Cari data di web ini

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified twitterfacebookgoogle plusrss feedemail

Iklan Hubungi (021)27101381


Informasi berita tentang wisata kuliner di seluruh Indonesia - Kontak Redaksi: (021)271.01.381 - (021)606.36235, Hotline: 08787.882.1248 - 081.385.386.583

Tampilkan postingan dengan label Rendezvous. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rendezvous. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Juli 2009

RM mAmink Daeng Tata: Iga Bakar, Sop Konro dan Es Pisang Ijo + Pallu Butung

Penderita Sakit Sekalipun Bisa Menikmati
TATA RiBs Daging Iga Bakar Empuk dan Lezat

Jakarta, dobeldobel.com - kelanakuliner.com
Seharian dari pagi di bilangan Mega Kuningan meliput peristiwa ledakan kedua di hotel yang sama JW Marriot dan Ritz Carlton memang membuat saya lelah serta sedikit lapar. Seperti biasa mas Dian rekan saya mengingatkan bahwa saya ada janji dengan klien-klien untuk diliput dan ditemui tentunya untuk sebuah penulisan. Namun karena saya menganggap berita peristiwa ledakan bom di Mega Kuningan jauh lebih penting untuk dilaporkan, saya menundanya dan akan menindaklanjuti setelah sholat Jum'at.

Kemudian saya pun sholat Jum'at di kawasan Mega Kuningan, kawasan yang mendadak jadi ramai oleh orang serta para pedagang jajanan kaki lima, tentunya membuat suasana tersendiri semenjak pihak aparat keamanan membuka blokade sejak siang setelah pukul 10.30 wib. Dan saya pun setelah mendapatkan beberapa gambar, kemudian langsung meluncur ke bilangan Tebet, untuk menemui Daeng Tata, sang pemilik rumah makan Sop Konro dan Iga bakar yang terkenal mAmink Daeng Tata®.

Sesuai dengan janjinya, saya bisa menemuinya di pintu masuk tanpa kesulitan, karena kebetulan ia sedang bertemu dengan salah satu kenalannya di meja makan dekat pintu masuk. Wah, tak seperti biasanya, Warung masakan Makassar ini sepi, hanya 5 meja saja yang saya perhatikan terisi oleh pengunjung. "Yah mungkin karena peristiwa ledakan bom di Mega Kuningan berimbas ke para pengunjung kami yang memang umumnya adalah orang kantoran," jelas Daeng sambil tersenyum kepada kelanakuliner.com

Siang itu, saya melihat anak dan istrinya duduk di meja pemesanan. Sang anak tampak dengan busana muslim karena habis sholat Jum'at, dan istrinya yang mengenakan jilbab terlihat masih cantik duduk di dekat sang anak. Daeng Tata sendiri mengenakan baju koko dan menyambut saya dengan ramah sambil menwarakan saya untuk menikmati Sop Konro sekaligus Iga Bakarnya yang dipatenkan. Wah pucuk dicinta ulampun tiba. (Sebenarnya saya enggan menerima tawarannya untuk makan daging, berhubung sakit gigi saya sedang kumat, maklum sebagai penikmat makanan dan jajanan saya memang tak pandai merawat kesehatan gigi saya. Anda bisa banyangkan sendiri, bila sedang berkelana kuliner, sehari saya bisa makan sedikitnya 3 tempat dan jarang bersikat gigi. Bisa Anda bayangkan repotnya kan?). Namun karena keramahan dan biar ada waktu saya mempersiapkan peralatan wawancara, saya biarkan dia dan mengangguk saja.

Menurut beberapa teman saya di jaringan FB, Sop Konro buatan Daeng Tata bukan saja terkenal lezat, namun juga sangat membantu para penderita kolesterol. Lho kok bisa? Karena racikan rempath-rempah dan sopnya yang dibuat mampu menetralisir bukan saja kolesterol yang ada di dalam daging iga yang disajikan, tapi juga secara tak langsung bisa mengurangi kolesterol jahat di dalam tubuh orang yang menikmatinya. "Seperti air tajin beras yang dijadikan kuah sop konronya, diyakini banyak orang bisa menurunkan kolesterol," jelas sang penggemar motor unik Skuter ini.

Saya pun awalnya tak begitu percaya, maklum sebagai penikmat kuliner saya selalu mengetahui bahwa penyumbang terbesar dari penyakit degeneratif adalah dari makanan. Terutama makanan yang masuk kategori junk food. Perlu Anda ingat, makanan sampah yang maksudkan bukan saja makanan import dari luar negeri, tapi di Indonesia juga ada. Cirinya adalah, penggunaan bahan pengawet, vitsin (atau micin dan bahasa ilmiahnya MSG), kemudian penggunaan bahan berkolesterol tinggi seperti santan kelapa yang jenuh seperti masakan daerah-daerah tertentu dan makanan atau minuman yang menggunakan zat pewarna.

Begitu datang di meja saya nasi bertabur bawang goreng dan sambal yang akhirnya saya tahu itu adalah saos bumbu tauco serta kecap, baru kemudian sop konro yang legendaris dari tanah Makassar itu hanya dalam waktu kurang dari 3 menit (cepet juga neh time service-nya). Tak lupa saya memesan es jeruk, kerana saya lupa memesan minuman istimewa sajian Daeng Tata. Ah masa bodo... Melihat sop konronya saja saya sudah terbit selera menggila dan sesaat lupa pula sakit gigi yang mendera semenjak pagi. Saya tahu saya bakalan menghadapi suwiran daging penyelip gigi nan menyiksa dari tulang iga sapi yang akan saya nikmati ini. Tapi gak peduli, karena bau harum Sop Konro mengalihkan dunia saya (iklan banget gak sih?)

Mulanya saya menikmati daging dengan garpu dan sendok dan setelah datang Iga Bakar (TATA RiBs™), sayapun menggunakan pisau untuk mengiris daging yang menempel di tulang iga sapi malang itu (maaf yah om sapi... tulang igamu tampaknya terlalu nikmat untuk disia-siakan).

