Cari data di web ini

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified twitterfacebookgoogle plusrss feedemail

Iklan Hubungi (021)27101381


Informasi berita tentang wisata kuliner di seluruh Indonesia - Kontak Redaksi: (021)271.01.381 - (021)606.36235, Hotline: 08787.882.1248 - 081.385.386.583

Tampilkan postingan dengan label Khas Jawa Timur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khas Jawa Timur. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 Desember 2009

Soto Lamongan Etan Kelapa Gading

Beda Dari Yang Biasanya, Jauh Lebih Kental dan Lebih Berani


Kelapa Gading, kelanakuliner.com
Setelah menikmati Roti Bakar khas Ropita Aneka Rasa, kelanakuliner.com kembali menyusuri jalan utama Kelapa Gading dan akhirnya menemukan Soto Lamongan Etan. Etan sendiri menurut sang pengelolanya, Roy berarti Enak Tenan. "Biar gampang diingat ya sudah kami jadikan singkatan 'Etan' alias Enak Tenan" ungkap Roy sambil menawarkan sajian khas Lamongan kepada kelanakuliner untuk dicoba.


Pada mulanya saya menganggap, pastilah Soto Ayam Lamongan tak beda jauh daripada yang biasa saya nikmati, tapi ternyata, Soto Lamongan yang dikelola Roy ini sedikit berbeda, terutama, karena tambahan kaldu khusus dan koyanya yang membuat sotonya jauh lebih kental dibandingkan Soto Lamongan yang biasa saya kenal dan nikmati. Tapi justru di sinilah uniknya Soto lamongan Etan, apalagi rasanya lebih kuat dengan bumbu yang lebih berani. Akhirnya saya jadi ingat seorang kolega saya yang membuat program wisata kuliner di televisi dimana dia sering sekali mengatakan, bahwa "Dimana-mana yang asli jelas pasti enak!" Tapi ternyata hal itu tidak tepat. Malah saya berani mengatakan, "Yang asli diberi sedikit inovasi, jelas jauh lebih  nikmat!" untuk sajian khas Lamongan yang sudah keluar dari pakemnya ini.


Menurut pak Roy, sengaja Soto Lamongan Etan disajikan seperti itu agar sesuai dengan lidah orang-orang Jakarta. Soto Lamongan yang lebih mirip dengan Soto Betawi ini memang sengaja dibuat sedikit lebih berkaldu dan kental, tapi bumbu dasarnya masih seperti aslinya  dari Lamongan, ujar Roy kepada kelanakuliner.com. Harga yang patok pun masih terbilang terjangkau, cuma dengan Rp.7.000,- pelanggan bisa menikmati semangkuk soto lamongan plus nasi putih. Istimewanya adalah koya yang terbuat dari krupuk udang yang digepuk hingga halus, ternyata nmasih ditambah beberapa rempah-rempah lainnya yang membuat koyanya bisa dikudap oleh para pelanggan sambil menunggu sajian dihidangkan.

Namun tak nikmat rasanya bila makanan panas ini tidak ditemani minuman dingin. Teh asli poci yang kebetulan waralaba teh hijau juga bisa dipesan di tempat ini. Dan itu semakin manambah nikmatnya santapan Anda.

Anda tertarik ingin menikmati Soto Lamongan "Etan" yang lebih nyamleng dan lebih "manteb" diban ingkan yang biasanya? Kunjungi saja Soto Lamongan Etan di bilangan jalan Kelapa Gading dekat SMA Negeri 45 Jakarta Utara.

Sidik Rizal - dobeldobel.com

Sabtu, 19 Desember 2009

Bebek Goreng Pondok Hijau

Khas Masakan Jawa Timur
April 21st, 2008 by djoko santoso



Bekasi - kelanakuliner.com
Kali ini saya mengutip tulisan dari salah satu senior saya, Mr. Joko Santoso yang telah lebih dahulu bertualang di dunia kuliner. Beriku tkutipan tulisannya yang saya ambil dari blogsnya yang cantik, Lagi Malas Ngeblog. (Namanya aja udah aneh kan?)

Sebagai penggemar masakan Bebek, saya tidak bosan-bosan hunting Masakan Bebek Goreng, terutama seputaran Bekasi.

Bebek Goreng Pondok Hijau Bekasi Timur ini adalah Bebek goreng khas Surabaya, dengan bumbu hitam dan sambal yang pedas. Mantaffff

Rasanya, benar-benar khas Bebek Goreng Surabaya.
Harganya standar, plus minum perorang sekitar 25 ribu.


