Cari data di web ini

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified twitterfacebookgoogle plusrss feedemail

Iklan Hubungi (021)27101381


Informasi berita tentang wisata kuliner di seluruh Indonesia - Kontak Redaksi: (021)271.01.381 - (021)606.36235, Hotline: 08787.882.1248 - 081.385.386.583

Tampilkan postingan dengan label Nasi Rames. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nasi Rames. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 Mei 2011

Kedai Kenari : Ayam Penyet Jl. Kartini Bekasi

Pernah Coba Ayam Penyet yang bisa Joget di Lidah?
Tapi harganya tidak menggoyang dompet kita?

Ayam Penyet Komplit yang bisa goyangin lidah
Bekasi - bukankelanakuliner.com
Jarang sekali kita jumpai sebuah resto yang bisa mempermainkan indera perasa di mulut kita sehingga terkadang kita bisa mengalami sebuah sensasi unik bahkan kalau perlu sampai trans (seperti kesurupan) sejenak pergi bertualang ke alam imajinasi kala menikmati sajiannya.

Cuma di sini tempatnya
Nah jika Anda hendak merasakan hal yang seperti itu, ini dia rekomendasi kulinerkuliner.com buat satu restoran yang ada di Kota Bekasi. Sajiannya pun terbilang sangat sederhana, cuma Ayam Penyet di warung makan Kedai Kenari. Tapi justru dari kesederhanaan itu, lahirlah sebuah sajian bersensasi unik tapi tetap lezat dan tak asing di lidah kita khususnya warga Bekasi yang setiap hari melewatinya.


terasa lama di lidah, ramah di kantong
Saat mengunyah seporsi ayam penyet dengan sambal dadaknya yang lumayan pedas sehingga bukan cuma kulit saja yang berkeringat, tapi juga seluruh permukaan lidah kita seperti deras mengeluarkan keringat... hahahaha.... apalah namanya, yang jelas rasa nikmatnya seperti tak henti di mulut. Bahkan setelah beberapa jam pulang dari resto yang berlokasi di jalan Kartini Raya Bekasi ini, masih saja sensasi gurih pedasnya tak hilang mudah dari mulut dan lidah saya.

Asyik buat nongkrong berlama-lama
Kalau disuruh berkomentar dengan kalimat sederhana, mungkin tak berlebihan bila saya bilang, rasanya seperti ayam penyetnya sedang berjoget di rongga mulut saya.
Apakah Anda mau mencoba sensasinya ayam penyet berjoget di mulut Anda, silakan datangi dan berkunjung resto yang bernuansa kuning hijau ini yang lokasinya tepat berada di depan masjid tua jalan Kartini. Jangan salah, di sepanjang jalur jalan itu banyak sekali rumah makan, tapi hanya ada 2 tempat yang menyajikan sajian ayam penyet. Salah satunya ya, Kedai Kenari.

Mas Dudi
Warung Kedai Kenari ini dikelola oleh pemuda ganteng yang bernama mas Dudi yang tak lain adalah menantu dari pak Agus pemilik Kedai Kenari. Warung makan yang buka dari jam sepuluh pagi hingga sepuluh malam ini rencananya juga akan membuka gubug-gubug (booth) makanan ringan, seperti zuppa sup dan schottel makaroni yang sekarang sudah berjalan dan dijual pada pagi hari saja.

Sementara ini untuk urusan menu masakan, hanya keluarga pak Agus yang membuat bumbu dan masakan olahannya. "Untuk urusan masakan memang istri saya beserta keluarganya," jelas Dudi, lelaki kelahiran Tasikmalaya tahun 1983 ini saat ditemui di resto sederhananya. "Sedangkan masalah pelayanan dan penyajian adalah tanggung jawab saya bersama adik dari istri saya, yang kuliah di NHI ambil jurusan kitchen," imbuh Dudi yang baru beberapa bulan mengelola rumah makan ini.

Nuansa hijau kuning yang melaparkan
"Kebetulan saya kuliah di NHI Bandung jurusan pastry," papar mas Dudi yang kini dipercaya penuh bapak mertuanya untuk mengelola rumah makan Kedai Kenari. Dia juga berharap suatu saat nanti Kedai Kenari dikenal banyak orang bukan hanya ayam penyetnya saja.

Buruan serbu pas malam hari biar lebih asyik!
Jika anda ingin mencoba sajian lainnya selain ayam penyet khas Kedai Kenari, anda juga bisa mencoba beberapa menu nasi rames aneka lauk-pauk seperti lauk-pauk yang bisa anda makan di rumah.

Tempat ini memang cocok untuk makan siang bersama teman anda di samping juga nyaman untuk sekadar nongkrong minum kopi bersama kolega anda sekaligus makan malam. Jangan kuatir Kedai Kenari mampu menampung sedikitnya tiga puluh dua orang untuk jamuan makan. Anda tertarik dan penasaran ingin mampir, datang dan cicipi menunya pasti dijamin puaaaaaaaasss.....!!!!!!

