Cari data di web ini

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified twitterfacebookgoogle plusrss feedemail

Iklan Hubungi (021)27101381


Informasi berita tentang wisata kuliner di seluruh Indonesia - Kontak Redaksi: (021)271.01.381 - (021)606.36235, Hotline: 08787.882.1248 - 081.385.386.583

Senin, 03 Agustus 2009

Taman Kuliner : Tempat Kumpul Bikin Acara Sambil Makan Enak

Chandra Dj. : (Sebuah Tinjauan Analisa Wirausaha Kuliner)

Konsep A to Z sebuah Usaha Kuliner berbentuk Pujasera

Jakarta, kelanakuliner.com
Pernah mendengar istilah pupuler Pujasera, kan? Pusat Jajan Serba Ada. tapi pernahkah Anda mendengar Apel Gede? Apel Gede artinya Ape Lo minta Gue Ade.....! Kini konsep Apel Gede berubah dan bermetamorfosis mulai dari manajemen dan lokasinya. Namun manajemen pengelolanya masih tetap sama yakni Chandra Djamaludin, sang pencetus ide orisinil tersebut.

Bagaimana konsep manajemen Taman Kuliner yang diberi nama A to Z Concept ini bisa berjalan selama lebih dari satu setengah tahun? Menurut penuturan lelaki paruh baya keluaran manajemen puncak di perusahaan asing Philips dan Osram ini kepada kelanakuliner.com bahwa memang ada rencana untuk mewaralabakan usaha pusat jajanan serba ada ini.

Mungkin setelah skripsi anak perempuannya selesai dan dipublikasikan, dan dalam waktu dekat ini di tahun yang akan datang, Standard Operational Procedure (SOP) atau Prosedur Operasi Baku yang jadi acuan waralaba bisa disiapkan untuk para investor lokal yang mempunyai tanah luas sedikitnya 1000 meter per segi dan berada di pinggir jalan raya ramai dan mau dikembangkan jadi usaha taman kuliner dengan merk TAMAN KULINER.

Chandra sendiri mengakui bahwa usaha pujasera gaya Taman Kuliner bisa balik modal (BEP) dalam waktu 2 tahun paling lambat. Sebagai pilot project, Taman Kuliner Kalimalang Bekasi, memang bisa dijadikan acuan bagaimana mengelola sebuah usaha pujasera di bidang kuliner yang hanya bermodalkan manajemen simpel dan efisien serta tak perlu bermodalkan investasi terlalu besar.

Bagi Chandra Djamaludin sendiri, memang usaha kuliner berkonsep A to Zini tidaklah terlalu sulit namun juga tidak juga bisa disebut gampang sekali. Yang dibutuhkan sebenarnya adalah keseriusan dan manajemen baku yang bersifat fleksibel dan kekeluargaan. Itulah sebabnya, investor Taman Kuliner, yang seorang pensiunan pejabat instansi Deperindag, Christian Purba, mempercayakan lahannya yang seluas 1300 meter per segi ini dikelola secara penuh oleh Chandra.

Karena berkeinginan menangkap pasar (captive market) yang lalu lalang di sepanjang jalur Kalimalang, Chandra mengkategorikan calon pelanggannya sebagai: Pasangan suami istri yang berangkat kerja dengan motor atau mobil. Si suami mengantarkan istrinya berangkat kerja di pagi hari, dan di sore harinya, mereka perlu titik pertemuan (meeting point) sepulang kerja.

Kendaraan umum yang ramai hingga nyaris 24 jam dan jalur juga masuk kategori macet, maka tentunya para pelajar atau karyawan kantoran berkendaraan umum merupakan target segmented yang harus juga dijuju. Karena target pasar yang masuk di jangkauan pelajar, mahasiswa, pegawai kantoran dan/atau mereka yang berkendaraan motor maupun mobil maka konsep A to Z lah yang cocok diterapkan di Taman Kuliner Kalimalang Durensawit.

Itulah sebabnya, ketika pintu gerbang yang awalnya dibangun bergaya mewah seperti pintu gerbang hotel mewah berbintang lima diganti dengan pintu gerbang bergaya sederhana dengan tujuan psikologis mengundang semua kelas dari target pasar yang lalu lalang di jalur padat dan rawan macet itu. Dari sinibisa diambil kesimpulan bahwa Taman Kuliner memang sangat berpotensi untuk bisa memperoleh ROI (pengembalian investasi) yang relatif cepat, yakni hanya dua tahun.