Tidak bakalan menyesal mencoba bebek goreng ini. Bagi yang tidak suka Bebek, di Restauran ini juga menyediakan menu2 lain yang Khas Surabaya, diantaranya Soto Sulung, Rawon, dll.

Rasanya semua mantaff, terasa kentalnya di lidah…. hemmmmm
Lokasinya berada di Jalan Pondok Hijau (lihat peta dibawah ini). gampang mencapainya dekat jalan Tol.


Jumat, 18 Desember 2009

Pecel Madiun BP, Rujak Cingur Khas Jatim di Kota Bekasi

Menu Serba Hitam Khas Jawa Timur yang Menggugah Selera


Bekasi, kelanakuliner.com
Tak sengaja saya menyambangi sebuah warung makan Pecel Madiun yang ada di Alun-alun Kota Bekasi, samping Bakso Malang Cak Tio. Ternyata Warung Pecel Madiun BP ini pernah ditulis oleh sahabat saya Dian PP, langsung dari sang narasumbernya Budi Purwanto di warung utamanya di dekat exit Pintu Tol Bekasi Timur.

Saya sendiri memang kesulitan mendapatkan makanan khas Jawa Timuran yang selalu berwarna hitam ini. Mulai dari Rawonnya atau yang sering saya sebut sebagai Black Soup ala Eastern Java. Bila pembuatan Rawon (ada yang iga, jeroan, atau daging sapi) biasanya menggunakan kluwek (pucung dalam bahasa Betawi) atau Keluak/Keluwak, atau Buah Kepayang dan dalam bahasa asingnya dikenal dengan nama Indonesian Black Nut, atau Pangium Edule Nut memang memberikan aroma khas dan rasa tersendiri bagi masakan berbahan daging sapi ini. Kemudian sajian lainnya yang juga berwarna hitam namun lezat dan nikmat, yakni Rujak Cingur. Kala yang pertama tadi, si sop hitam diwarnai dengan kluwek, maka, Rujak Cingur berwarna hitam karena bahan bumbu petis udangnya yang tak bisa digantikan dengan Petis udang dari daerah lainnya, demikian ungkap Ibu Diah, istri sang pemilik Pecel madiun "BP", Budi Purnomo kepada kelanakuliner.com


"Entah mengapa makanan khas Jawa Timur banyak sekali yang bernuansa warna hitam, ucap wanita yang berprofesi sebagai pengamat ekonomi dan sering bepergian ke luar negeri ini. Saya sendiri sebenarnya juga heran dengan masakan khas Jawa Timur. Mengapa selalu berwarna gelap dan hitam pekat? APakah mungkin karena ciri khas daerah Jawa Timuran yang identik dengan pakaiannya yang berwarna hitam? Ingat kan pakaian para penari dan seniman Reog Ponorogo? Atau para warok-warok (para jagoan jaman dulu) yang suka sekali berpakaian hitam dengan kaos dalaman belang-belang merah-putih. (Hualah! Apa masalahnya?)

Terlepas dari nuansa kegelapan (baca: hitam) pada setiap makanan khas Jawa Timuran, tapi tak ada satupun yang tidak lezat untuk dinikmati. Justru itu, Rujak Cingur yang berbumbu petis hitam nan pekat adalah kombinasi antara rasa klenyir-klenyir moncong (congor atau cingur atau hidung dan mulut sapi) ini dengan gurihnya Petis udang Surabaya, dan asamnya buah-buahan campuran (itulah sebabnya disebut rujak) dan ditambah bumbu-bumbu lainnya. Hmmm pasti lebih nikmat bila dinikmati pada siang hari bersama minuman dingin khas Jawa Timuran (apaan tuh minuman khasnya?).

