda bisa Anda dapatkan dan nikmati di kawasan Jakarta Timur bilangan Pondok Kelapa.

Nikmati kelezatan rasa susu dalam sate kambing muda Batibul Bang Firman dengan saus bumbu madu sekarang juga. Buruan pesan tempat, karena sering pelanggan kehabisan tempat atau stok daging kambingnya. Untuk pesanan dalam jumlah porsi besar, pesanan via telepon paling lambat 2 jam sebelum kunjungan di:
No Telp (021) 9346.1965 - 081.385.386.583 - (021) 8690.4711 - 0813.9194.0047

RM Sate Kambing Muda Batibul Bang Firman juga membuka peluang kerjasama. Namun arah kerjasama lebih kepada menjual resep dan merk Batibul Bang Firman dengan sistem jual putus. Bila Anda tertarik untuk menjalin kerjasama dengan Firman, Anda akan mendapatkan pelatihan karyawan selama 3 bulan sedangkan suplai daging kambing muda langsung didatangkan dari Tegal. Jadi Anda tak perlu kuatir dengan stok daging, semuanya terjamin ketersediaannya. "Dengan membeli merk Sate Batibul Bang Firman, maka bukan saja tenaga kerja terlatih yang investor dapatkan, tapi juga suplai dagingnya kami jamin," pungkas Firman.

Sidik Rizal - kotabekasihotnews.blogspot.com

Senin, 12 Oktober 2009

RM Khas Jawa Tengah: Tongseng Kambing Kurma


Mulai dari Tongseng Kambing Kurma, Tengkleng Kambing, Gudeg Jogja hingga Nasi Liwet, semuanya Memang Beda



Bekasi, kelanakuliner.com
Inovasi rasa dan bumbu dalam dunia kuliner tak selamanya baru sama sekali. Salah satu kelana kuliner yang pernah temukan adalah masakan olahan dari daging kambing. Di samping masjid raya Al-Barokah Alun-Alun Kota Bekasi, ada Rumah Makan yang menyajikan menu makanan yang sedikit berbeda dengan sekitarnya, tapi mungkin tidaklah unik buat budaya orang Timur Tengah. Menu unik tersebut adalah Tongseng Kambing Kurma.

Bagaimana rasanya masakan sarat kolesterol ini ditambahi kurma dalam bentuk sirup itu? Menurut sang pemilik rumah makan, Hj. Yusuf yang bernama asli Hj. Ummi Salamah, buah kurma sejatinya dikonsumsi biasanya oleh orang Arab (Timur Tengah) saat bersamaan mereka makan kambing. Berdasarkan pengalaman dan budaya orang timur tengah, mereka termasuk penggemar makanan kaya kolesterol seperti Kambing Panggang, Sop Kambing dan segala olahan masakan dari kambing, namun jarang sekali mereka terkena penyakit tekanan darah tinggi.
Setelah diteliti ternyata kebiasaan mereka adalah menkonsumsi kurma dan madu secara bersamaan, termasuk herbal-herbal lain.

Karena itulah, atas saran seorang teman, saya mencoba untuk membuat Tongseng Kambing Kurma, dengan sesendok sari kurma di setiap porsi tongseng yang saya sajikan buat pelanggan akan menetralisir segala racun dan sumber penyakit yang datangnya ada pada daging kambing. Jadi kini orang-orang yang takut makan kambing, tak perlu kuatir lagi. Mereka kini bisa bebas makan serta menikmati tongseng kambing kami dan silakan periksa sendiri efeknya pada kesehatan tubuh.

Hj. Yusuf, wanita kelahiran Solo, 27 Oktober 1946 yang memiliki tanah lebih dari 1800 meter per segi ini, memang sudah diajarkan dunia usaha semenjak dirinya masih kecil oleh ibundanya. Perempuan yang bersuamikan H. Yusuf Zubaidi ini, membuka warung makan khas Jawa Tengah ini setelah ia menyewakan halaman depan rumahnya untuk warung serupa. Setelah selesai masa kontraknya, maka dia berinisiatif untuk membuka usaha sendiri, di samping mengisi kesibukan di masa pensiunnya semenjak suaminya meninggal, di samping itu sangat menikmati usaha kuliner dimana saat mengawasi karyawannya langsung memasak sajian khususnya itu.