Bagaimana dengan Anda? Tertarik berinvestasi di bidang usaha kuliner,karena Anda mempunyai lahan luas di pinggir jalan macet... Anda bisa menghubungi kelanakuliner atau Chandra Djamaludin.

Sidik Kelana Rizal - dobeldobel.com

Minggu, 02 Agustus 2009

Lontong Cap Go Meh: depan Giant Jatiasih Bekasi

Nostalgia Makanan Jawa Nuansa Oriental


Saat Buka Bersama Reuni Sekolah
Bekasi, kelanakuliner.com
Dunia ternyata memang sempit, begitu rasanya kalau kita berjalan sudah keliling kemana-mana namun akhirnya kita bertemu dengan orang-orang yang ternyata kita kenal juga dengan salah satu keluarga orang yang pernah dekat dengan kita, sekalipun ada yang berpendapat, "Dunia Tak Selebar Daun Kelor".

Tak lama setelah gue berkunjung dari tempat Pendekar Gurame, Komsen Resto Akuarium dan Warung Kuliner, gue ngegeber motor butut tua gue pulang lewat pertigaan tol Jatiasih. Sebelumnya juga udah buat janji ketemu dengan satu kolega, pengusaha Sate Ponorogo yang lokasi rumah makannya ada tepat di depan Giant Jatiasih. Kebetulan dia gak ada di tempat, tapi gue diizinin ngambil foto keadaan rumah makannya. Buat gue gak ada masalah, hitung-hitung nabung pekerjaan dan biar gak repot di besok hari.

Buka mulai dari sore hari aja ya?
Tapi siapa sangka saat lihat di sampingnya ada tempat makan dengan tulisan putih berlatar banner hitam "Lontong Cap Go Meh" bikin gue jadi penasaran. Mang seh... selama keliling Kota Bekasi dan Kabupaten belum ada tuh yang namanya Lontong Cap Go Meh, tapi kayaknya di Cikarang ada, tapi lupa syairnya tuh, cuma ingat kuncinya! Eh sorry maksud gue lupa tempatnya.

Me in the resto
Iseng-iseng nyobain mampir dan seperti biasa dengan modal kartu nama dan stiker dobeldobel.com, gue masuk kali aja mudah-mudahan ketemu sama sang pemilik, biar bisa langsung wawancara, maklum lah mumpung hari Minggu. Mulanya hanya ada satu pengunjung yang duduk di dekat pintu masuk, karena cuma satu (gue nggak takut, kalo seribu gue ngeri) yang ada, ya udah gue langsung aja ke tempat kasir dan nanyain apa bisa gue ketemu dengan bos pengelola atau pemiliknya.

Untung sang kasir yang manis itu dengan baik en ramah ngasih gue duduk terus menerima kartu nama dan stiker. Gak pake susah, kartu nama sang pemilik ada di tangan gue. Ya udah, langsung aja gue telepon nomor handphone yang ada di kartu nama hitam bertulisan tinta perak itu, Novie, the owner of Lontong Cap Go Meh Yang Tie.

Menu Unggulan Nan Gurih
Dari namanya aja, gue dah mbayangin, pasti sang pemiliknya oriental banget. Nama makanannya aja udah chinese style "Lontong Cap Go Meh", merknya pun china town pulak, "Yang Tie", (hahahaha... whatever lah! kata orang Malaysia).

Eh di telepon HP gue, ada jawaban ramah dari sang pemilik, Ibu Novie (begitu deh awalnya gue panggil dia, tadinya seh mau gue panggil Encik Novie, tapi kuatir nggak sopan), dan ternyata dia sebetulnya lagi ada acara.

Menurut karyawannya, sang bos sedang reuni sekolah. Nggak jelas awalnya sekolah apa, gue duga mungkin reunian kampus kali. Gak lama gue ditawari minum sama pelayan cowok, kebetulan Om... haus banget neh, dari tadi kebanyakan ngomong and promosi kelanakuliner.com.