Sidik Rizal - bekasi-online.com

Jumat, 11 Desember 2009

RM Hj. YAYAH: Prasmanan Terlengkap Sesuai Kantong Pelanggan

Mulai Usaha Bermodalkan 50ribu Rupiah
Hingga Bisa Berangkatkan Haji Ibunda

Bekasi, kelanakuliner.com
Selera umumnya orang Indonesia adalah makan sepuasnya dan bayar semampunya namun mendapatkan suasana. Alasan inilah yang membuat warga asli Bekasi, Hj. Yayah membuka usaha warung makan yang bergaya prasmanan. Kebiasaan gaya prasmanan ini memang biasanya ada di sepanjang jalan Kalimalang Bekasi hingga ke arah Cikarang Kota.

Sementara Warung Makan Hj. Yayah yang berlokasi di awal ujung pintu air Kalimalang belakang Islamic Center ini, bisa sebagai tempat awal menikmati wisata kuliner yang khas asli masakan orang Bekasi asli (bisa jadi Hj. Yayah bisa disebut orang Betawi asli).


Bermodalkan uang limapuluh ribu, kira-kira tahun 80-an, Hj. Yayah yang bernama asli Aliyah ini membuka warung. "Pada saat itu daging sekilo saja masih Rp.15.000,- sekarang kan sudah Rp 45.000,-" bongkar Hj. Yayah saat saya menikmati Nasi dengan Semur Daging Empal dan Sate Udang plus Pete Bakar serta Sambel Uleg Khas Betawi yang lumayan pedas. Hj. Yayah wanita yang bersuamikan H.Yusuf ini mengaku semenjak remaja ia sudah dinikahkan oleh orangtuanya dengan pemuda Yusuf berumur 25 pada saat ia masih berusia 15 tahun, dimana saat itu ia tidak menaruh hati apalagi mengenal cinta kepada calon suaminya dan akhirnya setelah menikah, yang ada hanyalah rasa sayang dan kini perkawinannya telah menghasilkan 4 orang anak laki-laki dan 2 orang anak perempuan.


Semenjak itu, ia hanya mempunyai satu keinginan yakni berdagang makanan. Setelah orang tuanya memberi modal 50 ribu rupiah dan diberi sepetak warung berukuran tak lebih dari 3 x 3 meter persegi di samping usaha bengkel bapaknya. Setelah perjuangannya yang begitu gigih dan tak kenal putus asa, sambil merajut tali kasih sayang bersama sang suami, Hj. Yayah secara bertahap mulai bertambah besar usahanya. Setelah sang orang tua memberikan tanah bekas usaha bengkelnya sebagai usaha rumah makan, akhirnya dia mulai memperluas warungnya dan kini tak kurang sedikitnya 50 menu masakan yang disajikan setiap hari dengan omzet tak kurang dari 3 juta per harinya.


Rupanya usia sang suami tak bisa lebih lama, setelah suaminya H. Yusuf meninggal dunia, usahanya justru semakin besar. Wanita berusia 50 tahun ini kini telah berhasil memberangkatkan haji ibundanya dan haji ba'dal (memberangkatkan haji setelah almarhum) bapaknya dan kedua mertuanya, dan tak kurang dari 16 orang karyawan yang diambil dari keluarganya serta tetangga. Wanita yang suka bercanda dengan gaya khas logat betawi ini, kini tinggal duduk di eja kasir (bukan di kursinya) dan menanti para pelanggan selesai makan dan dalam hitungan detik dia bisa mengkalkulasi harga makanan yang disantap para pelanggannya. Taruhlah pelanggan sepasang remaja yang makan dua potong daging empal masing-masing dan sayur asam serta minuman air mineral, dalam waktu kurang dari 5 detik Hj. Yayah menyebut angka 50 ribu rupiah. Hebat sekali wanita ini dalam menghitungnya.

Saya sendiri bisa diperkirakan sekitar 20 ribuan, makan lengkap dengan es jeruknya. Tapi seperti biasa, gratis. (Hehehehe memang enak jadi wartawan kuliner ya?) Melihat dan memperhatikan para pelanggannya yang bebas memilih sendiri dan menyendok sendiri nasi yang diambil sesuai selera ukuran mereka. Wajar saja bila warung makan sederhana Hj. Yayah ini semakin hari semakin banyak pelanggan yang datang, dan tak kurang mulai dari pejabat pemda Kota Bekasi hingga Kabupaten Bekasi lalu banyak juga pegawai pemda serta orang kantoran di sekitar Kota Bekasi. Banyak pula wartawan media cetak wilayah Bekasi dan wartawan televisi yang datang untuk sekadar meliput rumah makan sederhana bergaya prasmanan terjangkau.


Bila Anda ingin mencoba menu masakan khas Betawi atau khas Bekasi ala Hj. Yayah, seperti Gabus Pucung termasuk makanan Betawi yang nyaris hilang, kemudian ada juga pepesan aneka ikan dan daging sampai dengan menu sayur lodeh atau sayur asam maupun sayur nangka. Jangan kaget harganya hanya 2000 rupiah per porsi sayuran yang Anda pilih untuk dicampurkan ke nasi Anda, mau banyak ataupun sedikit sayurnya harganya tetap untuk setiap sayur pilihan. Pepesannya pun cuma dipatok 3000 perak per bungkus. Khusus untuk daging seperti empal dan ikan goreng bumbu pedas, sate ati ampela atau sate udang dan yang sejenisnya bisa dipatok 5000 per potongnya. Sedangkan sepotong tempe atau tahu goreng cuma 1500 perak. Untuk minumannya bervariasi mulai dari yang 1000 rupiah hingga yang termahal 5000 perak.