Yang jelas bila Anda tertarik menikmati Rujak Cingur dan Pecel Madiun Portable (saya lebih suka menyebut Bumbu Pecel Madiun Portable, karena kemudahannya untuk dibawa kemana-mana dalam sebuah kemasan kotak yang kompak ini). Perlu juga Anda ketahui Paket Kotak Bumbu Pecel madiun merk "BP" ini telah melanglang buana ke manca negara hingga Amerika dan Eropa. (kadang saya berfikir, alangkah baiknya kalau saya adalah sebuah bumbu pecel paket.... sudah bisa ke luar negeri dalam sekejap.... hehehehe, saya sendiri belum pernah ke laur negeri, kecuali keliling Indonesia). Oh iya hampir lupa. bila Anda benar-benar tertarik mencoba Rujak Cingur khas Jawa Timuran, silahkan reservasi di nomor berikut ini 0812.803.6117 atau (021) 703.29.768 dengan Ibu Diah. Atau kunjungi Warung Pecel Madiun dekat Pintu Tol Bekasi Timur sambil belokan ke arah kanan. Dijamin Anda tak kan kecewa dan tak perlu harus memesan ke Jawa Timur, karena semuanya asli Jawa Timuran di warung ini.

Sidik Rizal - kelanakuliner.com




Dan berikut ini kutipan tulisan sobat saya mas Dian PP yang pernah diterbitkan pada edisi sebelumnya:

Ada Kulit Jeruk di Pecel Madiun

Bekasi, Tol Timur Bekasi, kelanakuliner.com.
Eksplorasi pedas kelanakuliner kali ini mencoba menjamah sisi tradisional negeri seribu pulau ini. Beberapa tulisan tentang menu sarapan pilihan sebagian besar warga Jawa Timur, pecel, akan coba diulas dalam melalui blog ini. Penjelajahan dimulai dari satu tempat yang yang dikenal sebagai asal muasalnya makanan ini, walaupun dalam prakteknya, sudah banyak "penyimpangan" yang terjadi (makanya baca sampai tuntas dulu agar tahu). Pecel, rasanya tidak akan mudah dilepaskan dari kata Madiun. Maka penjelajahan kali ini menuju langsung ke orang Madiun yang tinggal di Bekasi untuk mencari jawaban pasti atas keberadaan pecel Madiun ini.

Pecel Madiun, menurut Budi Purwanto, memiliki ciri khas penggunaan turi, kecambah pendek, dan sambel pecel. Selain itu, ciri khas visual yang bisa ditemukan adalah pada cara penyajian yang selalu menggunakan daun pisang, dan cara menuangkan sambel pada racikan nasi dan kulupan. Nasi pecel Madiun, mengutamakan kulupan, dan hanya mensyaratkan nasi. "Jadi, pecel Madiun akan mudah dikenali dari penyajiannya yang menggunakan daun pisang secara berlebih, nasi yang hanya secukupnya, kulupan lebih banyak, serundeng, kering tempe, cacahan mentimun, sambel pecel, dengan lauk peyek, krupuk puli (cap walet), tempe dan tahu. Adapun kulupannya juga menyisakan hal yang khas, yakni dengan kehadiran daun kemangi. Sementara untuk materi kulupannya, menggunakan kacang panjang, daun singkong, daun pepaya, yang diolah dengan teknik tertentu. Daun singkong dan pepaya direbus secara bersamaan sampai matang, ditiriskan sebentar, kemudian langsung disiram dengan air es, agar warnanya menjadi hijau segar. Untuk menjaga kualitasnya, pak Budi bahkan sampai rela membuat kecambah sendiri, dan juga menyediakan ladang pisang, untuk mengoptimalkan pasokan daun untuk pecelnya.

Sementara pengolahan sambel BP juga menarik untuk disimak. Rupanya dari pemilihan bahan, pak Budi mengutamakan kwalitas. Sehingga tak mengherankan jika kacang harus didatangkan dari Tuban, asem jawa dan daun jeruk dikirim dari Madiun, sementara gula merah nya dibeli langsung ke tasikmalaya. Kacang diolah dengan metode sangrai, setelah sebelumnya dipilih kualitas yag terbaiknya. Selanjutnya setelah matang, kacang diuyek agar kulit terpisah dari biji kacang dan terbelah, lantas ditapeni, agar kulit tidak bercampur dengan biji. Selanjutnya, biji kecil yang ada di dalam kacang, dibuang. "Ini bisa membuat rasa sambel menjadi sedikit pait" terang pak budi sambil menunjukkan bagian kacang tersebut kepada kelanakuliner. Kacang selanjutnya ditumbuk, dicampur dengan bumbu2, dan ditambah dengan kulit jeruk yang ditumbuk. Yang disebut terakhir inilah yang menjadi ciri khas pembeda sambel pecel Madiun dari sambel pecel di daerah lain. Pengusaha pecel tiga generasi ini, mengaku jikalau pasokan kacang tubannya mandheg, dia memilih untuk menghentikan dagangan untuk sementara, sampai pasokan kacang pulih kembali. "Kacang Tuban itu, kecil, tapi menthes mas" jelas pak Budi. Tanpa kacang tuban, hasil sambelnya pasti terasa lain. Berkat kontrol kualitas yang ketat, sambel pecel besutan pak Budi telah merambah benua kangguru, dan beberapa negara di Asia.