Selagi saya menikmati daging iga yang empuk dan lunak ini, sesekali Daeng Tata, yang bernama asli Muhammad Amin ini, mengingatkan saya agar menikmati sop konronya dengan memegang tulang iganya, karena memang begitulah khas cara memakannya. Hehehe... gak perlu ja'im kalau makan di tempatnya Daeng Tata, karena sudah berapa pejabat presiden yang makan di tempat ini, kecuali bung Karno saja, karena memang bukan masanya beliau. (Saya percaya, semisalnya Daeng buka saat bung Karno berkuasa, pasti dia juga akan menikmati masakan khas Sulawesi Selatan ini, kan bung Karno terkenal sebagai pengelana kuliner sejati juga).

Kunyahan awal saya hanya berani manyuap nasi dan kuah sop konro yang gurih dan aroma bakaran daging yang khas, ditambah rasa bumbu tauco yang gurih dan manisnya kecap serta asamnya perasan jeruk nipis membuat saya mulai beranikan diri untuk mengunyah irisan daging iga. Empuk diirisnya dan hap!!! Sukses potongan daging iga berhasil melewati gigi-gigi lemah saya. Saat dikunyah saya mencoba cari-cari bagian terempuk dan tidak alot. Hmmmmm, juicy dan bau gosong daging yang khas menaikkan air liur saya ke permukaan lidah.

Dan masya Allah....! Ternyata gigi saya nggak ngalamin kesulitan yang berarti mengunyah sang daging.... (rahasia empuknya daging ternyata adalah proses presto yang sedikitnya 4 jam dan daging iga dipindah-pindah dari satu panci besar ke panci besar lainnya hingga beberapa kali... Baru saat hendak di sajikan dipanaskan atau dibakar sesuai pesanan, uangkap Daeng Tata tanpa kuatir).

Selesai mengunyah, saya pun mencoba periksa geligi saya dengan lidah apa ada sisa terselip suwiran daging di gigi. Bebas... dan itu saya lakukan hingga sop konro dan iga bakar yang tak kalah lezatnya itu tuntas habis tak bersisa, kecuali nasi. bahkan nasinya yang pulen itupun saya rasa tidak lebih empuk dari dagingnya... Luar biasa, dan pantas saja para pelanggannya mau kembali lagi menikmati masakan sang putra pengusaha minyak terkenal dari Sulawesi ini.

Tak habis sampai di situ, Daeng menganjurkan saya untuk mencuci mulut dengan Es Daeng Tata™ (sebenarnya ini adalah kombinasi es pisang hijau, es pallu butung, bubur sumsum, dan sepotong besar daging durian yang gurih dan lezat... (hmmmm jangan ngiri yah... hehehehe, emang begitulah enaknya kalau jadi pengelana kuliner... makan terus, walau sakit gigi!)

Dan kekuatiran saya sirna begitu menyeruput Es Daeng Tata™ yang tidak membuat ngilu gigi saya, karena di samping saya tidak terlalu terburu-buru menikmatinya, rasa durian (yang oleh ahli gizi dan kesehatan memang diketahui mempunyai antibiotik buat mikroba berbahaya tertentu... nggak percaya? Coba aja kamu minum tablet ampicillin dan makan duren pasti sekejap di lidah terasa sama).

Maka lengkap sudah, petualangan kuliner saya hari Jum'at ini. Gurih dan lezatnya daging iga bakar empuk serta sopnya yang membakar jiwa (huawalah berlebihan banget seh... paling menghangatkan tubuh aja kale!!!?). Memang rasanya lumayan pedas, karena beberapa kali Daeng menuangkan lada bubuk ke daging iga bakar di meja saya, sepertinya dia tahu selera saya yang suka dengan pedas-pedas. Cuma kali ini bukan pedasnya cabai, tapi saya suka itu... berbeda!

Mendengar betapa banyak sudah sapi-sapi yang dijadikan korban santapan lezat Daeng Tata Ribs, anda jangan terkejut kalau dari 5 cabang warung, demikian Daeng menyebut rumah makannya, sedikitnya 500kg iga sapi sehari. memang bukan sapi utuh, hanya iganya saja. Kalau dulu Dorce pernah bilang kepada Daeng Tata, bahwa Sop Konro khas Makassar itu terkadang menggunakan tulang punggung sapi, maka semenjak itu, Daeng hanya menggunakan Iga Sapi, dan 1 iga sapi utuh itu bisa menghasilkan sedikitnya 6 porsi. Jadi kalau 500 iga sapi, artinya ada 3000 porsi dalam sehari habis laku terjual. Harganya pun relatif terjangkau per porsinya, mulai dari harga termurah Rp. 10.000,-. Hitung sendiri berapa omzet yang dihasilkan rumah makan berlabel mAmink Daeng Tata yang mempunyai 300 karyawan ini.

Untuk rekomendasi buat para penikmat makanan daerah, maka saya sangat menyarankan makanan sehat dan bisa membantu Anda untuk menurunkan kolesterol serta beberapa penyakit degeneratif, karena kandungan rempah-rempahnya seperti bawang putih, sereh, lada hitam dan bumbu-bumbu lainnya tak ada yang dirahasiakan. Apalagi proses pembakaran yang menghilangkan lemak-lemaknya membuat masakan ini mejadi lebih nikmat untuk disantap bersama kolega atau keluarga Anda. Dan terakhir tentunya yang tak kalah penting adalah, sekalipun banyak kalangan artis dan pejabat negara serta beberapa kali Bondan Winarno maupun krew televisi wisata kuliner dan jajanan mendatangi serta memberitakan kelezatan makanan milik Daeng Tata ini, harganya tidak pernah melambung tinggi alias terlalu mahal untuk dinikmati semua kalangan. Justru Sop Konro dan Iga bakar (atau Daeng Tata Ribs) jadi terlalu nikmat untuk dilewati.