Pokoknya bila Anda mau makan enak dan bebas memilih menunya dengan uang yang terbatas, Anda bisa langsung datang ke Warung Makan Hj. Yayah di pertigaan jalan raya Irigasi Kalimalang belakang Islamic Center Bekasi atau bisa menghubungi nomor (021)9905.0162 - 9989.0477 untuk reservasi.

Sidik Rizal - dobeldobel.com

Senin, 12 Oktober 2009

RM Khas Jawa Tengah: Tongseng Kambing Kurma


Mulai dari Tongseng Kambing Kurma, Tengkleng Kambing, Gudeg Jogja hingga Nasi Liwet, semuanya Memang Beda



Bekasi, kelanakuliner.com
Inovasi rasa dan bumbu dalam dunia kuliner tak selamanya baru sama sekali. Salah satu kelana kuliner yang pernah temukan adalah masakan olahan dari daging kambing. Di samping masjid raya Al-Barokah Alun-Alun Kota Bekasi, ada Rumah Makan yang menyajikan menu makanan yang sedikit berbeda dengan sekitarnya, tapi mungkin tidaklah unik buat budaya orang Timur Tengah. Menu unik tersebut adalah Tongseng Kambing Kurma.

Bagaimana rasanya masakan sarat kolesterol ini ditambahi kurma dalam bentuk sirup itu? Menurut sang pemilik rumah makan, Hj. Yusuf yang bernama asli Hj. Ummi Salamah, buah kurma sejatinya dikonsumsi biasanya oleh orang Arab (Timur Tengah) saat bersamaan mereka makan kambing. Berdasarkan pengalaman dan budaya orang timur tengah, mereka termasuk penggemar makanan kaya kolesterol seperti Kambing Panggang, Sop Kambing dan segala olahan masakan dari kambing, namun jarang sekali mereka terkena penyakit tekanan darah tinggi.
Setelah diteliti ternyata kebiasaan mereka adalah menkonsumsi kurma dan madu secara bersamaan, termasuk herbal-herbal lain.

Karena itulah, atas saran seorang teman, saya mencoba untuk membuat Tongseng Kambing Kurma, dengan sesendok sari kurma di setiap porsi tongseng yang saya sajikan buat pelanggan akan menetralisir segala racun dan sumber penyakit yang datangnya ada pada daging kambing. Jadi kini orang-orang yang takut makan kambing, tak perlu kuatir lagi. Mereka kini bisa bebas makan serta menikmati tongseng kambing kami dan silakan periksa sendiri efeknya pada kesehatan tubuh.

Hj. Yusuf, wanita kelahiran Solo, 27 Oktober 1946 yang memiliki tanah lebih dari 1800 meter per segi ini, memang sudah diajarkan dunia usaha semenjak dirinya masih kecil oleh ibundanya. Perempuan yang bersuamikan H. Yusuf Zubaidi ini, membuka warung makan khas Jawa Tengah ini setelah ia menyewakan halaman depan rumahnya untuk warung serupa. Setelah selesai masa kontraknya, maka dia berinisiatif untuk membuka usaha sendiri, di samping mengisi kesibukan di masa pensiunnya semenjak suaminya meninggal, di samping itu sangat menikmati usaha kuliner dimana saat mengawasi karyawannya langsung memasak sajian khususnya itu.

Bila pelanggannya yang menggemari masakan Gudegnya, dapat dipastikan mereka kebanyakan adalah pelanggan yang jauh-jauh datang dari wilayah perumahan di Bekasi Utara, Harapan Indah, Bekasi Selatan, ungkap Hj. Yusuf berpromosi. Ibunda dari 3 orang putra putri Ir. Ahmad Syaifuddin, Dra. Atik Solihati, SH. dan Andi Syahrul Adi ini memfokuskan diri pada makanan khas Jawa Tengah, seperti Solo, Jogja atau daerah lainnya.

Untuk Tengkleng sajian khas RM Jawa Tengah, memang mempunyai rasa agak beda lain dari biasanya. Kalau Anda ingin merasakan Tengkleng khas Solo yang dicampur Kurma atau Madu, bisa Anda pesan. Namun biasanya yang disajikan adalah Tongseng, karena Tongseng lebih berasa manis.

Tertarik mencoba Tongseng Kambing Kurmanya RM Jawa Tengah milik ibu Hj. Yusuf? Anda bisa menghubungi pesanan di no. 081389.510.263 atau 0897.1441.49 atau bisa langsung berkunjung ke Alun-Alun setelah Masjid Raya Al Barkah Kota Bekasi, bila Anda datang dari arah kantor Polres Metro kota Bekasi atau RSUD.

Menu yang disajikan adalah:
1. Soto Kwali Daging Ayam... Rp.7.000,-
2. Soto Campur Daging Ayam... Rp. 7.000,-
3. Tengkleng Kambing... Rp. 13.000,-
4. Tongseng Kambing Kurma... Rp. 17.000,-
5. Tongseng Kambing Solo... Rp. 15.000,-
6. Nasi Gudeg Komplit... Rp. 15.000,-
7. Paket Nasi Veteran A (Nasi Liwet, Ayam selembaran) Rp. 10.000,-
8. Paket Nasi Veteran B (Nasi Liwet, Paha/Dada Ayam) Rp. 12.000,-

- Nasi putih..... Rp. 2.000,-
- Tahu Bacem..... Rp. 1.000,-
- Tempe....... Rp. 1.000,-

Minuman yang disajikan adalah aneka softdrink, es jeruk, es teh manis, jeruk hangat dll.