Menariknya lagi, untuk menyediakan lauk peyek kacang yang benar-benar khas Madiun, didatangkanlah langsung dari Madiun, pembuat asli peyek kacang Madiun. Kacang yang dipakai masih tetap kacang tuban, namun bedanya, tidak ada perlakuan khas, dimana kacang cukup dibelah menjadi dua, dan dicampurkan ke adonan tepung dan tak lupa, rajangan daun jeruk. Peyek hasil gorengan pun juga tak lepas dari qualiti kontrol. "Dua blek besar peyek pernah saya suruh bagi-bagikan saja, karena rasanya yang tidak pas menurut saya" kenang pak Budi.

Penyaji pecel Madiun ternyata tidak selamanya adalah orang Madiun. "Orang jogja bisa saja jual pecel" Mana ada pecel jogja, adanya ya pecelMadiun. Tapi gestuur dan cara penyajian, sudah membuat kita bisa membedakan ini pecel Madiun asli, dan yang itu pecel Madiun made ini semarang. Sambel pecel semarang memiliki citarasa kencur yang cukup kuat. Sementara Sambel pecel Jawa Timur, cenderung menguatkan daun jeruk nipis. Di sinilah "penyimpangan" itu terjadi, ketika tagline yang diusung adalah pecel Madiun, tapi karena yang menjualnya bukanlah orang Madiun, maka terjadilah. Pecel Madiun disajikan dengan daun pisang yang berlimpah, sementara nasinya hanya nyempil di pojok, dengan kulupan yang lebih banyak, kemudian disiram dengan sambel kacang secara nyepret.



Disarikan dari hasil perbincangan dengan Pak Budi Purwanto, pemilik Pecel Madiun "BP" (021)7032.9768. Ditulis oleh Dian Purnama Putra, untuk kelanakuliner.co.cc

Jumat, 30 Oktober 2009

CANGKRU'AN VW Jembatan Empat, Rawalumbu Bekasi

SegO RAKyat, Vokoke Wareg
Berdiri sejak 1828 (ba'da Maghrib) sampe Secapeknya



Bekasi, kelanakuliner.com
Sukakah Anda bila saya beritahu dimana tempat cangkru'an (red: nongkrong dalam bahasa Betawi dan angkring dalam bahasa Jawa Tengah atau nangkring dalam bahasa Sunda) yang paling nyeleneh dan mungkin satu-satunya di dunia yang adanya bukan di Jawa Timur? Ya adanya cuma di Bekasi, tepatnya Jembatan Empat Perumahan Rawalumbu Bekasi. Tepat di depat sebuah distro bergaya konspirasi. Lah?

Kok disebut conspiracy distro and cafe? Kalau distronya yang dikenal bernama Verbad, sedangkan cafenya yang diberi nama Cangkru'an VW maka keduanya mempunyai konsep life style yang sangat bertolak belakang. Coba saja Anda bayangkan, kalau distronya yang juga sebagai salah satu distro yang menjual merk asli Bekasi "Why Not" ini sebenarnya lebih menjuju high profile customer (ngerti kan artinya?)


Distro Verbad Conspiracy memang dijuju untuk target pasar mereka yang suka sekali bergaya unik dan beda dari yang lain namun dengan citra selangit (nggak berlebihan lah kalau saya bilang begitu... memang umunya pelanggannya pada selangit gayanya atau "borjuis" namun masih terjangkau), sementara persis di depannya ada warung makan sederhana yang begitu "low profile" dan "egaliter" (begitu istilah Cak Gogon, sang pemilik distro sekaligus kafe nyeleneh ini menyebutnya) maka untuk mempertemukan keduanya disebutlah istilah Konspirasi (taelah gayanya si Cak Gogon memang benar-benar bikin saya tertawa terbahak-bahak tersenyum geli!)