Sidik Rizal
--------------------------------------------------------------------

Riwayat Usaha Kuliner
DARI KAKI LIMA HINGGA LIMA CABANG RUMAH MAKAN
DAENG TATA GO FRANCHISE 2010

Berdiri semenjak tahun 1993, Daeng Tata memulai karirnya dengan berdagang kaki lima yang dinamainya Tenda Biru. Nama ini dibuat jauh sebelum Dessy Ratnasari ngetop menyanyikan lagu hitnya yang terkenal "Tenda Biru" (dan ternyata akhirnya Dessy Ratnasari menjadi pelanggan tetap). Daeng Tata yang sebenarnya mempunyai orang tua pengusaha perminyakan tersohor di Sulawesi Selatan dan kini pun masih memiliki Pompa Bensin di daerah Mampang dekat Kantor Republika, benar-benar tak ada keinginan untuk melanjutkan usaha ayahnya. Bahkan sang penggemar masak ini nekad berdagang kaki lima masakan khas daerahnya, kala itu Coto Makassar.

Muhammad Amin, yang sering diberi julukan Maming ini (atau mAmink, yang berarti singkatan namanya M. Amin) sudah sejak kecil suka memasak semenjak ikut kepanduan (pramuka, ia masih sebagai Penggalang) dan kakak kelasnya yang sudah jadi Pendega, Bondan Winarno sering membimbingnya. Wajar saja bila kini ia memanggil Kak Bondan, dan mereka jadi sering bertemu di televisi maupun acara jajanan kulinernya Bondan Winarno.

Perjuangannya membuat usaha warung makan kecil-kecilan semula tidak direstui oleh orang tuanya, apalagi sang ayah, H. Abdurrahim merasa bahwa usaha bidang perminyakan jauh lebih memberikan keuntungan yang menjamin daripada usaha rumah makan. Tapi Daeng Tata bersikeras hendak mandiri dan lepas dari adat dan kebiasaan keluarga. Anak ke 7 dari 11 bersaudara ini percaya bahwa ia harus memilik usahanya sendiri yang sesuai dengan minat dan keahliannya.

Karena semangatnya yang tinggi itulah, beberapa temannya terinspirasi untuk membuka usaha yang serupa. Tak kurang seperti Wahyu Saidi, sang Doktor Bakmi, mantan pegawai kontraktor konstruksi perusahaan besar beralih usaha menjadi pemilik rumah makan bakmi terkenal. Dan Daeng Tata tak merasa besar kepala justru dia merasa telah memberikan manfaat terhadap sesama saudara dan teman.

Lelaki kelahiran Makassar, 6 Juni 1956 ini memang berniat akan membuka waralaba rumah makannya. Persiapan teknis dan standardisasi telah ia persiapkan selama beberapa tahun terakhir untuk memenuhi persyaratan teknis waralaba. Daeng Tata yang selalu berpenampilan necis dan bersih ini mentargetkan paling lambat 2010 dia akan membuka waralaba dengan proyek percontohan 5 cabang usaha warungnya yang kini menyebar beberapa tempat. Dua di bilangan Tebet, Jl. Abdullah Syafi'i dan Cassablanca, satu di Kebayoran Lama, Simprug, Permata Hijau, satu di Pasar Minggu, Ruko Pejaten Raya, dan terakhir di Bandung.

Perjuangannya dari usaha kaki lima hingga kini mempunyai rumah makan besar dan ramai pengunjung dari semua kalangan ini memang mempunyai kiat yang perlu untuk dijadikan pelajaran. Strategi harga yang segmentasinya dalam piramida tingkatan strata sosial konsumennya adalah bagai piramida dimana segmen menengah ke bawah pasarnya jauh lebih besar. Dengan cara sederhana ia mencontohkan, bahwa dulu ketika ia meulai usahanya ia mempromosikan Coto Makassar melalui supir taksi yang biasa mangkal di depan warungnya di bilangan pancoran Jakarta Selatan. Sering dia mempromosikan kepada para supir taksi itu untuk mengajak penumpangnya untuk menjadi tamu di warungnya.

Walau terkadang dia diakali oleh para supirnya, yang applause (aplusan) dengan mengajak rekannya sesama supir untuk makan di tempatnya, sehingga mereka bisa makan 2 porsi dengan harga 1 porsi. Tapi justru di lain waktu para sopir itu dari mulut ke mulut mempromosikan Coto Makassarnya dan kemudian dari mereka membawa para penumpangnya untuk makan di warungnya. Proses promosi dari mulut ke mulut dan strategi harganya ini berlangsung sekian tahun, kini mAmink Daeng Tata menikmati hasil usahanya. Seperti tak kurang hampir semua presiden RI pernah mencoba masakannya Tata Ribs dan Sop Konronya, kecuali bung Karno. Dan banyak artis seperti Dorce, Dessy Ratnasari, Indro Warkop, Leroy Usmani dan artis ngetop lainnya yang menjadi pelanggan tetap mingguan atau bulanan.

Dan sudah sewajarnya Daeng akan go franchise (mewaralabakan) merk dagang Tata Ribs dan Sop Konronya yang mulai populer dan akrab di lidah orang Indonesia ini. Berkat perjuangan kerasnyalah makanan khas Sulawesi Selatan ini menjadi makanan yang dikenal nusantara. Sehingga makin menjamur saja rumah makan Sop Konro atau minuman yang khas Makassar ini di seluruh wilayah Indonesia. Dan menyikapi hal itu, Daeng pun akan mewaralabakan usahanya di tahun 2010, sebagai bukti ingin memenuhi permintaan pasar dan pelanggan.

Perjuangannya ternyata belum berakhir, dia masih punya keinginan untuk mewaralabakan usahanya setelah mempatenkan merk Tata Ribs-nya. Semua itu tidak pernah sedikitpun mengurangi keramahan pelayanannya, dengan selalu menyebutkan "Terima Kasih, tak ada yang ketinggalan?" Ciri khas pelayanan sang daeng dan ini sebuah pelajaran yang patut ditiru.