Sidik Rizal

Rabu, 16 September 2009

Pecel Pincuk GARENG : Makanan Ponorogo Kampung Dua Bekasi

Rasa Nikmat, Harga Merakyat
Pecel Pincuk, Sate Ayam Ponorogo Khas Gareng, Nasi Pindang Gareng, Nasi Daging Bumbu Lapis, Es Dawet Khas Gareng, Nasi Lodeh Tiwul


Bekasi, kelanakuliner.com
Lokasi strategis di persimpangan akses ke dan dari banyak jalan utama (propinsi atau tol) memang menjadi andalan dari sebuah usaha apapun bentuknya. Kini tinggal bagaimana menciptakan LOKASI strategis (PLACE) dan mudah diakses dari segala penjuru itu menjadi sebuah PASAR dengan mengkombinasikan bauran pasar lainnya seperti Promosi, Produk, Price (harga) .

Demikian usaha resto dan cafe Pecel Pincuk GARENG yang sudah memiliki dan melengkapi kesemuanya dalam memulai usaha baru bidang kuliner. Yang jadi pertanyaan buat kebanyakan orang termasuk diri saya adalah, mengapa usaha resto & cafe ini dibangun dengan branding tokoh atau maskot seorang ponokawan (tokoh badut putra keluarga Semar dalam dunia pewayangan Jawa) dengan bernama Gareng?

Saya mencoba mencari tahu langsung dari sang pemilik Yulinarwita. Saat ditanya wanita kelahiran Ponorogo, 19 Juni 1971 ini mengatakan bahwa untuk masalah pengelolaan resto kafe ini hanya suaminyalah yang menjalaninya.

Bahkan mulai dari desain interior, pembuatan logo gambar Gareng hingga penataan ruangan, sound system hingga main musik organ tunggal sendiri serta persiapan keseluruhan dilakukan oleh sang suami, Karyanto dan adik lelaki kandung suaminya yang akrab dipanggil dengan nama kesayangan "Gareng", atau bernama asli Haryanto Suparto.

Dan dari lelaki kelahiran Jakarta 27 Juli 1972 inilah nama resto kafe ini diambil, yakni "Gareng". Menurut Yanto sang kakak, bahwa adiknya, Gareng ini, termasuk orang yang easy going dan mudah bergaul, demikian penjelasannya tentang adiknya yang karyawan swasta sebuah perusahaan transportasi (kargo).

Nama Gareng sendiri nama sosok tokoh tradisional yang cukup populer tanah Jawa sebagai tokoh yang "slank" (slenge'an) atau konyol namun masih bisa diterima oleh kalangan muda modern. Konsep kombinasi modern dan tradisional inilah yang menjadi dasar didirikannya resto cafe Pecel Pincuk Gareng.

Kecermatan mengamati kondisi pasar oleh Yanto, sang pensiunan dini dari Departemen Keuangan bagian manajemen sistem informasi Inspeksi Pajak ini, membulatkan tekadnya bersama istri dan adik kandungnya untuk membuat rumah makan bergaya resto kafe modern dengan menu makanan tradisional, bahkan kalau perlu mengangkat penuh makanan kampung yang ada di pelosok kampung yang belum populer sama sekali. Bayangkan saja, bagaimana dia mengangkat Pecel Pincuk (lebih dikenal dengan nama Pecel Madiun) sebagai makanan primadona Resto Kafe ini dan jangan heran bila harganya seporsi pecel pincuk cuma dibandrol Rp. 9.000,- (apa nggak gila tuh.... harga murah namun suasana cozy and modern banget, frens!)

So yang mau dijual oleh Yanto sebenarnya bukan sekadar menu makanan tradisional tapi lebih kepada taste, dan kebanggaan kepada budaya kuliner tradisional. Kurangnya keseriusan orang-orang mengangkat makanan tradisional daerah ke level lebih elite seperti halnya waralaba makanan barat seperti McDonald dan lainnya, jelas Yanto lelaki kelahiran Ponorogo, 20 Mei 1970 ini kepada kelanakuliner.com

Di samping itu kecenderungan orang modern yang mulai memilih makanan sehat berupa sayur-sayuran khususnya yang tradisional semakin hari semakin meningkat, jadi alasannya memilih Pecel Pincuk sebagai primadona dan strategi image branding (pencitraan merk).

Karena kandungan makanannya yang murni (alami) sayuran seperti halnya makanan tradisional dari daerah lain seperti gado-gado, karedok atau urap. Tapi perbedaan utamanya adalah bumbu sausnya yang khas Ponorogo dan kombinasi dengan Madiun berupa bumbu kacang yang disangrai dan bukannya digoreng, sehingga jauh lebih sehat dan lebih rendah koresterol.