Tapi ada hal lebih membuat saya betah dan selalu tersenyum di tempat cangkru'an ini, yakni menu masakannya yang bener-bener konyol lucu menurut saya. Mulai dari nama Sego Rakyat plus Sambel Bledheg-nya yang luar biasa ganas pedasnya (ampun mak nyak!) sebagai merk utamanya. Sego Rakyat sendiri sejatinya mirip dengan Sego Kucing khas Semarang atau Solo maupun Jogjakarta, tapi kayaknya porsi ikan asinya lebih gedem (tau kan artinya?) dan bikin kita merem marem! Belum lagi lauk lainnya yang bukan saja bikin kita tersnyum geli tapi juga mau memborong semua (emang boleh apa?) karena saking murah dan nyamlengnya di lidah kita.


Yang lucu banget adalah Jajanan Antikapitalis (busyet deh provokatif banget neh namanya... tapi...  yah tauk sendiri lah, eman g bener kan?) seperti, Risoles atau Sosis Oslo, Saya jadi ingat sama Burger Bathok nya mas Agung. Tapi sepertinya ada perbedaan mendasar dari keduanya, yakni konsep idealismenya, bila yang satu mengangkat makanan barat burger yang dibuat jadi khas Indonesia, sedangkan satunya lagi Cangkru'an khas Jawa Timuran ini mengangkat makanan kahas masakan ibu kita yang mungkin sudah jarang bisa kita temui di resto manapun, demikian bongkar Cak Gogon kepada kelanakuliner.com. Hmmmmm saya pikir bener juga seh!


Terus bagaimana dengan harganya? Huwaduh... setelah saya periksa (dan ini memang tipikalnya saya sebagai orang Indonesia asli kalau membaca menu kayak orang Arab, dari kanan ke kiri.... hehehehehe tau kan artinya?) Ternyata nggak ada satupun sajian khas di tempatnya Cak Gogon dan istrinya mbak Endang ini yang harga sajian makanannya lebih dari selembar uang biru! bener-bener antikapitalis sejati, Rek!

Kalau nggak percaya mendingan langsung aja menggelinding ke lokasi buat Anda yang masih gendut atau meluncur buat Anda yang sudah ramping ke sana (maskudnya apa thoh?). Tepatnya ke Jembatan Empat, dan lihat distro Verbad Conspiracy, Cangkru'an VW.... Hmmm saya pasti berani menjamin Anda akan tersenyum dan kenyang pada saat yang sama, tanpa harus merogoh dan membuka dompet dengan senyum kecut....! Plis deh ah!

Banyak hal unik dan menarik yang bisa mengendorkan syaraf kita bisa kita dapati di tempat ini, tengok pengumuman berikut ini.


tempat ini choesoes oentoek tjangkroe’an
toean poean njang siboek bekerdja
zonder waktoe oentoek memasak
agar soepaja toean poean tida’ spanneng
bergaboenglah oentoek tjangkroek jang bermakna
toen poean pasti akan soeka
sehat djiwa raganja,
pandjang oemoernja
serta moelia
menoeai pahala
menoeai pahala
bergegaslah sebelum kaseb !







Sidik Rizal

Rabu, 21 Oktober 2009

Berburu Pecel Madiun di Tol Timur

Ada Kulit Jeruk di Pecel Madiun

Bekasi, Tol Timur Bekasi, kelanakuliner.com.
Eksplorasi pedas kelanakuliner kali ini mencoba menjamah sisi tradisional negeri seribu pulau ini. Beberapa tulisan tentang menu sarapan pilihan sebagian besar warga Jawa Timur, pecel, akan coba diulas dalam melalui blog ini. Penjelajahan dimulai dari satu tempat yang yang dikenal sebagai asal muasalnya makanan ini, walaupun dalam prakteknya, sudah banyak "penyimpangan" yang terjadi (makanya baca sampai tuntas dulu agar tahu). Pecel, rasanya tidak akan mudah dilepaskan dari kata Madiun. Maka penjelajahan kali ini menuju langsung ke orang Madiun yang tinggal di Bekasi untuk mencari jawaban pasti atas keberadaan pecel Madiun ini.