Ada juga pelanggan cantik seksi
Rumah Makan Lontong Cap Go Meh Yang Tie, kayaknya memang pas untuk jadi meeting point strategis di bilangan Jatiasih depan Giant. Bukan hanya itu, malah kalau kita mau rendezvous bisa jadi inilah tempat yang paling strategis, sambil menunggu bisa menikmati makanan yang relatif nggak mahal-mahal amat. Buat contoh aja, satu porsi Lontong Cap Go Meh, kita hanya perlu merogoh kocek Rp. 10.000,- Pas banget dong buat kita. Begitu tiba waktunya orang yang kita tunggu datang dengan mobilnya, bisa langsung berangkat via tol Jatiasih ke segala jurusan. Apa gue bilang tadi? Sip kan buat rendezvous (kencan rahasia), hehehehe...!

Ada hal yang bikin gue penasaran dari awal, yakni makanan Lontong Cap Go Meh yang sangat kental orientalnya ini. Tapi ternyata rasa penasaran gue nggak terlalu lama, baru aja minuman terakhir gue habis dan gue pamitan pergi sambil sesekali ngambil foto pake kamera gue, eh berdatangan beberapa mobil dan sebuah sedan mewah antik. Gue perhatiin ada mobil Mercedes Tiger tahun 90-an (antik gak?) yang masih mulus berhenti dan nangkring tepat di depan RM ini. Sambil sesekali gue nambah koleksi foto HP, dari dalam resto terdengar suara perempuan meneriakkan nama gue, "Pak Rizal, pak Rizal!"

Mbak Novie
Alhamdulillah, ternyata sang pemilik RM Lontong Cap Go Meh Yang Tie, Novie. Dan gue kaget (ah gue belagak kaget deng, kan waktu gue nelpon gue ngucapin salamlekum tadi) ternyata adalah seorang wanita muda cantik berjilbab.

Kok kayaknya gue kenal, tapi entah dimana. Gue pun nyalamin dia, "Bu Novie?" diapun mengangguk, dan di sampingnya menyusul lelaki sebaya gue... Lagi-lagi wajahnya kok familiar banget... Di akhir nanti gue tahu semuanya. Kami pun segera akrab, gue nyebut namanya mbak Novie, tahu deh dia nyebut gue apa setelah itu.

Setelah basa-basi sebentar, sambil gue bilang bahwa karyawannya bilang Novie sedang reuni, dan diapun menceritakan bahwa dia baru saja reuni temen SMPnya yang di Halim. Wah anak kolong neh, tanpa mikir lama lagi, gue sebut semua temen-temen gue yang anak kolong di daerah Cawang dan Halim Perdanakusumah.

Dan hop... setelah nyebut nama ibu Harty Muntako dan Daniel Dharmayuman, eh bener kan... ternyata wanita yang masih tampak seperti remaja ini menunjuk suaminya dan menggoyang-goyang wajah suaminya... "Eh pak Rizal (atau mas Dik yah?), coba perhatiin, suami saya wajahnya mirip siapa...?" Gue mikir dengan keras...(sekeras tengkorak gue) Siapa yah? Kok kayaknya mirip....

Mbak Novie dan suami mas Bregas
"Ya iya lah, mirip sama Daniel Dharmayuman, mas Ben ini kakaknya Daniel." sergah Novie ke gue. Ya Allah bener kan ternyata dunia ini sempit. Belum habis heran gue, Novie juga menceritakan tentang pekerjaannya yang ternyata juga kami sama-sama pernah kerja di Pasaraya.

Gue pernah kerja di Pasaraya sebagi AFM (Asisten Floor Manager) di lantai 3 dan dia di lantai 1. Hmmm... gimana coba kalo begini, ternyata teman dari segala arah, ya sudah makin susah gue ngasih harga bisnis... hiks! (hahahaha bercanda Mbak!)

Lupakan itu semua. Ada hal yang lebih penting, yakni Lontong Cap Go Mehnya yang sangat berbau oriental itu. Bagaimana enggak... ternyata pemiliknya muslim berjilbab lagi. Emang Cina nggak ada yang muslim... ya ada juga lah.... PITI (Persatuan Islam Tionghoa), iya kan?

Bukan cuma pada malam ke 15 aja!
Maka Novie, wanita beranak dua yang masih tampak seperti mahasiswi ini membuka kisah nama makanan khas lebarannya orang Cina ini. Cap Go Meh sendiri terdiri dari dua kata, Cap go yang artinya lima belas dan Meh yang artinya malam. So... arti keseluruhannya adalah malam yang ke limabelas.