Suami dari Yuli ini menambahkan bahwa di Jawa Timur sendiri ada banyak jenis pecel di setia daerahnya, mulai dari Pecel Madiun, Pecel Ponorogo, sampe Pecel Surabaya. Bahkan di satu daerah asalnya saja seperti Ponorogo, setiap bumbu pecel dari masing-masing warung memiliki rasa yang berbeda. Karena itulah dia memberi nama pecelnya bukan nama daerah, justru Pecel Pincuk (pincuk artinya lipatan daun pisang dengan lidi sebagai alas wadah makan) Khas Gareng.

Bila makanannya sudah unik dan asli dari pedalaman (busyet masak istilahnya segitu amat... mungkin maksudnya adalah pelosok kampungnya) di Ponorogo sana, maka minumannya pun Yanto berusaha membawa asli kampung kelahirannya sana, seperti Es Kelapa Muda Frambozen. Atau Es Dawet khas Ponorogo atau dikombinasi dengan daerah Madiun. Wah kalau Anda merasakan apa yang saya rasakan dari kedua menu masakan yang disajikan mereka untuk saya, pasti ngiler deh. Menu sehat Nasi Pecel Pincuk dikombinasi Es Kelapa Muda Frambozen.

Padahal sebelumnya saya sudah merasakan kesegaran Es Dawet khas Gareng, dan saya anggap sebagai appetizer alias pembuka selera hehehehehe....!
Asal Anda tahu saja, Es Kelapa Muda Frambozennya ini, khusus sirupnya didatangkan langsung dari desa kelahiran pengusaha muda ini dan tidak mudah didapatkan di daerah lain seperti Bekasi atau Jakarta.

Menu utama primadona, Nasi Pecel Pincuk pada awal tampilannya saya kira rasanya mungkin nggak beda jauh dengan pecel pada umumnya. Namun rasa bumbu kacangnya ditambah kering tempe dan daun kemangi serta pedasnya yang pas di lidah saya memang "Benar-benar enak!" (ngikutin kata favoritnya Bara Pattirajawani).

Ada peyek kacang yang sangat akrab dengan gigi lunak saya, hmmmm renyah dan gurih. Sayur-sayurannya yang hijau mengundang hasrat diri mengunyah habis makanan sehat ini hingga bumbu terakhir. Sayang bumbu kacangnya kurang begitu banyaknya yang ada di piring beralaskan daun pisang itu. Tapi saya yakin, bila Anda mau minta tambah bumbu kacang khas Ponorogo yang disangrai itu, tinggal minta pada sang waiter berseragam batik.

Ada menu utama lainnya, misalnya Nasi Daging Bumbu Lapis dan Nasi Pindang Gareng. Menu ini biasanya disajikan di daerah Ponorogo sebagai makanan khas untuk upacara syukuran tertentu. Karenanya ia ingin menu ini diangkat sebagai salah satu menu andalan, dimana di daerahnya sendiri hanya bisa dijumpai pada masa-masa tertentu saja saat ada hajatan atau perhelatan khusus di perkampungan ponorogo.

Bila Nasi Daging Bumbu Lapis biasanya bisa dijumpai di perkotaan Ponorogo, maka Nasi Pindangnya it lebih sering dijumpai di pedesaan pelosok Ponorogo. Bahan pokok Pindangnya sendiri adalah daging sapi dan sandunglamur, atau cincangan daging sapi yang banyak mengandung lemak (mirip sirloin kali yah?)

Kemudian Nasi Lodeh Thiwul, kombinasi sayur lodeh ditambah singkong gaplek kukus yang diparut, pastinya rasanya akan memberikan sensasi tersendiri buat lidah orang Bekasi. Yanto mengungkapkan bahwa sat ini masyarakat kita sudah melupakan makanan tradisional thiwul, yang dibuat dari gaplek singkong ini, maka keinginannya yang kuatlah memilihnya untuk menjadikan Nasi Lodeh Thiwul sebagai sajian utama andalan.

Dan tak ketinggalan Pia-pia Pecel (kalau di Surabaya namanya Ote-ote). Makanan khas Jawa Timuran yang seripa dengan bakwan di daerah lain ini, memang khas daerahnya dan biasanya dimakan dengan bumbu pecel sehingga jauh lebih nikmat disantapnya.

Resto Cafe yang baru dibuka tgl 15 Agustus dan rencananya ada acara grand launchingnya dalam waktu dekat ini, menawarkan segala makanan tradisional kelas kampung yang disajikan dengan taste atau selera internasional, demikian ujar Yanto dan diamini oleh adiknya, Gareng. Keluarga kakak beradik Yanto ini memang merencanakan akan mengundang anak yatim untuk acara grand launchingnya saat di bulan puasa. Termasuk mengkhususkan jam operasi hingga lebih malam buat mereka yang hendak bersahur di samping menu ta'jilan untuk berbuka di sore harinya.

Resto Cafe yang mempunyai fasilitas Mushola, Karaoke dan Musik live Organ Tunggal ini mempunyai kapasitas sekitar 100 orang duduk dan 20 orang berdiri bila hendak digunakan acara pesta khusus (special party), karena konsep kafe yang ditawarkan memang pas buat Anda yang mau mengadakan kegiatan dengan suasana rumahan tradisional khas Jawa Timuran.