Bila pelanggannya yang menggemari masakan Gudegnya, dapat dipastikan mereka kebanyakan adalah pelanggan yang jauh-jauh datang dari wilayah perumahan di Bekasi Utara, Harapan Indah, Bekasi Selatan, ungkap Hj. Yusuf berpromosi. Ibunda dari 3 orang putra putri Ir. Ahmad Syaifuddin, Dra. Atik Solihati, SH. dan Andi Syahrul Adi ini memfokuskan diri pada makanan khas Jawa Tengah, seperti Solo, Jogja atau daerah lainnya.

Untuk Tengkleng sajian khas RM Jawa Tengah, memang mempunyai rasa agak beda lain dari biasanya. Kalau Anda ingin merasakan Tengkleng khas Solo yang dicampur Kurma atau Madu, bisa Anda pesan. Namun biasanya yang disajikan adalah Tongseng, karena Tongseng lebih berasa manis.

Tertarik mencoba Tongseng Kambing Kurmanya RM Jawa Tengah milik ibu Hj. Yusuf? Anda bisa menghubungi pesanan di no. 081389.510.263 atau 0897.1441.49 atau bisa langsung berkunjung ke Alun-Alun setelah Masjid Raya Al Barkah Kota Bekasi, bila Anda datang dari arah kantor Polres Metro kota Bekasi atau RSUD.

Menu yang disajikan adalah:
1. Soto Kwali Daging Ayam... Rp.7.000,-
2. Soto Campur Daging Ayam... Rp. 7.000,-
3. Tengkleng Kambing... Rp. 13.000,-
4. Tongseng Kambing Kurma... Rp. 17.000,-
5. Tongseng Kambing Solo... Rp. 15.000,-
6. Nasi Gudeg Komplit... Rp. 15.000,-
7. Paket Nasi Veteran A (Nasi Liwet, Ayam selembaran) Rp. 10.000,-
8. Paket Nasi Veteran B (Nasi Liwet, Paha/Dada Ayam) Rp. 12.000,-

- Nasi putih..... Rp. 2.000,-
- Tahu Bacem..... Rp. 1.000,-
- Tempe....... Rp. 1.000,-

Minuman yang disajikan adalah aneka softdrink, es jeruk, es teh manis, jeruk hangat dll.

Sidik Rizal

Sabtu, 08 Agustus 2009

Artomoro: Sate Gule Kambing di Grand Mall Bekasi


Sate Gule Kambing & Tongseng
Masuk Bekasi Grand Mall

Bekasi, kelanakuliner.com
Adalah seorang PNS wanita, beranak 1, Umi Kulsyum yang tertarik membuka usaha kuliner dengan nama Cafe Artomoro. Penyebabnya adalah karena kakak sudah lebih dahulu membuka usaha kuliner dan mengajaknya, maka wanitaPNS ini pun tertarik dan mulai mencari jenis serta usaha kuliner apa yang cocok dengan dirinya yang kebetulan juga punya hobi memasak ini.

Pengalamannya sebagai seorang staf Dinas Ketenagakerjaan di pemda kabupaten Bekasi membuat dia berani untuk membuka usaha kuliner. Tapi berbeda dengan tempatnya bekerja, dimana dia lebih sering menangani SDM buat pabrik atau perkantoran, dimana ada peraturan daerah yang agak berbeda dengan aturan buat usaha kuliner. Biar begitu tetap saja ia mengikuti aturan yang berlaku, bahkan selain mendapat UMR seperti yang telah ditentukan, karyawannya juga terjamin masalah makan mereka.

Pada intinya adalah usaha kafe Artomoro yang berlokasi di Food Court Bekasi Grand Mall lantai 4 ini sengaja dimulai untuk antisipasi bila nanti ia berhenti jadi pegawai negeri. Keinginan berwirausaha memang sudah sejak lama ingin Umi jalankan, baru saat kakak perempuannya, Kristin yang lebih dahulu membuka Pondok Khas Jawa Tengah, di Bekasi Grand Mall dan BCP.