So, bagi Anda tinggal di luar Jakarta ingin menjadi pewaralaba merk dagang Sop Konro, Coto Makassar dan Iga Bakarnya Daeng Tata, segera saja hubungi nomoro telepon langsung ke mAming Daeng Tata di (021) 689.00.637 atau (021) 998.1111 atau rumahnya (021) 830.4455 "And please be franchisee, you will get much more benefit besides you promote Indonesia cuisine! Are you interested?"
(Sidik Rizal)

Meski bukan seorang pelaut, H Mamink Daeng Tata mewarisi tekad yang sama. Sekali mengin-jakkan kakinya di Jakarta, ia pantang pulang sebelum sukses sebagai seorang pengusaha.
Tahun 1993, Mamink membuka warung kaki lima di Jl Prof Supomo, Jakarta Selatan. Di situ ia menjajakan makanan khas Makassar, sop konro. Menurut pengakuannya, ide membuka warung ini karena tergelitik oleh maraknya restoran asing cepat saji di Jakarta. "Dengan resep dari luar, mereka bisa sukses di sini. Padahal, kita banyak mempunyai resep makanan dari berbagai daerah yang kaya rasa. Karena itulah saya mencoba menjajakan sop konro untuk lidah orang Jakarta," kata Mamink kepada Majalah Gontor.
Untuk itu Mamink meninggalkan usaha lamanya sebagai agen penjualan rumah di Jakarta yang ia rintis sejak tahun 1989. Bermodal Rp 5 juta, ia membuka warung kaki lima di areal seluas 5x8 meter persegi. Mamink, yang lulusan Akademi Pimpinan Perusahaan (APP) Makassar, itu memang bertekad sukses di Jakarta dan tak berniat kembali ke Makassar. Bersama sang istri, Hj Hermina, dan tiga anaknya --Molice G Amin, Kristin Putri Amin, dan Haris Amin-- ia bertekad menaklukkan Jakarta dengan sop konro.
Tekadnya bukan omong kosong. Ia gigih bertahan dengan bisnis sop konro di pinggir jalan, meski ayahnya tak setuju --sang ayah ingin Mamink meneruskan bisnis bahan bakar minyak (BBM) milik keluarga. Sebagai seorang anak, dia tidak pernah memiliki keinginan melawan keinginan orangtua yang tidak setuju dengan pilihan bisnisnya itu. Mamink berprinsip, apapun usaha akan ia jalankan asalkan halal. "Ketika itu ayah mengancam akan membakar warung yang saya bangun. Namun, saya bertekad untuk bertahan di Jakarta. Bisnis SPBU itu saya minta untuk dikelola adik-adik saja," ujarnya.
Dalam diri Mamink memang mengalir darah pebisnis. Karena itu insting bisnis Mamink cukup tajam. Warung kaki limanya banyak disapa pembeli. Bahkan, kini warung Mamink sangat favorit di kalangan eksekutif dan selebritis. Meski para penikmat warungnya itu tak semuanya orang Makassar. "Orang Makassar yang makan di sini 15 sampai 20 persen saja. Sisanya ya orang Jakarta yang beragam ini," kata pria kelahiran Makassar, 6 Juni 1956.
Jumlah pelanggan warung Mamink kian bertambah sehingga pada tahun 1996, ia mengubah warung kaki limanya menjadi rumah makan di Jl KH Abdullah Syafiie. Bahkan untuk mewujudkan impiannya itu, Mamink merelakan mobilnya dijual sebagai modal membangun warung. Keputusan yang diambilnya tak salah, restorannya terus berkembang sehingga mendorong lelaki ini untuk melakukan ekspansi lebih luas lagi. Pada tahun 1998 dibukalah cabang kedua di Jl Tebet Utara I, dan tahun 2001 dibuka cabang ketiga di Casablanca. Dan yang paling baru adalah cabang keempat di Jl Panjang.
Menurutnya, selain mempertahankan rasa yang khas rempah-rempah, kunci sukses Mamink dalam bisnis adalah silaturahmi. Karena itulah Mamink selalu menjalin silaturahmi dengan para pelanggannya. "Silaturahmi harus terjaga dengan baik," paparnya.
Rasulullah sendiri, kata Mamink, telah mengajarkan kepada umatnya untuk memperbanyak hubungan silaturahmi. Karena bisnis ini pada dasarnya menjalin komunikasi antara penjual dengan pembeli, "Hubungan silaturahmi ini harus tetap dipertahankan guna melanggengkan usaha ini," lanjutnya.
Mamink biasanya menjalin silaturahmi dengan para pelanggannya melalui pesan layanan singkat (SMS). Ia biasa mengirim SMS kepada para pelanggan yang lama tak berkunjung ke rumah makannya. Isi SMS sekadar menanyakan kabar sang pelanggan serta doa semoga sehat dan sukses dalam bekerja.
Kesederhanaan, begitulah ciri dan gaya pelayanan di warung Mamink. Keramahan gaya Makassar terus mengalir ketika ia menyambut para pelanggannya. Mamink tak segan-segan mengantar para pelanggannya hingga ke pintu mobil.
Keramahan Mamink bukan hanya kepada pelanggan, tetapi juga kepada pegawai yang berjumlah 185 orang. Bentuknya adalah insentif yang relatif besar bagi pegawai, terutama jika warung yang dibukanya sukses mendatangkan pelanggan. "Untuk kesejahteraan pegawai, saya mencontoh warung Padang. Keuntungan warung juga milik pegawai yang harus dibagi secara adil," ujarnya.
Selain itu, Mamink mencoba menerapkan dalam dirinya sendiri untuk berbisnis dengan dasar ketulusan, keikhlasan dan khalas. "Khalas artinya selesai atau yang sudah ya sudah, sebab rezeki itu yang mengatur Allah SWT," paparnya.
"Apa yang telah diajarkan oleh Islam, saya coba lakukan. Misalnya mengeluarkan zakat minimal 2.5 persen dari penghasilan," sambungnya. Zakat, kata Mamink, jika tidak dikeluarkan, sama saja dengan merampas hak mereka yang membutuhkan.
500 kilogram iga sapi
Latar belakang Mamink menciptakan resep "Tata Ribs" adalah kekhawatirannya atas bahan baku sop konro yang semakin sulit didapat. Seekor sapi hanya cukup untuk 16 porsi. Karena itu, untuk memenuhi bahan baku rusuk atau iga sapi untuk sop konro di empat warungnya, ia membutuhkan 500 kilogram iga sapi setiap hari. Menurutnya, setiap rusuk sebenarnya bisa dipotong menjadi dua bagian. Namun, tindakan itu menuai protes para pelanggan. Pasalnya, konro yang asli harus memiliki pangkal rusuk atau tulang punggung. Akhirnya, dia meramu bumbu untuk memanggang ujung rusuk yang ditolak oleh para penikmat sop konro dan mendaftarkan hak paten resepnya dengan nama "Tata Ribs". "Mungkin orang mengibaratkan 'Tata Ribs' seperti makan steak di restoran Amerika atau Eropa. Bedanya adalah rasa "Tata Ribs" ini lebih cocok dengan lidah kita dan terasa lebih sehat dengan bumbu tradisional yang segar," ujarnya.
Ancaman Sang Ayah
Awal berbisnis, Mamink ditentang sang ayah, H Abdul Rahim. Pasalnya, ia membuka warung tenda sop konro di pinggiran jalan. Sang ayah yang memiliki empat stasiun pengisian bahan bakar untuk umum (SPBU) di Makassar, tak rela jika anaknya berjualan di warung tenda di pinggir jalan.
Saking jengkelnya, sang ayah pernah mengancam akan membakar tenda tempat Mamink berjualan sop konro. Tapi, ancaman ini tak menyurutkan langkah Mamink untuk tetap menjajakan sop konro, makanan khas Makassar. Berkat kesabaran dan keuletannya, Mamink meraih sukses. "Tantangan terberat datang dari ayah yang awalnya tidak setuju dengan bisnis yang saya rintis," ujarnya. [] roji