Apalagi dengan lahan parkir yang luas dan mampu menampung sedikitnya 20 kendaraan roda empat. Bila ada acara event khusus sesuai permintaan pelanggan, maka tanah lapang di samping kafe ini pun bisa dijadikan parkir dengan kapasitas lebih dari 50 mobil.

(Sidik Rizal - dobeldobel.com)

Menu Utama
*.- Nasi Pecel Pincuk Gareng, Rp. 9.000,-
*.- Pia-pia Pecel, Rp. 8.000,-
*.- Sate Ayam Ponorogo Khas Gareng, (+Nasi/Lontong) Rp. 15.000,-
*.- Nasi Daging Bumbu Lapis, Rp. 15.000,-
*.- Nasi Pindang Gareng, Rp. 15.000,-
*.- Nasi Lodeh Thiwul, Rp. 8.000,-

Appetizer/Dessert
*.- Tape Goreng Keju Khas Gareng, Rp. 6.000,-
*.- Pisang Goreng Coklat, Rp. 6.000,-
*.- Puding Almond, Rp. 7.000,-

Minuman/Drinks
*.- Es Dawet Madiun khas Gareng, Rp. 6.000,-
*.- Es Kelapa Muda Frambozen
*.- Bandrek
*.- Kopi Hitam (Black Coffee)
*.- Capuccino Coffee



Pecel Pincuk GARENG
Jl. Patriot No. 31 (Omega) Kampung Dua,
Kalimalang arah Kranji, Bekasi
Reservasi:
Telp. (021) 7085.3250 atau
0858.8231.3839

Penilaian untuk Menu Utama
Nasi Pecel Pincuk =
4,5 bintang untuk rasa makanan
4,5 bintang untuk tampilan makanan
3 bintang untuk tekstur bahan makanan
TOTAL: 12 bintang, RATA-RATA 4 untuk skala 1-5




Senin, 03 Agustus 2009

Soto Kudus 18 Hj. Noer: Populerkan Sate Ayam Ponorogo Khas Bekasi

Datangkan Ahli Sate Senior Langsung dari Ponorogo
Soto Kudus, Sate Ponorogo, Es Terong Belanda, Es Lidah Buaya dan Rumput laut

Bekasi, kelanakuliner.com
Mendengar nama daerah Ponorogo mungkin Anda langsung terbayang dengan Reognya. Lalu pernahkan Anda mengetahui ada makanan apa yang paling populer di daerah itu? Belum pernah tahu, tapi bagi Anda yang pernah berkunjung pastinya tahu bahwa makanan yang paling populer di sana adalah sate ayamnya. So? Apa istimewanya Sate Ayam Ponorogo? Apa satenya lebar-lebar selebar topeng reog? hehehehehe, penasaran kan?

Mulai dari bentuknya dulu saudara-saudara... Gue perhatiin bentuk Sate Ayam Ponorogo mungkin agak mirip dengan sate ayam daerah lain, tapi bila kita teliti dibandingkan dengan sate ayam terkenal dari daerah yang tak jauh dari Ponorogo, maka akan kelihatan perbedaan mendasarnya.

Menurut H. Gunarto, pemilik dari RM sederhana Soto Kudus 18, Hj. Noer, bahwa Sate Ayam Ponorogo terdiri dari beberapa kelompok dalam setiap tusukan jenisnya. Pengelompokan ini memang tidak dilakukan pada sate ayam daerah lain. Misalnya kelompok sate dari kulit ayam, kemudian sate dari jeroan dan terakhir sate daging ayam. Pemisahan ini bagi gue sih nggak masalah, tapi mungkin ada benernya juga, karena dengan pengelompokan kelas daging, jeroan dan kulit ayam, maka akan membuat kita (sebagai pelanggan) bisa memilih sesuai dengan selera.

H. Gunarto yang memiliki 3 orang putri ini menambahkan, Sate Ayam Ponorogo di tempat kami ini juga dikerjakan secara resik dan higienis oleh ahlinya pembuat sate, pak Untung namanya yang khusus saya datangkan dari Ponorogo dan saya beri gaji lumayan tinggi, ungkapnya tanpa berlebihan. Saking ahli dan cepatnya pak Untung bekerja mengolah pengirisan daging ayam, membuat saya ngeri melihatnya ketika itu. Bagaimana dengan cepatnya ia mengiris potongan dagi ayam di atas pisau tajam yang dibuat sedemikian rupa tetap berdiri. Saya nggak bisa bayangin kalau saja jari atau kukunya terkena sayatan pisau itu, ngilu rasanya, ujarnya sedikit ngeri.

Namun hasil potongan sate yang rata-rata memang agak tipis dan lagi membuat satenya jadi tambah lunak dan empuk hasilnya setelah proses pembakaran. Setelah itu barulah Sate Ayam mentah itu dikelompokkan sesuai jenisnya. Jeroan, Kulit dan daging.

Dan Pak Untung, sang koki andalan RM Soto Kudus 18, Hj. Noer ini, juga merinci bahwa bumbu Sate Ayam Ponorogo biasanya dibuat dari kacang tanah yang disangrai (bakar kering) tanpa minyak goreng. Inilah yang membuat bumbu kacang sangrai jauh lebih sehat daripada bumbu kacang daerah lain, demikian ujar lelaki asli kelahiran Ponorogo yang telah lebih dari 40 tahun berdagang sate sejak ia masih remaja belum menikah.