Lontong Cap Go Meh, memang merupakah makanan tradisional Cina yang bisa dijumpai pada pertengahan bulan pertama dari tahun baru Imlek atau Tien Cien. Makanan Lontong yang menyerupai Lontong Sayur ini memang hanya bisa dinikmati pada saat lebaran tahun baru Cina di daerah Jaw Tengah maupun Jawa Timur. Dan tidak di daerah lainnya, menurut cerita Novie.

Wanita istri dari Benarto, ysng seorang seniman grafis di sebuah production house ini, menambahkan pula, nama Yang Tie sendiri sebenarnya adalah panggilan mesra anak-anaknya kepada orang tua mereka, Eyang Putri, dengan ucapan lidah anak kecil, Yang Tie. Dari cerita ini saja penasaran gur hilang, dan gue pun tersenyum, "Ide kreatif dengan memanfaatkan asosiasi konten lokal produk..." Untuk hal ini, gue setuju, kalau ini satu strategi branding yang lihai, cerdik dan unik.

Bukan cuma pelanggan bermobil kok, bermotor juga ada
"Dan kebetulan dari radius lebih 10 km belum ada makanan khas tradisional oriental ini di Bekasi," tegas suaminya yang juga akrab dipanggil Den Ben ini. Novie pun menambahkan, "Setelah yakin keliling Bekasi nggak ada yang menjual makanan Lontong Cap Go Meh ini maka saya pun menaikkan nama ini sebagai nama sekaligus makanan utama sajian di resto kami. Di samping itu kami juga menyajikan minuman unik seperti Es Terong Belanda, kemudian juga Es Nangka Belanda, imbuh wanita yang meliburkan restonya hari Kamis ini.

Untuk nama minuman yang kedua gue agak ngerutin kening. Mungkin Terong Belanda nama minuman khas Medan gue pernah denger dan pernah ngerasain minuman yang dibuat dari sejenis buah Markisa itu. Nangka Belanda? Dengan tersenyum, Novie menjelaskan bahwa Nangka Belanda adalah nama lain dari buah Sirsak dalam bahasa Betawi. Ingat kan lagunya bang Benyamin S, yang terkenal itu, "Nangke Lande diencot-encot jande....!"

Wah baru denger nama buahnya aja gue langsung haus. Nggak pake lama, Novie pun mempersilahkan gue untuk menikmati makanan khasnya Lontong Cap Go Meh, terus ditemani minuman segar Es Lemon.

Begitu melihat lontong Cap Go Meh yang memang seperti kebanyakan lontong sayur di daerah manapun saya pun menyiapkan kamera. Ada satu hal yang nggak biasa, yaitu taburan gerusan (tepung) dari kacang kedelai di atas potongan lontong yang berwarna kehijauan bagian luarnya itu. Rupanya inilah yang membuat lontong ini berbeda dari lontong sayur kebanyakan.

Dan gue pun coba sepotong lontong bertabur serbuk kacang kedelai goreng ini dengan kuah santan opor ayam. Hmm, emang beda rasanya, terutama gurihnya cita rasa bubuk serbuk keledai yang bukan saja membuat gurih tapi sensasi unik dari lunaknya lontong. Dan bila kita ingin mengganti kuah lontong ini dengan kuah lainnya juga bisa. Ada beberapa pilihan lain seperti kuah sop iga atau kuah soto sesuai selera dan menu yang tersedia. Kayaknya seh keluar pakem masakan lontong, tapi menurut Novie, kalau itu memang permintaan pelanggan, kenapa enggak? Demi pelayanan dan kepuasan mereka.

Secara mendasar mungkin gue bisa ngasih rekomendasi penilaian 3 setengah bintang dari skala 5. Lumayan ok, tapi mungkin gue perlu nyoba juga menu sajian utama lainnya yang unik, seperti rawon bakar atau sop iga bakar (yang terakhir ini kayaknya gue sering makan di tempatnya Daeng Tata).

Tertarik mau cari tempat rendezvous atau meeting point di dekat pintu masuk pintu tol Jatiasih dengan akses ke mana saja? Pilihan RM Lontong Cap Go Meh, lokasi depan Giant Jatiasih bisa gue rekomendasikan. Atau untuk sekadar makan siang setelah jam istirahat kerja, karena gue perhatiin, lokasi ini tepat di persimpangan jalan provinsi dimana ada pusat perkantoran dan industri serta pusat perbelanjaan Giant, belum lagi lokasinya yang sangat strategis. Dan untuk akhir pekan, seperti keluarga-keluarga yang lelah sehabis berbelanja di Giant bisa mampir dan mencoba uniknya makanan ringan dan segala waktu ini.