mAmink
Daeng Tata®
Taste Innovator

Tata Rib's - coTo - konRo - SaTEsapi - mie mAmink - Nasi Mix/box
Tebet 1:
- Cassablanca 33, Jl. KH. Moh Abd. Syafi'i - Telp. (021) 831.7777
Tebet 2:
- Jl. KH. Moh. Abd. Syafi'i 33 - Telp. (021) 8379.3333
Simprug, Kebayoran Lama:
- Soepono, Permata Hijau 25 - Telp. (021) 70 170 000
Pasar Minggu:
- Ruko Pejaten Raya, Pasar Minggu - Telp. (021) 799.11.33
Bandung:
- Dr. Setia Budhi 153, Bandung - Telp. (022) 916.11.111

Minggu, 03 Mei 2009

WARUNG ANGKRINGAN HOTSPOT baru di Durenjaya, Bekasi

Warung Angkringan Hotspot
NASI KUCING R.I.
Prembun Kebumen SirnoboyoAsli

Bekasi, webrizal.com
Durenjaya, Bekasi ada Hotspot baru yang memang enak buat nongkrong, terutama buat anda yang mau main internet hotspot 24 jam penuh dan tinggal di dekat daerah Kota Bekasi. Walau Soft-launching nya buka pertengahan Mei tapi kamu bisa hunting lokasinya kini untuk cari tahu tempat hangout di Durenjaya, namanya Warung Angkringan Hotspot, Nasi Kucing R.I. dengan pelayanan dan makanan asli Prembun Kebumen Sirnoboyo.


Pengelolanya adalah Mas Sum, seorang duda dengan anak cowoknya yang ganteng seperti artis keren Vicky siapa gettu (gue lupa itu loh yang main film Rock n Roll barengan sama Nadya Chandrawinata... maklum lah gue kan cowok mana inget sama artis cowo... kalo cewek sih gpp!). Mas Sum adalah orang Prembun asli yang besar di desa Sirnoboyo, 5km sebelah selatan dari kota kecil Prembun Kabupaten Kebumen. Itulah sebabnya nama Warung angkringannya Prembun Kebumen, Sirnoboyo, demikian jelasnya sambil tersenyum.

Kayaknya neh warung angkringan hotspot bakal dipoenuhin sama abg cewek... abis gimana enggak, penjaga warungnya kayak bertampang model dan artis gitu... Coba ada pelayan ceweknya yang kayak model juga yah...? (kalo bisa yang kayak Luna Maya lah!)

Saat ditanya kenapa baru buka (soft launching) pertengahan bulan Mei, lelaki beranak dua ini mengatakan bahwa sebenarnya mau dibuka secara resmi di akhir bulan Mei. Namun karena pihak pemodal, bapak Nasution dan manajemen akan merenovasi seluruh rukonya menjadi Warung Angkringan yang nyaman, jelasnya.

Fasilitas yang ada selain Hotspot dan Televisi layar dinding (menggunakan Focus Projector langsung ke pesawat TV dan komputer), so kita bisa menikmati nonton bola bareng atau hanya sekedar berselancar di Internet sepuasnya dengan laptop masing-masing.

Adapun pilihan jajanannya yang serba ringan dan murah ini adalah sebagai berikut:

MAKANAN DIJUAL Harga
  • - Nasi Kucing Prembun ---------------------- Rp2.000,00
  • - Nasi Goreng Kebumen ---------------------- Rp2.000,00
  • - Nasi Uduk Sirnoboyo ---------------------- Rp2.000,00
  • - Nasi Kuning ala Nasution ---------------------- Rp2.000,00
  • - Bakwan ala Sidik ---------------------- Rp2.000,00
  • - Tahu Goreng ala Aris ---------------------- Rp2.000,00
  • - Tahu Isi ala mas Dian ---------------------- Rp2.000,00
  • - Tempe Goreng ala Eyang ---------------------- Rp2.000,00
  • - Ubi Goreng Medan ---------------------- Rp2.000,00
  • - Singkong Goreng Jawa ---------------------- Rp2.000,00
  • - Risoles Palembang ---------------------- Rp2.000,00
  • - Tahu Fantasi ---------------------- Rp4.000,00
  • - Pastel Daeng ---------------------- Rp4.000,00
  • - Lemper Isi ala Bali ---------------------- Rp4.000,00
  • - Arem-arem / Bacang ala Medan ---------------------- Rp4.000,00
  • - Lontong Biasa ala Eddy EW ---------------------- Rp2.000,00
  • - Pisang Coklat ala Makcik ---------------------- Rp2.000,00
  • - Pisang Goreng ala Makcik ---------------------- Rp2.000,00
  • - Sate Telur Puyuh ---------------------- Rp2.000,00
  • - Sate Usus Ayam ---------------------- Rp2.000,00
  • - Sate Ampela Ati ---------------------- Rp2.000,00
  • - Combro ala Abi ---------------------- Rp2.000,00
  • - Misro ala Ummi ---------------------- Rp2.000,00
  • - Martabak Telor ala Lulu ---------------------- Rp2.000,00
  • - Getuk Singkong ---------------------- Rp2.000,00
  • - Black Forrest Diana ---------------------- Rp2.000,00
  • - Kubik Donat ---------------------- Rp2.000,00