H. Gunarto, juga mengatakan, kacang-kacangnya yang dipilih pada saat mau disangrai harus dikupas dulu kulit arinya, sehingga menghasilkan kacang sangrai yang bersih, jadi saat diuleg atau diblender halus maka warnanya jauh lebih terang dan rasanya tentu sensasi bakaran, yang matang bahkan bisa dikudap seperti cemilan dan tak cepat basi. Gue sendiri ngerasain gimana gurihnya kacang sangrai yang sudah digerus halus siap dicampur air untuk jadi bumbu sate, hmmmmm seperti enting-enting... tahu kan permen enting-enting dari Kacang **R*** (iklan nggak boleh).

Keunikan yang disajikan oleh RM yang terletak di depan Giant Jatiasih ini juga pada minuman istimewanya, yaitu Es Lidah Buaya Rumput Laut, seperti yang diungkapkan Hj. Noer, pengelola rumah makan sekaligus istri H. Gunarto. Ada juga minuman andalan lainnya yakni Es Terong Belanda yang dibuat dari blenderan buah terong Belanda asli.

Sesaat saya merasakan minuman jus Terong Belanda, memang terasa manis madu dan getirnya sedikit. Justru getirnya itulah yang memberikan khasisat jamu sesungguhnya. Kalau di tempat lain, kemungkinan sekali Es terong Belandanya dibuat dari sirup industri pabrikan, jadi tidak orisinal dong dan tidak alami tentunya, kelas Hj. Noer sambil meminta gue ngabisin tuh minuman sehat. Konon katanya minuman jus terong Belanda ini bisa menurunkan kadar kolesterol jahat setelah makan makanan berkolesterol tinggi. Huwaduh... pas banget neh buat makan sop buntut atau sate... bisa aja ya mereka berdagang....!

SATU-SATUNYA SATE PORNOROGO ASLI DI BEKASI
Perapatan Komsen makin hari makin rame aja buat nyari tempat jajanan kuliner. Kalo lo suka keliling-keliling muterin Kota Bekasi dan Jakarta, terus gue suruh cari makanan unik misalnya seperti SATE PONOROGO, pasti lu bakalan susah ngedapetin, kecuali lu udah dapat bocoran contekan gue dan terus main ke pertigaan komsen Jatiasih pas depan Giant, dan di sana ada RM sederhana berbaliho kecil bertulisan Soto Kudus 18, Hj. Noer.

Ya, di tempat ini doang gue bisa dapetin Sate Ponorogo. Seperti yang dijelaskan di awal, bukan hanya asli Sate Ponorogo, tapi yang mengolah dan masak alias membakarnya pun arek Ponorogo Asli.

Sate Ponorogo yang diolah pak Untung ini menurut cerita sang bos, H. Gunarto, saat memotong daging ayam saja tampak "mengerikan" (Waduh apanya yang mengerikan? Apa sambil makan beling waktu motong ayamnya?

Bukan, jelas H. Gunarto, tapi saat mengiris-ngiris daging ayam yang hendak disate, menggunakan pisau sangat tajam yang dipasang terbalik di atas kayu, sementara pak Untung, yang sudah puluhan tahun mengolah sate ayam ini, hanya mengayun-ayunkan potongan daging ayam di atas pisau tajam itu. Hiihhh, melihatnya saja sudaj ngeri, bagaimana kalau sampai tangannya teriris karena terpeleset, (Kalau seperti itu berarti nggak pakar dong tuh si tukang sate ayam).

Lalu keunikan lainnya adalah bumbu kacang satenya yang bukan saja pilihan teliti tapi juga cara pengolahannya yang tidak menggunakan minyak goreng, melainkan dengan disangrai. Bila kacang yang digoreng justru menambah kadar lemak kolesterolnya, maka dengan sistem sangrai (panggang), bumbu kacang tentunya jauh lebih sehat. Dan juga aromanya yang lebih harum dan rasanya pastinya lebih gurih dan khas. Inilah yang membuat Sate Ayam Ponorogo sangat dikenal unik, tegas H. Gunarto.

Lelaki yang masih bekerja di satu perusahaan industri besar ini, memang mengakui bahwa ia hanyalah sebagai penasehat saja dalam usaha kuliner yang dikelola istrinya H. Noer. Usaha Resto sederhananya ini pun diberi nama dengan sebutan Hj. Noer, nama istrinya. Dengan kekuatan pelayanan sebanyak 2 orang karyawan di RM, dan 1 orang juru masak utama dan 2 asistennya, H. Gunarto berani mengjklaim bahwa mereka akan memberikan kepuasan tersendiri buat setiap pelanggannya.

Sebagai contoh, untuk makanan khas Sate Ayam Ponorogo yang proses pembuatannya begitu ketat diawasi dan diuji oleh istrinya. Sehingga setiap makanan yang siap dijual pasti harus melalui proses seleksi yang tak singkat tentunya. Termasuk untuk minuman yang disajikan oleh RM ini, Es Lidah Buaya dan Rumput Laut, minuman kesehatan yang sangat menyegarkan ini memang pantas dapat 4 bintang dari skala 6. Karena di samping nikmat tapi juga bisa mengurangi atau menggerus (merontokkan) kolesterol jahat dengan kandungan seratnya yang tinggi.