Umi sendiri pun telah membuka outlet Kafe Artomoro di Giant Pondok Bambu, dan baru kemudian satu outlet lagi di Bekasi Grand Mall berdekatan dengan kafe milik kakaknya. Masalah makana yang disajikan, pada mulanya memang ada kendala, tapi akhirnya dia memilih masakan daging kambing, seperti Sate dan Gule yang kebetulan memang belum ada. Sayangnya untuk minuman ia belum mendapatkan izin dari pihak pemilik mall, karena hanya dibolehkan satu jenis minuman atau makanan yang bisa dijajakan di food court lantai 4 tersebut.

Pilihan olahan menu makanan yang khas Semarang memang sangat banyak mulai dari kota Semarang yang terkenal dengan Wingko Babat dan Lumpia ini. Umi memilih Sate dan Gule Kambing, dengan pertimbangan karena kemudahan pengolahan dan belum ada yang memilih sajian ini di food court ini. Dengan kepiawaiannya memilih daging kambing yang sedikitnya 10 kg setiap harinya dia sediakan. Terkadang bila tak habis, dia memmbiarkan karyawannya untuk menghabiskan makanan yang belum laku terjual untuk dihabiskan atau dibawa pulang, daripada sia-sia dan mubazir. Namun untungnya hal ini jarang terjadi, karena umumnya bahan makanan yang disediakan habis laku terjual, ungkap Umi sambil memanggil anaknya yang berusia 7 tahun dan sedang asyik bermain untuk mendekat.

Lalu apa bedanya masakan Semarang dan Solo untuk menu yang memang sering dijumpai di kedua daerah ini? Menurut Umi, bedanya adlah di sayuran dan rempah pada tongsengnya. Tongseng Semarang jauh lebih kaya sayuran dan bumbu, jadi bukan hanya sekadar bumbu kemiri dan gula merah seperti Tongseng Solo. Karena kekayan rempah dan sayuran inilah yang akan terasa beda bagi penikmat kuliner masakan Jawa Tengah.

Bagaimana dengan sajian Sate dan Gule Kambingnya, Anda lihat saja dan rasakan saja sendiri dan bisa reservasi terlebih dahulu ke telp. (021) 9346.1965

Sidik Kelana Rizal - dobeldobel.com

Senin, 13 Juli 2009

Warung Sederhana Sate dan Tongseng Pak Budi

HARGANYA KELAS BAWAH PELANGGANNYA KELAS ATAS


Jakarta, dobeldobel.com - Kelanakuliner.com
Mencari makanan populer khas Solo seperti Sate Kambing dan Tongseng kini di Jakarta tidaklah sulit. Hampir bisa dipastikan setiap jalan raya besar pasti ada tempat panganan dari bahan daging kambing atau ayam ini bisa kita dapatkan. Tapi permasalahannya adalah bisakah Anda mendapatkan yang mempunyai rasa kelas atas dengan harga kelas bawah?

Ada satu tempat yang memang menawarkan makanan favorit penggemar daging kambing bakar kecil-kecil atau yang dikenal sate dan tongseng ini di bilangan Jakarta Timur maupun Bekasi. Nama tempat tersebut adalah SATE & TONGSENG PAK BUDI.

Jangan salah, Pak Budi bisa jadi akan melayani Anda tanpa ragu bila kebetulan Anda sedang beruntung. Istimewanya adalah bila Anda terbiasa memesan tongseng, maka sama halnya Anda memesan sate. Berapapun banyak porsi tongseng yang Anda pesan, maka jumlah satenya tetap sama hingga kapanpun. Itulah prinsip dasar pak Budi (yang ternyata bernama asli Senen Riyanto), bahwa kejujuran adalah segalanya bagi dirinya melayani pelanggan.