MINUMAN DIJUAL Harga
  • - Wedang Jahe Prembun ---------------------- Rp3.000,00
  • - Wedang Jahe Susu Kebumen ---------------------- Rp3.000,00
  • - Jahe Madu ala Sirnoboyo ---------------------- Rp3.000,00
  • - Kopi Tubruk ala Eyang ---------------------- Rp3.000,00
  • - Kopi Habbatussauda ---------------------- Rp3.000,00
  • - Kopi Ginseng ala Turki ---------------------- Rp2.400,00
  • - Kopi Susu ala mas Dian ---------------------- Rp2.000,00
  • - Kopi Jahe ala mas Sum ---------------------- Rp3.000,00
  • - Kopi Jahe Susu ala Yugo ---------------------- Rp3.000,00
  • - Jeruk Panas ala Rizal ---------------------- Rp3.000,00
  • - Es Jeruk ala Iin ---------------------- Rp3.000,00
  • - Softdrinks ---------------------- Rp3.000,00


Apalagi dia sedang masa promo, pihak manajemen WAH (Warung Angkringan Hotspot) Nasi Kucing R.I. sedang mengadakan quiz Trivia. Para calon pengunjung bisa menentukan sendiri nama lengkap kepanjangan dari akronim R.I. pada merk Nasi Kucing R.I. (atau NKRI).

Buat komentar dan penjawab terbaik mereka akan mendapat voucher diskon 50% atau senilai dengan Rp.100.000 untuk sepuluh orang.

Contoh :
R.I. = Ridho Ilaahi
R.I. = Republik Indonesia
R.I. = Restu Ibu
R.I. = Rasa Istimewa

Kirimkan e-mail ke bekasikukotaku@gmail.com atau sms ke 081.385.386.583, batas waktu hingga 30 Desember 2009

--------------------------------------------------------------------------------------------
Artikel Nasi Kucing Warung Angkringan lainnya:

Angkringan Dan Nasi Kucing


Mungkin temen2 sekalian pernah denger dari sodara2 atau teman2 yg kuliah di yogya apa itu nasi kucing apa itu angkringan


Angkringan adalah tempat berjualan berbagai macam makanan yang ada di hampir setiap ruas jalan dan gang Jogjakarta. Kalau boleh mendiskripsikan, angkringan itu berwujud seperti sebuah gerobak dorong yang berisi penuh makanan dan jajan, beroperasi di sore, malam dan dinihari dan menggunakan penerangan lampu senthir (kebanyakan) serta temaramnya lampu-lampu mercury jalanan Jogja.

Konsumen angkringan, meski sering dicap sebagai warung rendahan, pada kenyataannya terdiri dari berbagai kalangan. Mulai dari tukang becak, anak2 perantauan, mahasiswa, budayawan dan seniman, karyawan hingga eksekutif kadang tak sungkan menghabiskan malam untuk menyantap makanan dan minum teh jahe di Angkringan.

Perilaku konsumen pun bermacam-macam di sana. Ada yang hanya membeli untuk dibawa pulang, ada pula yang membeli, makan sebentar lalu pulang, namun yang paling sering ditemui adalah membeli, ngobrol, membeli lagi, dan ngobrol lagi di warung angkringan bersama rekan maupun “rekan-rekan” baru yang ditemui dan di kenal di sana. Otomatis, di angkringan tidak ada pembedaan strata sosial, agama maupun ras. Mereka semua sama di keremangan lampu senthir, sebagai sosok anak manusia yang makan dan minum dari tangan penjual yang sama.


Nasi kucing (atau dalam bahasa Jawa dikenal dengan "segå kucing") bukanlah suatu menu tertentu tetapi lebih pada cara penyajian nasi bungkus yang banyak ditemukan pada warung angkringan. Dinamakan "nasi kucing" karena disajikan dalam porsi yang (sangat) sedikit, seperti menu untuk pakan kucing. Nasi kucing adalah sebentuk nasi rames, dengan menu bermacam-macam: tempe kering, teri goreng, sambal goreng, babat, bandeng, usus, kepala atau cakar ayam serta sate telur puyuh, yg semangkin nikmat kalau dibakar dahulu sebentar sebelum disajikan.
Nasi yang disajikan dapat berupa nasi biasa maupun nasi gurih (nasi uduk)dan di dalam porsi yg sedikit tersebut diberi lauk sambal bajak (cabe digoreng dahulu) dan sepotong kecil pindang bandeng goreng. Jika makannya ditemani minuman hangat berbahan dasar jahe (jahe coklat, jahe kopi, dan jahe teh) maka segala sakit kepala - masuk angin akan hilang dengan sendirinya. Di Solo dikenal dengan sebutan Sego Kucing Warung Hiik.
Nasi kucing dikenal di berbagai tempat di Jawa Tengah (termasuk Yogyakarta) dan sangat populer di kalangan mahasiswa karena harganya lumayan murah untuk ukuran kantong anak kos-kosan, selain itu rasanya juga pas di lidah orang Indonesia.