Pecel Madiun, menurut Budi Purwanto, memiliki ciri khas penggunaan turi, kecambah pendek, dan sambel pecel. Selain itu, ciri khas visual yang bisa ditemukan adalah pada cara penyajian yang selalu menggunakan daun pisang, dan cara menuangkan sambel pada racikan nasi dan kulupan. Nasi pecel Madiun, mengutamakan kulupan, dan hanya mensyaratkan nasi. "Jadi, pecel Madiun akan mudah dikenali dari penyajiannya yang menggunakan daun pisang secara berlebih, nasi yang hanya secukupnya, kulupan lebih banyak, serundeng, kering tempe, cacahan mentimun, sambel pecel, dengan lauk peyek, krupuk puli (cap walet), tempe dan tahu. Adapun kulupannya juga menyisakan hal yang khas, yakni dengan kehadiran daun kemangi. Sementara untuk materi kulupannya, menggunakan kacang panjang, daun singkong, daun pepaya, yang diolah dengan teknik tertentu. Daun singkong dan pepaya direbus secara bersamaan sampai matang, ditiriskan sebentar, kemudian langsung disiram dengan air es, agar warnanya menjadi hijau segar. Untuk menjaga kualitasnya, pak Budi bahkan sampai rela membuat kecambah sendiri, dan juga menyediakan ladang pisang, untuk mengoptimalkan pasokan daun untuk pecelnya.

Sementara pengolahan sambel BP juga menarik untuk disimak. Rupanya dari pemilihan bahan, pak Budi mengutamakan kwalitas. Sehingga tak mengherankan jika kacang harus didatangkan dari Tuban, asem jawa dan daun jeruk dikirim dari Madiun, sementara gula merah nya dibeli langsung ke tasikmalaya. Kacang diolah dengan metode sangrai, setelah sebelumnya dipilih kualitas yag terbaiknya. Selanjutnya setelah matang, kacang diuyek agar kulit terpisah dari biji kacang dan terbelah, lantas ditapeni, agar kulit tidak bercampur dengan biji. Selanjutnya, biji kecil yang ada di dalam kacang, dibuang. "Ini bisa membuat rasa sambel menjadi sedikit pait" terang pak budi sambil menunjukkan bagian kacang tersebut kepada kelanakuliner. Kacang selanjutnya ditumbuk, dicampur dengan bumbu2, dan ditambah dengan kulit jeruk yang ditumbuk. Yang disebut terakhir inilah yang menjadi ciri khas pembeda sambel pecel Madiun dari sambel pecel di daerah lain. Pengusaha pecel tiga generasi ini, mengaku jikalau pasokan kacang tubannya mandheg, dia memilih untuk menghentikan dagangan untuk sementara, sampai pasokan kacang pulih kembali. "Kacang Tuban itu, kecil, tapi menthes mas" jelas pak Budi. Tanpa kacang tuban, hasil sambelnya pasti terasa lain. Berkat kontrol kualitas yang ketat, sambel pecel besutan pak Budi telah merambah benua kangguru, dan beberapa negara di Asia.

Menariknya lagi, untuk menyediakan lauk peyek kacang yang benar-benar khas Madiun, didatangkanlah langsung dari Madiun, pembuat asli peyek kacang Madiun. Kacang yang dipakai masih tetap kacang tuban, namun bedanya, tidak ada perlakuan khas, dimana kacang cukup dibelah menjadi dua, dan dicampurkan ke adonan tepung dan tak lupa, rajangan daun jeruk. Peyek hasil gorengan pun juga tak lepas dari qualiti kontrol. "Dua blek besar peyek pernah saya suruh bagi-bagikan saja, karena rasanya yang tidak pas menurut saya" kenang pak Budi.

Penyaji pecel Madiun ternyata tidak selamanya adalah orang Madiun. "Orang jogja bisa saja jual pecel" Mana ada pecel jogja, adanya ya pecel Madiun. Tapi gestuur dan cara penyajian, sudah membuat kita bisa membedakan ini pecel Madiun asli, dan yang itu pecel Madiun made ini semarang. Sambel pecel semarang memiliki citarasa kencur yang cukup kuat. Sementara Sambel pecel Jawa Timur, cenderung menguatkan daun jeruk nipis. Disinilah "penyimpangan" itu terjadi, ketika tagline yang diusung adalah pecel Madiun, tapi karena yang menjualnya bukanlah orang Madiun, maka terjadilah. Pecel Madiun disajikan dengan daun pisang yang berlimpah, sementara nasinya hanya nyempil di pojok, dengan kulupan yang lebih banyak, kemudian disiram dengan sambel kacang secara nyepret.

Disarikan dari hasil perbincangan dengan Pak Budi Purwanto, pemilik Pecel Madiun "BP"
021-70329768. Ditulis oleh Dian Purnama Putra, untuk kelanakuliner.co.cc