Karena adalah hal yang sangat memalukan, bila ada pelanggan yang memesan Tongseng, kemudian biasanya dia mendapat 5 tusuk daging sate kambing ataupun ayam sesuai dengan selera, tanpa diketahui oleh sang pelanggan jumlah satenya dikurangi 1 jadi 4 tusuk saja. Mungkin sekali dua tidak ketahuan, tapi "efek" tidak berkahnya itulah yang selalu dihindari Senen Riyanto.

Bapak dari anak yang bernama Budi ini yang kemudian akrab dipanggil rekan-rekannya dengan sebutan pak Budi (Bapaknya Budi) memang sejak tahun 1985 telah berjuang keras dan ulet berdagang kaki lima masakan tongseng maupun sate kambing. Dan dari hasil dari kerja keras dan ketekunannya selama lebih dari 24 tahun maka tak perlu heran bila kini pelanggannya selain kebanyakan orang biasa banyak juga yang dari kalangan pejabat tinggi. Taruhlah seperti Sri Mulyani, sang menteri kabinetnya SBY, termasuk SBY sendiri yang juga termasuk PSK (Weittt jangan salah sangka om!... PSK adalah singkatan Penggemar Sate Kiloan... hehehehe unik ya?).

Dulu pun ketika jamannya Presiden Soeharto masih berkuasa, sate dan tongseng pak Budilah yang dipesan jauh-jauh dari Solo untuk disantap pak Harto dan tamu kehormatannya. Terutama Thengkleng buatan pak Budi, yang dulunya mangkal kaki lima di Jl. Penataran.

Kisah perjalannya yang susah sempat diceritakan langsung kepada kelanakuliner.com, bagaimana ia selalu dipandang hina oleh lingkungannya karena berdagang sate, bahkan sempat dia tidak dikasih hutangan rokok oleh tetangganya karena status pekerjaannya. Tapi Senen Riyanto pantang menyerah, dengan semangat dan keinginannya untuk memperbaiki hidup apalagi karena ia menikah muda dan didorong oleh kelahiran anaknya yang pertama dan ia beri nama Budi dari istrinya yang bernama Kanti Rahayu, ia mulai melanjutkan berdagang Sate dan Tongseng dengan bumbu khas Solo.

Bila dulu saat susah dia susah sekali mendapatkan dukungan dan bantuan baik pihak bank maupun siapa saja, maka kini semenjak warung Sate dan Tongsengnya ramai dikunjungi pelanggannya, maka sponsor pabrik Kecap Bango mengajaknya bekerja sama, demikian pula pihak perbankan banyak yang menyodorkan bantuan pinjaman untuk membuka cabang berikutnya.

Saat diwawancarai saja, Senen sempat dihubungi oleh seorang rekannya yang menawarkan tanah untuk dibelinya, namun dengan ramah dia mengatakan bahwa dia sedang mempersiapkan pernikahan anaknya, Budi yang baru saja selesai diwisuda dari Kampus Trisakti dengan meraih gelar Sarjana Akuntansi.

Ada prinsipnya Pak Budi selain kejururan sebagai andalan utama, yakni tentang kualitas makanan dan rasa. Kalau mau berdagang makanan seperti saya dan disukai oleh pelanggan adalah, Berani Enak dan Berani Murah. Maka bisa dipastikan yang belanja akan lebih banyak yang datang. Hal ini bisa dibuktikan banyaknya kunjungan kendaraan roda dua (motor) dan pejalan kaki yang menggunakan kendaraan umum dibandingkan yang bermobil (walaupun terkadang pelanggan yang berkendaraan roda empat membludak).

Kiat saya mudah saja, lebih baik saya memasang harga yang terjangkau oleh mereka yang berkendaraan motor, namun pelayanan dan menu makanan kami bisa juga dinikmati kalangan bermobil. Daripada saya memasang harga tinggi, dan hanya kalangan bermobil saja yang mampu, tapi pengunjungnya sedikit. Percuma dan bisa banyak kehilangan pelanggan baru.

Satu lagi rahasia bumbunya, yakni selalu dia menggunakan kecap Bango, ujarnya berpromosi. Karena rumah makannya yang kini ada 5 tempat ini mungkin hanya yang di Pusat di Jl. Pahlawan Revolusi, depan kantor Pos saja yang didukung penuh bilboard Neon Box Kecap Bango. Dan jangan kaget, selama sebulan sedikitnya pak Budi menggunakan 300 galon Kecap Bango. Pantas saja, Kecap bango tak mau kehilangan pelanggan istimewa seperti Pak Budi.