Kiriman Dari: "Agung Prihraharjo"
----------------------------------------------------------------------------------------------
Warung Angkringan ala Batam Jadi Tempat Mangkal Anak Muda
Selasa, 10 Pebruari 2009

Ada yang Mengira Pakai Daging Kucing

Krisis finansial, ternyata masih berbuah manis bagi sebagian warga. Sendy Sinnay, salah satunya. Warung angkringan Wonolopo yang baru ia dirikan sebulan, ternyata mendapat sambutan baik. Kini mereka berencana buka satu lagi di Batam Centre. Seperti apa kisahnya?
RIBUT SANTOSA, Batam
Mejanya berderet di hamparan karpet hitam memanjang di pinggiran parkiran Komplek Sulaiman Plaza, Nagoya, Batam. Penerangannya, hanya mengandalkan sinar lampu ruko di sekitarnya dan sorotan lampu kendaraan yang berseliweran di jalan Teuku Umar, Nagoya. Agak remang-remang, memang. Namun pengunjungnya lumayan ramai. Apalagi saat malam minggu, kadang sampai harus antre untuk bisa dapat meja.
Para pengunjung, terutama anak-anak muda betah berlama-lama nongkrong di warung dengan menu khas warung angkringan di Kota Yogyakarta dan Solo ini, seperti nasi kucing, wedang jahe, mendoan, telur bacem, teh tubruk, ceker bacem, dan lain-lain.
”Tempatnya santai, enak untuk ngobrol,” ujar Kamaruzaman, salah seorang pengunjung yang sampai menunggu 15 menit untuk mendapatkan meja.
Bagi sebagian warga Batam, terutama yang pernah kuliah di Yogyakarta atau pernah tinggal di Kota Gudeg, menu angkringan memang banyak memberi kenangan tersendiri. Harganya sangat terjangkau dan banyak membantu mahasiswa menekan biaya makan sebulan.
”Banyak yang merasa seperti sedang berada di Yogya setelah duduk dan melihat menu masakannya,” ujar Sendy Sinnay membuka obrolan ketika Batam Pos berkunjung ke angkringanya, malam minggu lalu.
Sementara bagi pengunjung yang belum mengenal menu makanan ini, tak sedikit yang penasaran dan mengajukan sejumlah pertanyaan yang membuat Sendy tersenyum. Pernah seorang pengunjung menanyakan soal menu nasi kucing. Pengunjung mengira pakai daging kucing, padahal menu itu hanya terdiri atas nasi, sambel, ikan teri atau telur dadar. Tak ada sedikit pun mengandung daging kucing atau daging yang lain.
Kata beberapa orang Yogyakarta, nasi ini dinamakan nasi kucing karena porsinya yang serba kecil plus ikan dan murah. Ada yang bilang karena ada ikan terinya jadi seperti makanan kucing. Malah ada juga di salah satu blogspot yang bilang, sebutan nasi kucing hanya untuk menghaluskan nama bahwa nasi ini untuk kelas berkantong cekak dan sangat terjangkau untuk pelajar dan mahasiswa. Namun terlepas dari makna nama itu, nama nasi kucing kini sudah cukup dikenal orang.
Pembelinya pun berkembang tak hanya sebatas yang berkantong cekak. Anak gedongan pun banyak yang jadi langganan.
Meskipun banyak mengadopsi menu nasi angkringan di Yogyakarta, namun Sendy lebih suka menyebut warungnya ini sebagai sebuah revolusi angkringan. Tanpa gerobak khas angkringan dan bangku untuk duduk. Semua pengunjung lesehan. Tampil di tengah kota dengan suasana lebih nyaman dan bersih. Murah tapi tidak terkesan murahan.
”Warung angkringan ini adalah warung wedangan khas Jawa seperti di Yogyakarta dan Solo yang sangat terkenal dengan kelezatan, keramahan, serta kemurahannya. Pokoknya kami usahakan sama seperti di tempat asalnya,” ujarnya.
Ditanya soal ide pendirian warung ini, Sendy mengaku warungnya terinspirasi oleh minimnya tempat nongkrong yang asyik, sehat, dan murah di Batam. Sebagai kota yang terus berkembang dan jumlah anak mudanya terus meningkat, Batam masih minim tempat nongkrong untuk anak muda yang terjangkau.
Ia lalu berfikir bagaimana membuat tempat yang asyik, pengunjung yang kebetulan banyak didominasi anak muda bisa ngumpul sama temen-temen sampai larut malem, nyantai, bisa sambil selonjoran, dan rebah-rebahan. Ia akhirnya ingat dengan menu angkringan Jogja yang terkenal murah meriah. ”Lama juga mikir idenya dulu, butuh perjalanan panjang,” ungkapnya.

Untuk mewujudkan idenya itu, lelaki yang juga aktif sebagai MC di sejumlah iven di Batam ini, mulai bergerak mencari dan mensurvei lokasi. Beberapa pemilik tempat yang menarik, ia lobi, hingga akhirnya ia mendapat lokasi di trotoar parkiran Komplek Sulaiman Plaza, seberang Hotel Puri Garden. Tempat sudah, tinggal tenaga kerja. Untuk menyuguhkan rasa masakan yang sama dengan angkringan di Yogyakarta, ia pun menyeberang ke Pulau Jawa mencari tenaga kerja yang trampil.
Setelah semua lengkap, awal Januari ia mulai melaunching warungnya. Namun di hari pertama buka ini, mereka sudah mendapat cobaan. Ia bersama empat anggotanya malah ikut kena razia KTP dan dibawa ke kantor polisi. Kebetulan saat itu polisi sedang gencar menggelar razia di seputaran Nagoya. ”Ini pengalaman tak terlupakan,” ujarnya.
Untungnya setelah didata, mereka pun akhirnya dilepaskan kembali dan uniknya, para anggota polisi yang merazia mereka saat itu, kini malah menjadi langganan di warungnya. ”Mereka malah sering makan di sini bersama temen-temannya,” ungkap Sendy.
Melihat warungnya makin hari makin ramai, ia dan temannya Totok berencana meluaskan usahanya. Mereka kini sedang mencari tempat strategis di Batam Centre. ***