Mau reservasi tempat?
RM Lontong Cap Go Meh Yang Tie
(depan Giant Jatiasih)
Jln. Komsen Jatiasih, Bekasi
Kontak: (021) 7129.4747 atau (021)3277.8105
HP. 081130347

Ayam Bakar Madu Ibu Kris Taman Kuliner: Es Chrystalnya Mengenyangkan

Bumbunya Meresap ke Dalam Daging
Ayam Bakar Madu Bu Kris
Es Chrystal, Es Mutiara, Es Kacang Merah


Durensawit-Kalimalang, kelanakuliner.com
Saat di tengah perjalanan dan berada dalam kemacetan melewati jalur Kalimalang mulai dari Cawang hingga ujung Bekasi, maka Anda tak akan kuatir kehilangan kesempatan untuk berbuka puasa atau makan siang maupun makan malam. Bahkan ada beberapa tempat yang menyediakan menu makanan untuk sahur. Semuanya ada di jalur nan padat bila siang hari terutama padaa saat jam trayek sibuk, yakni jam pulang pergi kerja & sekolah.

Kali ini saya dan beberapa rekan menempuh jalur Kalimalang dengan berkendaraaan roda empat. Di dalam mobil di jam orang pulang kerja, maka akan terasa betapa "guwondok"nya dengan kemacetan hampir di tiap pertigaan yang kami temui di sepanjang jalan itu. Karena sudah tak ada waktu lagi buka puasa di rumah, saya jadi teringat dengan satu kunjungan saya di wilayah seputaran Durensawit Kalimalang itu.

Taman Kuliner sebagai pilihan kami untuk berbuka puasa. Ya Taman kuliner pernah saya tulis pada waktu sebelumnya, termasuk Bakmi Pelangi di Taman Kuliner (kebetulan baru satu itu saja yang pernah saya tulis dan rasakan menu sajiannya). Kami pun sepakat untuk mampir di tempat yang mempunyai lahan parkir lumayan luas.
Baru menjelang 2 jam berbuka saja, Taman Kuliner sudah nyaris ramai dengan kendaraan roda empat dan roda dua.Weleh-weleh, rame juga pujasera kuliner satu ini. Pantes lah kalau Mr Kuliner senior saya, pak Bondan Winarno mengirim utusannya untuk mencari keistimewaan makanan di tempat ini.

Karena pernah berkunjung sebelumnya dan bertemu dengan sang pengelola, General Manager Taman Kuliner, pak Chandra, maka saya pun minta informasinya dari dia, tempat mana seh yang menunya paling laku untuk kami coba. Memang ada dua niat kami... satu untuk berbuka puasa, satu lagi buat bahan tulisan saya.
Pak Chandra pun merekomendasikan satu outlet yang beberapa bulan yang lalu pernah dikunjungi oleh Bondan Winarno (Mr. BW), dan tentunya omzetnya sangat tinggi.Dia merekomendasikan Ayam Bakar Madu Bu Kris. Wah kebetulan deh udah lama nggak nyobain ayam bakar. Apa istimewanya pun kami disuruh langsung menghubungi outlet bu Kris.

Ibu Kris yang sebenarnya bernama Lenny ini menerima kami dan menawarkan minuman berbuka yang paling diminati para pelanggannya. Es Chrystal serta Es Mutiara, dan satu lagi Es Kacang Merah. Mau tahu keunikan minuman segar manis favorit itu? Ternyata bahan dasarnya adalah rumput laut. Hah? (Apa istimewanya sih om?)

Istimewanya adalah butiran-butiran jelly berbahan dasar rumput laut yang dibuat sedemikian rupa berbentuk butiran-butiran mutiara dan bentuk lainnya seperti telur puyuh. Hmmm ini yang bikin saya jadi tambah ngiler dan pengen tahu (hehehe saking nafsunya jadi "pengen" bukan lagi "ingin").

Dari beragam bentuk itu, Es Chrystal (baca: kristal), ada potongan buah seperti nanas, air mata kucing (orang Jawa bilang: selasih). Bahkan kalau Anda lagi beruntung mungkin ada potongan buah-buahan yang lain.