SidikRizal-dobeldobel.com

A. Selayang PandangTentang Reog Ponorogo Menurut salah satu versi cerita rakyat yang berkembang di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, pada suatu ketika Raja Bantar Angin, Kelana Sewandana, ingin melamar seorang puteri dari Kerajaan Kediri, Dewi Sanggalangit (dalam versi yang lain disebutkan Dewi Ragil Kuning). Akan tetapi, dalam perjalanannya Raja tersebut dicegat oleh Singobarong penjaga hutan Lodaya. Pasukan Singabarong terdiri dari merak dan singa, sedangkan dari pihak Raja Bantar Angin dikawal oleh patih Bujanganomdan pasukan warok (pria yang memiliki ilmu kanuragan dengan ciri khas pakaian serba hitam). Pertempuran dua pasukan tangguh inilah yang dianggap sebagai salah satu sumber rujukan bagi pertunjukan tarian Reog Ponorogo. Pertunjukan Reog biasanya terdiri dari beberapa adegan. Adegan pertama adalah tarian pembuka, yang menampilkan 6-8 lelaki dengan pakaian hitam dan muka (atau topeng) yang dipoles warna merah. Para penari ini menggambarkan sosok singa yang marah. Setelah para lelaki pemberani tersebut, berikutnya adalah tarian yang dibawakan oleh 6-8 perempuan atau bisa juga lelaki yang didandani mirip perempuan yang menaiki kuda kepang (kuda-kudaan dari anyaman bambu). Fragmen kedua adalah inti dari tarian Reog yang bergantung pada kondisi di mana seni Reog ditampilkan. Jika pertunjukan berhubungan dengan pernikahan, maka yang diekplorasi adalah adegan percintaan. Sedangkan untuk hajatan khitanan, sunatan, maupun memperingati hari besar nasional biasanya yang ditonjolkan adalah fragmen keperwiraan. Bagian terakhir adalah singabarong, yaitu atraksi di mana seorang penari memakai “topeng” berbentuk kepala singa dengan mahkota yang terbuat dari bulu-bulu burung merak. Berat topeng ini bisa mencapai 50-60 kg dengan ukuran yang cukup besar. Uniknya, topeng ini dimainkan hanya dengan mengigit sebilah kayu yang terpasang di bagian belakang topeng. Kemampuan membawakan topeng ini, selain diperoleh dengan latihan yang berat, juga dipercaya diperoleh dengan latihan spiritual, seperti berpuasa dan bertapa. Wisatawan yang tertarik menonton pertunjukan Reog dapat mengunjungi agenda pertunjukan yang sifatnya tahunan. Kesenian Reog biasanya diselenggarakan pada tiap perayaan hari kemerdekaan Indonesia (tanggal 17 Agustus) dan perayaan Garebek Suro yang bertepatan dengan hari jadi Kota Ponorogo (tiap tanggal 1 Muharram/tahun baru Hijriah). Agenda tahunan tersebut bisa berupa pertunjukan biasa atau Festival Reog Nasional, yaitu perlombaan kesenian Reog dari seluruh Indonesia. B. Keistimewaan Pertunjukan Reog biasanya diselenggarakan di lapangan atau di jalanan karena jumlah penari dan ekplorasi pertunjukan yang memerlukan ruang yang cukup luas. Di arena pertunjukan Reog, penonton bisa menikmati prosesi pertunjukan yang dipenuhi ritual mistis. Misalnya saja, sebelum pertunjukan dimulai, warok (sebutan bagi ketua kelompok Reog) menggelar jampi-jampi memohon kelancaran pertunjukan. Tak jarang di tengah-tengah tarian para penari kesurupan roh halus, sehingga menambah heboh jalannya pertunjukan. Meskipun umumnya tarian Reog memiliki alur yang jelas, akan tetapi adegan demi adegan dalam seni Reog biasanya tidak mengikuti skenario yang tersusun rapi. Di sini selalu ada interaksi antara pemain dan warok (dalam hal ini, warok juga menjadi dalang pertunjukan), serta interaksi antara penari dan penonton. Sehingga, yang terpenting dalam pementasan seni Reog adalah memberikan kepuasan kepada penontonnya. C. Lokasi Kesenian Reog hampir merata diselenggarakan di seluruh Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Akan tetapi, untuk tempat dan waktu pertunjukan yang bersifat rutin, wisatawan dapat menikmatinya di Ibukota Kabupaten Ponorogo. D. Akses Untuk mencapai kota Ponorogo, wisatawan dapat menempuh perjalanan melalui Kota Surabaya. Dari Ibukota Provinsi Jawa Timur ini, kota Ponorogo berjarak 200 km ke arah barat-daya. Wisatawan bisa menumpang kendaraan umum (bus) ataupun kendaraan pribadi. E. Harga Tiket Menikmati kesenian Reog tidak dipungut biaya. F. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya Festival Reog Nasional biasanya diselenggarakan selama beberapa hari karena banyaknya peserta baik dari dalam maupun luar kota Ponorogo. Oleh sebab itu, bagi wisatawan yang membutuhkan penginapan bisa menyewa hotel yang tersedia di beberapa tempat di kota ponorogo