Sabtu, 25 April 2009

NIC's Cafe Tempat Hang Out di Kota Bekasi lama

Cafe,
Cozy Place,
Meeting Point
di Jalur
Mati Suri
Kota Bekasi


Bekasi, dobeldobel.com
Kalau mau tahu dimana tempat enak buat bikin rendezvous (dating or cozy place to hang out) maka NIC's Cafe bisa jadi pilihan. Walau berada di jalur satu arah Kota Bekasi lama (terkenal dengan sebutan Pasar Proyek Bekasi) maka kita bisa meluncur ke jalan Ir. H. Juanda dan menemukannya di sebelah jalur kanan di depan toko buku Multimedia. Hati-hati, biasanya setelah jam 10.00 hingga jam 05.00 pagi dini hari jalur biasanya dibuka 2 lajur. So, kalo mau berkunjung dimana ekspatriat dari Cikarang mau nongkrong di Kota Bekasi dan beberapa pejabat daerah, ya kunjungi saja tempat ini.

Parkir mobil yang sedikitnya 10 mobil dan parkir motor di delakang memang terasa kurang luas, tapi memang umumnya mereka yang nongkrong dan menikmati makan malam di tempat ini biasanya mencari kenyamanan dan ketenangan. So, it's your choice if you want to get a cozy place with serenity and calmly evening in old city of Bekasi...!

Saat senja hari itu, Juam'at tanggal 24 April 2009 kami berdua, (Sidik Rizal dan Dian PP) sengaja menemui manajer operasional, Deddy Effendi, SH. yang kebetulan tugasnya biasa mulai dari jam 15.00 hingga 23.00 wib. Sang manajer muda menyambut kami tersenyum ramah. Kemudian mengajak kami ke lantai atas, melewati desain futuristik interior desain yang menurut Deddy adalah desain bangsa kita sendiri namun nampak seolah kita ada di mini cafe luar negeri. Melewati lantai yang dihiasi kaca dan lampu neon sehingga belum apa-apa kami sudah merasakan nyaman.

Kami pun duduk di meja luar dekat bar, yang terbuka dan bisa melihat ke sepanjang jalan Ir. H. Juanda bila menepi ke pinggirannya. (Alam terbuka di petang hari, memang bikin kita kayak di mana gettu....! dan bagusnya nggak hujan aja!).

Tak berapa lama setelah, bincang-bincang sejenak, sang waiter menawarkan kami minuman. Saya pun memesan minuman Ice Cappucino, sedang mas Dian memesan Hot Cappucino. Mas Deddy sendiri hanya minta agar kopi panasnya yang ada di lantai bawah untuk di bawa ke atas. (wah pertimbangannya apa neh? Apa kopinya terlalu enak untuk dibuang, atau "penghematan" ala manajer F&B pada umumnya... hahahahaha... becanda mas "D")

Kami pun mulai ngobrol ngalor ngidul tentang Amerika Serikat lah (The Library of Congress of US), tentang peluncuran bukunya Kambing Jantan, Raditya sang Kambing, tentang buku baru "Santri Badung" lah, tentang Tinjauan Tata Kota Kota Bekasi, Tentang Jalan Ir. H. Juanda, Tentang wajah saya yang nggak terlalu ganteng lah, tentang caleg "good looking" yang punya peluang lebih besar untuk menang lah... tentang pencalegan mas Deddy di tahun 2014 nanti lah, tentang Mochtar Mohamad lah, tentang Ronny Hermawan, sang caleg yang baru saja bakalan jadi anggota dewan, tentang PKS yang sering ke NIC's cafe lah... sampai tentang Bebek Kesurupan yang ada di seberang NIC's Cafe dan juga tentang sticker dobeldobel.com yang ada wajah saya yang "lumayan ganteng" (inget masih dalam tanda kutip jadi terjemahan sesuai dengan bahasa dan persepsi masing-masing... hehehehe). Inti dari keseluruhan tulisan di atas adalah, kalau mau ngobrol ngalor ngidul dan enak serta merasa nyaman kayak di rumah sendiri.... ya di sinilah tempatnya NIC's cafe, the cozy place to hang out.

But what we are getting from this place, is not only the food and meals that looks yummy but also you can enjoy the lounge and life music. It's nice to spend your time here. After daily routine, and getting relax is a must and you work at Lippo Cikarang Industrial Zone, it is not far from there to get into the old town of Bekasi. Although there are some optional places, such as Bekasi Cyber Park, some of Fast Food Restaurants in Giant Superstore or Metropolitan Mall and Kalimalang Niaga Centre and Bekasi Square or Bekasi Trade Centre, but only the NIC's cafe is the most cozy place to spend the evening.

And sometimes, when the football (soccer) fever takes place, the NIC's provides Watching Soccer League together. And also the company's gathering or annualy party for groups and other occasions.

Pokoknya kalo lo-lo pada mau nonton bola bareng (yang jelas bukan lagi musim duren atau musim Demam Berdarah... tapi musim liga pertandingan sepakbola dunia yaaaah...?) maka nggak usah jauh-jauh ke Jakarta... cukup di bilangan jalan Ir. H. Juanda udah cukup men...! Tempat lumayan luas, suasana sangat mendukung dan yang paling penting... Bekasi masih lumayan sepi dan nyaman buat kita-kita hang out men... Swear ane zuzur... hihihi!!!)

Masalah makanannya jangan ditanya lah... standarnya kafe internasional... (sayang gue belum sempet tahu menu utama dan andalan nih kafe... kita liat aja nanti apa seh yang mau ditawarin sama sang manajer F&Bnya buat kami berdua... hehehehe... ya iya lah... kan kita wartawan kuliner bukan wartawan usaha resto... masak nggak nyicip-nyicip secuil pun... hu'uh?)

Akhirnya kami pun pulang dan menitipkan beberapa stiker dobeldobel.com untuk dipasang di setiap meja NIC's cafe.... kalo anda datang ke sana dan tidak menemui stiker kami dipasang... berarti ada apa-apanya neh sama sang bos... hehehehe!

Dik Rizal