Untuk Es Mutiara juga nggak beda jauh dengan Es Chrystal, tapi butirannya lebih kecil dan potongan buahnya juga lebih kecil. Setiap butiran mempunyai bermacam-macam rasa seperti Lychee, Orange, Strawberry dan sari buah lainnya.

Sedangkan untuk Es Kacang Merah, nah yang ini paling unik, karena ternyata kacang merahnya justru home made, yakni rumput laut yang dibentuk seperti kacang merah dan diberi pewarna madu asli. Bisa kebayang kan rasa manis kacang merahnya kayak apa? Hmmmmmm maknyussss! (bukan kata gue loh, tapi si Mr BW.... kalo gue mah bilang "Aajiiiib!")

Untuk ukuran porsinya, baik Es Mutiara, Es Chrystal dan Es kacang Merah, wah sangat luar biasa. Gimana enggak, dengan harga Rp. 10.000,- dibandrol, kita mendapat menu buka puasa es seukuran porsi untuk dua orang. Romantis banget neh.... (kecuali dikonsumsi sendiri, yah kuwenyang banget deh!) Memang bila Anda berencana buka puasa dengan pasangan, bisa memesan satu porsi dan dinikmati berdua dengan pasangan Anda... dijamin Anda bisa menikmati sajian utama berbuaka, yakni Ayam Bakar Madunya.

Menurut ibu Lenny, istri dari pak Kris Sutedja ini, sebelumnya mereka telah mencoba usaha rumah makan dan kantin mulai dari tahun 1996. Wow...! Berarti sudah 13 tahun dong ya!? Ibu dari 3 orang anak dan nenek dari 2 orang cucu ini mengungkapkan bahwa sejak tahun itu, ia telah buka kantin di BCA Sudirman, kemudian pindah ke Mall Ambassador Kuningan, Food Courtnya lantai 6. Karena masalah usia, maka mereka kini memilih lokasi dekat dengan rumah mereka yang ada di Billy Moon, yakni Taman Kuliner Kalimalang.

Rahasia dari Ayam Bakar Madu olahan Bu Kris ini adalah, daging ayam pilihan (biasanya dada) diungkeb dengan beberapa rempah seperti bawang merah bawang putih dan bumbu lainnya. Yang istimewanya, ungkap Bu Kris kepada kelanakuliner.com adalah madu rahasianya yang telah dia kenal sejak 30 tahun yang lalu. Madu import dari negeri Cina ini, memang mempunyai khasiat tersendiri.

Ayam Bakar Madu bu Kris ini akhirnya jadi pelopor makanan bakaran daging berbumbu madu. Setelah beberapa tahun maka bermunculan lah Ayam Bakar MAdu lainnya, yang ternyata bukan cabang dari Ayam Bakar Madu bu Kris. Ia sendiri tak merasa keberatan dengan menu-menu serupa dan peniru itu. Toh banyak pelanggannya yang datang kembali ke Taman Kuliner dan memilih Ayam Bakar Madunya yang lebih "gimana gettuh!" dibanding menu mereka itu...!

Satu paket Ayam Bakar Madu dengan Sayur Asem dibandrol Rp. 22.000,- dan yang ini pastinya sedap serta bikin kita puas setelah puasa seharian. Untuk Ayam Bakar Madu plus nasi dan Tempe Bacem Madu hanya Rp. 15.000 sedangkan Ayam Bakar Madu solo (maksud gue "tunggal" alias sendirian, bukan "Solo" nama kota Bro and Sis) cuma dipatok Rp. 12.000,-

Pokoknya kalo elu-elu pade mau ngerasain enaknya Ayam Bakar Madu yang bukan hanya Maknyuss dan lezat hingga ke dalam dagingnya itu, serta sekalian berbuka puasa dengan Es Chrystal, Es Mutiara atau Es Kacang Merah yang istimewa dan tentunya dengan suasana yang nyaman serta cozy, kunjungi saja Taman Kuliner dan temui Ayam bakar Madu Ibu Kris. Buruan, karena saat bualn puasa ini cepat sekali pengunjung yang ngejogrog di tempat itu sejam dua jam sebelum bedug, karena Taman Kuliner memang tempat yang enak buat Ngabuburit...! Pasti!
Atau mau sekadar reservasi tempat biar nggak keburu diserobot orang atau nggak kebagian Ayam Bakar Madunya? Telp saja (021)9157.9407 langsung dengan Bu Kris.

Reportase: Sidik Rizal, Indra
Fotografi: Yudhi
Editor: SR