Itulah sebabnya, Kecap Bango mengajak sang pedagang ulet Sate & Tongseng ini dalam cara Jajanan Bango di Senayan setiap eventnya diselenggarakan. Dan hebatnya lagi, dalam acara Jajanan khas Bango yang dibuka pukul 9.00 pagi, Lapak Tongseng dan Satenya Pak Budi pasti antri dipenuhi pelanggan jauh sebelum jam pembukaan. Pasalnya, mungkin hanya jajanan Sate dan Tongseng Pak Budi yang mematok harga sangat murah tapi para penggemar sate maupun tongseng bisa puas. Perlu dicatat dan ditiru oleh kita bersama, bahwa harga rendah atau BERANI MURAH namun kualitas dan rasa tinggi atau BERANI ENAK, itu saja rahasia sukses kalau mau jadi pengusaha rumah makan yang bakalan ramai pengunjungnya, demikian jelas lelaki berusia 45 ini mengakhiri pertemuan dengan saya. Tak lupa ia memberi saya dua bungkus sate dan tongseng yang saya bawa pulang untuk saya nikmati beserta keluarga.
Sidik Rizal.

Sate & Tongseng Pak BUDI
menerima pesanan Resepsi dan Pesta serta catering perhotelan
Rumah Makan
Pusat:
- Jl. Pahlawan Revolusi, depan Kantor Pos
HP. : 0813.0111.851 / 0813.294.000.46
Telp. (021) 866.02157
Cabang:
- Jl. Pahlawan Revolusi, Apotik Kimia Farma - Telp. 0812.107.97432
- RC Veteran - Bintaroc - Telp. (021) 737.0709
- Jl. HM. Joyo Martono - Bekasi Timur - Telp (021) 883.56668
- Jl. Penataran, Jakarta Pusat - Telp (021) 886.02157
-------------------------------------------------------------------------------------------

Tulisan Terkait dengan Warung Sederhana Sate & Tongseng Pak Budi

Berpetualang di Festival Bangau
sumber: Agustiyanto Blogs

Tanggal 23 Mei yang lalu di kawasan Parkir barat Gelora Bung Karno terdapat festival kuliner yang diselenggarakan oleh kecap bangau. Berbagai Hidangan tersedia disana, dari sate, tongseng, martabak, soto, angkringan, nasi timbel, nasi uduk, nasi goreng dan bahkan es goyang yang turut meramaikan acara tersebut.

Dengan seting tempat berjejer-jejer pengunjung diijinkan memilih hidangan yang memiliki harga yang sama seperti di tempat aslinya, selain itu tersedia meja makan yang diseting untuk bersama-sama.

Pada kesempatan tersebut kami mencoba merasakan Warung Sate & Tongseng sederhana Pak Budi, memiliki rasa enak dan gurih. Daging sangat empuk dan rasa bumbu meresap tajam sehingga pantas kalau harus mengantri panjang untuk menikmati hidangan tersebut.

Jajan Enak di Festival Jajanan Bango
Fotografer -Odilia Winneke

Tanggal 23 Mei-24 Mei lalu, Festival Jajanan Bango untuk kelima kalinya kembali digelar di Jakarta bertempat di Plaza Selatan Gelora Bung Karno. Lebih dari 50 penjual makanan tradisional unggulan dari berbagai daerah di Indonesia memeriahkan festibal yang bertema 'Festival Kelezatan Sepenuh Hati' ini. Apa saja suguhan dari festival ini?

Tongseng disajikan panas dengan nasi putih akan membuat kita kenyang dan puas. Kedepan tentu acara akan lebih seru sehingga sayang apabila di lewatkan begitu saja.

Warung Tongseng & Sate Sederhana Pak Budi termasuk yang banyak dijejali pembeli. Tongseng diracik lansung di depan pembeli. Demikian juga sate kambingnya yang empuk.